Berkunjung ke Banda Aceh (4 – Habis): Dari Mie Razali Hingga Ayam Tangkap

Kuliner di Aceh memang unik. Dua makanan yang saya ceritakan di sini adalah mie Razali dan ayam tangkap. Kita mungkin sudah mengenal masakan mie aceh (baik mie rebus maupun mie goreng). Di Bandung banyak terdapat warung mie aceh. Warung mie aceh langganan saya adalah Gampong Aceh di Jalan Dago.

Di kota Banda Aceh kedai mie yang terkenal adalah Kedai Mie Razali di Jalan Panglima Polem (kawasan Simpang Lima). Kebetulan kedai ini dekat dengan hotel tempat saya menginap, jadi kesanalah saya malam-malam mencari makan. Banyak orang sedang makan di sana. Mie Razali ini katanya sudah ada sejak tahun 1967. Seingat saya di Rest Area jalan tol Cikampek juga ada gerai mie Razali. Saya tidak tahu yang di rest area tersebut berhubungan dengan kedai mie Razali di Banda Aceh atau tidak.

Saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie rebus udang dan segelas es timun. Ini dia makanan dan minuman yang saya pesan:

Hmmmm… kuah kental mie rebusnya begitu menggoda selera. Apa rahasia bumbu kuah ini? Ada bumbu kari pasti, sebab masakan Aceh memang banyak menggunakan bumbu kari. Saya pun makan dengan enaknya. Bismillahhirahmaanirrahiim. Rasanya memang tidak jauh beda dengan mie di Gampong Aceh Jalan Dago, Bandung. Tetapi, menikmati mie aceh di tempat asalnya sendiri tentu lebih maknyus.

Siang hari saya pun berburu “ayam tangkap”. Mendengar masakan ayam tangkap saya semula berpikir ayamnya diuber-uber dulu sebelum ditangkap dan akhirnya digoreng (capek dong…), tetapi saya salah kira. Saya bertanya ke supir becak motor (bentor) yang menjadi angkutan umum di Banda Aceh, di mana kedai makanan yang menjual ayam tangkap.

Supir bentor (benar nggak sih disebut supir, sebab kendaraannya sebenarnya adalah becak yang ditarik dengan sepeda motor) mengantarkan saya ke kedai ayam tangkap Cut Dek di daerah Lampineung.

Saya minta izin melihat proses memasak ayam tangkap di dapur belakang. Ternyata ayam tangkap itu adalah ayam kampung yang dipotong kecil-kecil kemudian digoreng dengan aneka daun-daun. Wuah, jenis daunnya banyak sekali, mulai dari daun jeruk, daun pandan, dan lain-lain, mungkin ada juga daun ganja kali ya (maklum masakan Aceh terasa sedap jika pakai ganja, kata orang-orang). Saya sendiri belum pernah melihat daun ganja, tetapi sebagai bumbu masakan saya pikir tidak masalah. Yang salah adalah jika diproses dan disalahgunakan menjadi narkoba.

Daun-daun ini bersama ayam digoreng dalam kuali besar berisi minyak goreng yang sudah menghitam. Hmmm…minyak jelantah itu. Di Bandung pun banyak pedagang ayam goreng yang menggunakan minyak jelantah. Secara higienis minyak jelantah tidak sehat.

Inilah dia satu porsi ayam tangkap yang dihidangkan di meja saya. Mana ayamnya? Ternyata daging ayam tadi ditaruh di bagian bawah, lalu diatasnya ditumpuk daun-daun yang sudah digoreng tadi (plus bawang goreng dan cabe bulat hijau yang juga digoreng). Itulah kenapa disebut ayam tangkap, sebab ayamnya bersembunyi di balik rimbunan daun-daun tersebut.

Selintas masakan ini mirip “tumpukan sampah” daun kering ketimbang ayam goreng. Saya mulai mencoba mencicipi daun-daun itu. Wow, rasanya enak dan garing seperti kerupuk. Untuk memakannya tersedia sambal cabe rawit, tetapi saya lebih suka sambal udang yang disamping itu, lebih segar rasanya.

Saya mengubek-ubek tumpukan daun mencari ayamnya, dan inilah hasil “pengubek-ubekan” saya itu:

Terlihat daging ayamnya kan? Dengan porsi sebanyak itu tentu tidak habis saya makan sendiri. Harga seporsinya Rp60.000 (mahal?), padahal kalau tahu saya bisa memesan setengah porsi saja. Karena tidak habis, saya minta sisanya dibungkus dengan kotak saja untuk dibawa pulang ke Bandung. Di Bandung saya tinggal menggoreng ulang supaya garing lagi.

Selain ayam tangkap, ada pula masakan bernama “ayam lepaas” (dengan dua huruf “a”). Aha, ada-ada saja namanya ya, ada ayam tangkap dan ada pula ayam lepaas, dua-duanya saling antagonis. Saya belum sempat mencoba ayam lepaas. Kata supir bentor, ayam lepas itu sejenis ayam gulai, pakai santan gitu. Hmm… penasaran. Ini dia kedai ayam lepaas di Simpang Lima, saya hanya bisa memfoto kedainya saja.

Demikianlah pengalaman saya yang berkesan di Banda Aceh. Hanya dua hari saja saya di sana, belum cukup rasanya. Saya masih ingin ke kota Sabang di Pulau Weh, atau melihat Pantai Lhok Nga yang indah. Namun, pesawat Garuda sudah menunggu saya di Bandara Sultan Iskandar Muda yang megah.

Pada lain kesempatan saya ingin mengunjungi Banda Aceh lagi.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Berkunjung ke Banda Aceh (4 – Habis): Dari Mie Razali Hingga Ayam Tangkap

  1. dian berkata:

    ayam lepaas itu bukan ayam santan, tapi ayam goreng yg ada kremes2nya…. di jakarta ada juga cabang ayam lepaas, setau saya di margonda dan rawamangun, malah di penang malaysia kabarnya ada juga cabangnya.. coba cicipi deh, setaraf wong solo maknyusnya…..

  2. Reza berkata:

    Saya menyediakan ayam jenis jenis ayam potong tapi, Tidak berlemakk. Pas Banget buat restoran anda . . .
    LANGSUNG SAJA hubungi:082368726178

  3. Ping balik: Bakmi Jowo Gunung Kidul van Bandung | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s