Lingkaran Setan Suap-Menyuap

Beberapa hari yang lalu pembantu di rumah meminta sebagian gajinya. Biasanya gajian pada awal bulan, tetapi karena ada keperluan dia meminta sebagian gajinya dibayarkan sekarang. Dia minta Rp350.000. “Untuk apa?”, tanya saya. “Untuk keperluan membuat SIM motor suami”, katanya. “Sebanyak itu?”, tanya saya lagi. Setahu saya untuk membuat SIM C (motor) tidak sebanyak itu uangnya. “Pakai sogok, Pak”, timpalnya. Dia menjelaskan ada saudaranya yang bisa membantu mengusahakan SIM di kantor polisi, tapi perlu uang pelicin (suap) buat Pak Polisi supaya proses pembuatan SIM cepat.

Yach, begitulah pikiran sederhana masyarakat kecil. Supaya urusan cepat beres, maka mereka menempuh jalan pintas dengan tambahan uang sogok (suap). Mulai dari urusan mengurus surat (SIM, KTP, Kartu Keluarga, dll) hingga memasukkan anak ke sekolah atau bahkan urusan menjadi PNS. Tidak ada perasaan bersalah sama sekali pada diri mereka karena telah melakukan praktek suap. Biasa-biasa saja, sudah lumrah dan lazim zaman sekarang semua pakai uang sogok.

Masyarakat kecil sajakah yang berbuat begitu? Tidak juga, banyak juga orang intelek yang menempuh cara serupa. Tidak mau repot dan ingin cepat maka orang-orang menempuh jalan pintas dengan uang sogok. Coba anda amati di Kantor Imigrasi, sudah jelas-jelas tertulis pengumuman dengan huruf besar larangan menggunakan calo, larangan pegawai Imigrasi menerima uang suap, dsb, tapi tetap saja ada calo yang berkeliaran. Para calo ini membidik orang-orang yang kepepet yang menginginkan paspor dengan cepat karena terdesak keperluan untuk pergi ke luar negeri dalam waktu yang dekat. Untuk mengurus paspor perlu antri yang lama dan proses pembuatannya memakan waktu sepuluh hari. Para calo tahu hal itu, dan mereka dapat menguruskan paspor hanya dalam waktu beberapa jam saja. Para calo tentu bekerjasama dengan “orang-orang dalam” sehingga proses pembuatan paspor selesai dalam waktu kilat. “Orang dalam” hanya mau membantu tentu setelah mereka disuap! Larangan menerima suap seperti tertera di depan Kantor Imigrasi tinggal semboyan belaka.

Jadi janganlah heran kalau praktek suap menyuap sudah menjadi budaya bangsa Indonesia. Pakai uang suap dianggap perbuatan yang biasa-biasa saja supaya urusan menjadi lancar. Sudah biasa, sudah lumrah, begitu kata masyarakat kita. Menerima suap adalah tindakan korupsi, makanya jangan heran kalau praktek korupsi sudah mendarah daging di dalam bangsa kita. Pelakunya tidak hanya pejabat atau politisi, tetapi juga pegawai rendahan seperti pegawai kelurahan, oknum kepolisian, dan lain-lain.

Jiak ditilik lebih seksama praktek suap menyuap bagaikan lingkaran setan sebab tidak ada ujung pangkalnya. Suap timbul antara lain karena birokrasi di negara kita tidak mangkus (efisien). Proses yang panjang dan lama membuat masyarakat terpikir melakukan jalan pintas. Pegawai birokrat memanfaatkan kondisi tersebut dengan menyediakan “kemudahan”. Kemudahan itu tidak murah, ada harga yang harus dibayar, itulah yang dinamakan uang suap, uang pelicin, uang sogok, dan sebagainya.

Pada sisi lain masyarakat tidak mendapat haknya karena birokrat mempersulit urusan yang sebetulnya mudah. Di koran lokal saya baca ada keluhan seorang ibu yang mengurus IMB di kantor Dinas Bangunan dipersulit, berbulan-bulan dia mengurus IMB tetapi IMB tetap tidak turun. Di mana letak “kesalahannya”? Seorang pegawai di kantor Dinas Bangunan mendekati sang ibu dan mengajaknya berbicara di mal terdekat, sebab jika berbicara di kantor ada CCTV yang mengamati. Di dalam mal oknum pegawai itu mengatakan dapat menguruskan IMB dengan cepat, tetapi dia meminta sejumlah uang yang lumayan besar agar IMB yang diminta si ibu bisa beres. Karena tidak ada pilihan lain, si ibu akhirnya “menyerah” dan memenuhi permintaan si oknum pegawai. Huh, kalau saya pimpinan Dinas Bangunan, si oknum pegawai tersebut jika memang terbukti menerima suap akan langsung saya pecat deh. Merusak tatanan dan kepercayaan masyarakat saja……

Sikap yang terbaik adalah menghindari berbuat suap. Dalam agama, orang yang menyuap dan menerima suap sama-sama berdosa. Naudzubillah min zalik, semoga saya dan anda semua terhindar dari perbuatan dosa ini. Jika kita pernah melakukan praktek suap ini dimasa lalu, marilah kita meminta ampunan dari Allah SWT.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Lingkaran Setan Suap-Menyuap

  1. si uman berkata:

    betul Pak, tapi terkadang kita ‘dipaksa’ menyuap. Adik saya beberapa bulan lalu membuat SIM C, sudah lulus tes tulis, ternyata tes praktiknya dipersulit, dan tidak bisa lulus. Sudah setiap minggu bolak-balik untuk tes kembali selama 1 bulan, tetap saja tidak bisa. Akhirnya polisi nya lah yang menawarkan ‘jasa’ itu.

    • arifrahmat berkata:

      Tes praktik dipersulit? Tidak ada yg lulus dong dari semua yang dites? Mungkin adiknya yg tdk bisa bawa motor pelan-pelan. Kalau mau ujian SIM C, coba cek tekanan ban depan, pastikan tdk kempes. Latihan yang sering dan gunakan motor sendiri saat tes.

      Saat gagal uji praktek SIM A, saya bela-belain ngerental APV buat seharian latihan parkir mundur (soalnya di Polrestabes Bandung adanya APV). Keluar duit tambahan tidak apa-apa, yang penting jangan untuk menyuap.

      Urus paspor di imigrasi Bandung, 18 hari baru selesai, alhamdulillah tanpa suap juga. Kena tilang juga sebaiknya sidang, jangan bayar ke polantas, kasihan anaknya makan duit tidak halal, dan kitanya juga dosa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s