Berkunjung ke Banda Aceh (2): Museum Tsunami dan Rumoh Aceh

Hanya dua hari saya di Banda Aceh, tetapi sudah banyak tempat yang saya kunjungi. Ke Banda Aceh jangan lupa mengunjungu museum yang satu ini, Museum Tsunami Aceh. Museum tsunami letaknya di dekat lapangan Blang Padang. Lapangan Blang Padang sekarang sudah bersih dan asri, padahal ketika kejadian tsunami lapangan ini penuh dengan mayat manusia, materi bangunan, mobil, motor, batang pohon, dan segala sampah yang dihanyutkan oleh gelombang tsunami.

Museum tsunami Aceh yang berbentuk kapal ini adalah hasil rancangan lulusan Arsitektur ITB. Dari dekat tidak kelihatan berbentuk kapal karena dimensi bangunan yang besar, tetapi kalau dilihat dari udara tampaklah seperti kapal dengan cerobongnya. Di bawah ini gambar maket museum yang diambil dari sini.

Museum sepi hari itu, jadi saya sendiri yang berada di dalam museum yang sunyi. Saya memulai masuk dari lorong tsunami. Lorong tsunami ini gelap dan sempit, di dinding lorong terdapat air terjun yang mengeluarkan suara air bergemuruh. Agak merinding saya melewati lorong tsunami tersebut, sendirian lagi. Kesan yang ingin disampaikan melalui lorong ini mungkin ingin mengingatkan pengunjung pada suara gemuruh tsunami. Saya tidak bisa memotret lorong ini karena gelapnya, jadi fotonya saya ambil dari sini saja.

Setelah keluar dari lorong tsunami pengunjung memasuki ruang panel. Suasana di dalam ruangan besar ini juga gelap dan sepi. Hanya ada puluhan panel layar monitor komputer yang menampilkan foto-foto kejadian tsunami secara bergantian. Ratusan foto-foto dokumentasi tsunami seakan-akan menceritakan kepedihan dan duka mendalam Tanah Rencong. Tanah Rencong porak poranda, ribuan mayat tergeletak begitu saja, jerit pilu keluarga korban mencari sanak suadranya yang hilang.

Dari ruang panel ini saya terus berjalan, dan akhirnya memasuki ruang cerobong asap. Di dinding ruangan terpatri ribuan nama-nama korban tsunami, sedangkan di puncak cerobong tergambar kaligrafi “Allah”. Alunan suara qari yang melantunkan ayat-ayat Alquran di dalam ruangan menambah sakral suasana, seakan-akan mengingatkan kita akan kematian. Suatu saat kita pun akan mati dan kembali kepada-Nya.

Dikutip dari sini: The light of God, sebuah ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya keatas sebuah lubang dengan tulisan arab “Allah” dan dinding sumur silinder dipenuhi nama para korban sangat mengandung nilai-nilai religi merupakan cerminan dari Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah).

Suasana di dalam museum:

Saya terus berjalan melihat ruang pamer lainnya. Di dalam ruang pamer terdapat model tiga dimensi yang memperlihatkan suasana tsunami, seperti pada foto-foto di bawah ini:

1. Situasi setelah terjadi gempa

2. Situasi saat datangnya gelombang tsunami

3. Kapal nelayan yang terdampar di Lampulo

Selain museum tsunami, saya juga mengunjungi satu museum lagi yaitu Rumoh Aceh. Museum berbentuk rumah adat Aceh ini berisi barang-barang tradisional dan foto-foto sejarah Aceh.

Di depan Rumoh Aceh ada sebuah lonceng yang besar, lonceng peninggalan zaman Belanda:

Suasana di dalam Rumoh Aceh:

Satu pajangan yang menarik saya di Rumoh Aceh adalah Kohler Boom atau Pohon Kohler. Kohler Bomm adalah potongan kayu dari pohon geulumpang (Sterculia Foetida Linn) yang dahulu tumbuh di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman. Belanda menyebutnya Kohler Boom karena di bawah pohon inilah Panglima Perang Belanda bernama Jenderal Kohler ditembak mati oleh pejuang Aceh pada tanggal 14 April 1873.

Di dalam museum di belakang Rumoh Aceh ada foto-foto kuno yang menceritakan perjuangan Aceh pada zaman Belanda. Ini beberapa foto yang saya jepret:

Foto di atas adalah foto uleebalang (hulubalang Aceh) dengan seorang “Controlleur” di Krung Maba (Aceh Barat Laut) pada tahun 1877.

Kalau foto yang di bawah ini foto perempuan Jawa dengan tentara KNIL (tentara kerajaan Hindia Belanda) dekat jalan masuk kraton Kutaraja (Banda Aceh) pada tahun 1874:

Pasar kerbau di Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1892:

Kediaman Sultan Mahmudsyah, Kutaraja (Banda Aceh) 1874:

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Berkunjung ke Banda Aceh (2): Museum Tsunami dan Rumoh Aceh

  1. iskandar ishaq berkata:

    Lestarikan budaya aceh jangan punah………….

  2. novidwiw berkata:

    Amazing.. Jadi pengen maen kesana. :)

  3. Ping-balik: Ridwan Kamil yang Saya Kenal | Catatanku

  4. sebelum jalan2 keluar negri,, Negri sendiri jelajahi dulu ya :)

  5. Ping-balik: Ridwan Kamil yang Saya Kenal | to be a better man

  6. iskandar di libanon berkata:

    ada foto tentang aceh sebelum belanda masuk ngak/ semisal foto tahun 1870-1872

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s