Kalau Perlu, Ujian Tidak Usah Diawasi

Ingat kantin kejujuran? Masih adakah kantin kejujuran itu sekarang? Kemungkinan masih ada, sebab masih ada kelompok orang yang mempercayai bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Manusia tidak akan mau melakukan kecurangan kalau mereka sadar bahwa kejujurannya sedang diuji dengan keberadaan kantin tersebut.

Ide kantin kejujuran itu pada prinsipnya bertujuan mendidik manusia untuk selalu berperilaku jujur dalam hal apapun, tidak hanya dalam urusan belanja. Kalau anda berbuat curang (tidak mau membayar), maka di manakah Allah? Mungkin orang lain tidak melihat anda mengambil barang tanpa membayar, tapi Allah dan malaikatnya tidak pernah tidur.

Hari-hari ini di kampus saya sedang diadakan Ujian Tengah Semester. Jika ada kantin kejujuran, mengapa tidak dicoba ujian tanpa ada pengawas? Itulah yang saya pikirkan saat ini, memberi ujian tanpa perlu diawasi. Pengawas (atau dosen) cukup datang pada saat awal ujian untuk membagikan berkas soal dan jawaban, selanjutnya pergi meninggalkan kelas. Biarkan saja mahasiswa menyelesaikan soal ujian sendiri. Dua menit menjelang ujian berakhir, pengawas (atau dosen) datang lagi untuk mengambil berkas ujian.

Bila diperlukan, dosen cukup datang sekali saja di tengah ujian untuk menanyakan apakah ada soal yang tidak jelas, atau memberi ralat jika ada. Tapi jika semua spek soal sudah sangat jelas dan tidak multitafsir, ya tidak perlu dosen datang di tengah ujian.

Ini foto para mahasiswa sedang serius mengerjakan soal ujian mata kuliah saya di ruang 7602 Labtek V:

Mungkinkah melaksanakan ujian tanpa perlu diawasi? Mungkinkah ada yang menyontek? Kalau untuk lingkup mahasiswa di Informatika ITB saya rasa bisa saja dilaksanakan ujian tanpa diawasi, dengan catatan hanya untuk mahasiswa tahun ketiga keatas. Ritme kuliah di Informatika sangat padat, tugas-tugas kuliah berjejalan sampai-sampai mahasiswa “sesak napas” dibuatnya. Dengan tugas yang bejibun seperti itu, kami sudah memberikan arahan kepada mahasiswa kami untuk menaati rambu-rambu berikut: mengerjakan tugas sendiri, dilarang plagiasi, dilarang copy-paste dari Internet (tanpa menyebutkan sumbernya), dilarang copy paste program kelompok lain, dan sebagainya.

Semua hal di atas bertujuan untuk mendidik mahasiswa menghargai kejujuran. Mahasiswa dinilai dari integritasnya lho, tidak semata-mata hanya dari hasil (output) yang telah dikerjakannya. Bagi saya pribadi proses lebih penting daripada produk akhir.

Mekanisme reward and punishment perlu ditegakkan. Reward-nya adalah nilai, punishment-nya adalah hukuman jika terlambat mengumpulkan atau jika ketahuan berbuat curang. Sekali berbuat curang maka hukumannya bisa beragam: nilai 0, tidak lulus mata kuliah tersebut, atau D.O dari ITB. Ada kode etik ITB yang berisi pasal-pasal hukuman yang diberikan karena pelanggaran kecurangan dalam ujian.

Sampai saat ini pendidikan kejujuran itu saya kira cukup berhasil. Pada tahun pertama di Informatika (atau tahun kedua di ITB), mereka sudah memahami “aturan integritas” seperti itu. Jadi, kalau dilaksanakan ujian buat mereka pada tahun ketiga (UTS atau UAS), saya percaya mereka tidak akan menyontek. Dijamin. Kalau ada yang berani menyontek, mereka seharusnya malu sebagai mahaisswa Informatika ITB. Harga diri mereka akan jatuh di mata teman-teman, di mata dosen, apalagi di mata Tuhan. Malu dong mahasiswa ITB nyontek.

Saya belum berani menjamin untuk mahasiswa tahun kedua. Mereka baru masuk Program Studi, jadi kita tidak tahu bagaimana performance mereka selama di TPB sebab kita tidak punya rekam jejak mereka selama satu tahun di ITB. Jadi, ujian buat mahaiswa tahun kedua tetap perlu diawasi. Cukuplah selama satu tahun kedua di IF-ITB mereka akan memahami bahwa alangkah malunya berbuat curang dalam perkuliahan. Semoga.

Semoga saya tidak over estimate dengan mahasiswa kami sehingga saya sampai pada kesimpulan: kalau perlu ujian di tempat kami tidak perlu diawasi. Pada dasarnya setiap orang itu baik.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Informatika. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kalau Perlu, Ujian Tidak Usah Diawasi

  1. maruplayground berkata:

    wah, menarik pak ujian tanpa diawasi. Tapi gak bisa sepenuhnya juga tanpa pengawasan, seengaknya ada kamera tersembunyi yang bisa memantau, apa memang benar mereka tidak ada yang saling bekerja sama. Tujuannya bukan untuk menghukum kalau ada yang mencontek, tapi lebih untuk memantau sistemnya sudah bener belum. Kalo masih ada yang mencontek berarti masih ada yang salah dengan penanaman nilai kejujurannya.

  2. Ping balik: Mencoba Ujian Tanpa Diawasi « Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s