Berkunjung ke Banda Aceh (1): Melihat Sisa-Sisa Tsunami

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Banda Aceh. Ada konferensi nasional yang diadakan oleh Jurusan Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Saya mempresentasikan makalah saya di sana. Berhubung saya belum pernah ke Banda Aceh, maka saya sangat antusias datang ke sana. Selain mengikuti konferensi, apalagi tujuannya kalau bukan melihat sisa-sisa peninggalan tsunami 2004.

Ya, setiap orang yang datang ke Banda Aceh pasti penasaran ingin melihat memorabilia tsunami. Orang Aceh pasti paham hal itu, dan mereka akan menjawab setiap pertanyaan pendatang tentang kejadian tsunami. Pertanyaan-pertanyaan standard seperti apakah air laut sampai ke jalan ini, berapa ketinggian air laut di jalan itu, di mana anda pada saat kejadian tsunami, dsb, pasti ditanyakan siapapun yang berkunjung ke kota Serambi Mekkah ini. Orang Aceh akan menjawab semua pertanyaan itu dengan antusias. Mereka adalah saksi hidup peristiwa bersejarah itu.

Kalau kita mengunjungi Banda Aceh saat ini, kita mungkin hampir tidak percaya kalau tsunami pernah terjadi di kota ini enam tahun yang lalu. Kota Banda Aceh terlihat bersih, resik, dan tidak terlihat lagi bekas-bekas tsunami. Setidaknya pemandangan itu saya saksikan di pusat kota dimana menara Masjid Raya Baiturahman terlihat dari kejauhan. Padahal di tempat ini air laut pernah menerobos dengan deras.

Di sungai pada foto di bawah ini, sungai Krueng Aceh namanya, pada saat kejadian penuh dengan mayat-mayat manusia yang dihanyutkan air laut, tetapi sekarang sungai terlihat sangat bersih.

Sebuah gereja Katolik Bunda Hati Kudus berdiri dengan anggun di pinggir sungai Krueng Aceh. Meskipun Aceh adalah daerah otonomi dengan penerapan Syariat Islam, namun keberadaan agama lain dilindungi. Jika anda menyangka bahwa semua perempuan di Aceh harus memakai busana muslimah (jilbab atau kerudung), maka sangkaan anda itu tidak benar. Syariat Islam hanya berlaku bagi orang Islam saja, sedangkan orang non-muslim tidak diharuskan. Sehingga, aturan berbusana yang sesuai syariat Islam hanya berlaku bagi wanita muslim saja. Saya melihat wanita Tionghoa dan wanita non muslim lain di jalanan bebas memakai pakaian yang sopan meskipun tidak berkerudung.

Kota Banda Aceh dan Meulaboh adalah kota yang paling parah dihantam tsunami. Meskipun di Banda Aceh tidak terlihat lagi bekas-bekas tsunami, namun ada beberapa memorabilia yang menjadi saksi bisu yang menceritakan betapa dahsyatnya tsunami pada akhir tahun 2004 itu. Dua memorabilia yang saya kunjungi adalah kapal PLTD Apung dan kapal nelayan di atas rumah.

Kapal PLTD Apung ini terdampar di kawasan darat yang jauhnya 5 km dari pinggir pantai. Kapal berbobot puluhan ton ini hanyut dari tengah laut menuju ke daratan. Bisa kita bayangkan betapa tinggi dan dahsyatnya gelombang tsunami menghantam Banda Aceh saat itu.

Ketika saya datang, lokasi ini dipagari karena sedang ada pembangunan kawasan menjadi taman edukasi tsunami, jadi saya saya tidak dapat melihat kapal lebih dekat, Lihatlah dari jauh kapal PLTD itu, sungguh dahsyat tsunami yang melanda Aceh saat itu.

Tidak jauh dari kapal PLTD kita dapat melihat foto-foto kejadian tsunami. Melihat foto-foto itu terasa begitu mencekam dan horor, seolah-olah masih terdengar jerit pilu warga Banda Aceh ketika gelombang laut tiba-tiba merenggut nyawa dan harta benda yang dilaluinya.

Satu memorabilia lagi yang wajib dikunjungi adalah kapal yang nyangkut di atas rumah. Ini adalah kapal nelayan yang terombang ambing dan tersangkut di atas sebuah rumah penduduk di daerah Lampulo (masih dalam kota Banda Aceh). Lokasi ini berjarak 2 km dari pinggir pantai.

Semua rumah yangg ada di sekitar memorabilia adalah bangunan baru. Hampir semua bangunan lama rata dengan tanah. Melihat rumah-rumah itu kita hampir tidak percaya kalau dulu pernah terjadi bencana alam yang maha dahsyat di Tanah Rencong.

Sebagai pengingat bahwa kita semua akan mati, saya melewati kuburan massal korban tsunami di kawasan Uleu-leu. Kuburan yang tidak berbatu nisan, di dalamnya terkubur jasad ribuan korban tsunami yang tidak diketahui identitasnya. Mereka adalah sebagian dari 240.000 ribu korban tsunami yang hilang atau ditemukan. Jumlah itu sama dengan jumlah penduduk sebuah kota kecil di Pulau Jawa.

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Berkunjung ke Banda Aceh (1): Melihat Sisa-Sisa Tsunami

  1. ikrim berkata:

    subhanallah.. emang gak keliatan sisa-sisa bencananya

  2. kikygustryanti berkata:

    informasi terbaru ray. siiipppp…

  3. mustyca berkata:

    ngak jalan jalan ke museum tsunami ya……dsana lebih banyak informasi nya lagi tentang tsunami aceh…

  4. anto berkata:

    itullah bkti kbsaran ALLAH SWT.

  5. fauziah berkata:

    saya saksi hidup.tp kampung kami tidak kena tsunami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s