Mengapa Mahasiswa “Veteran” Tidak Lebih Baik Nilainya daripada Mahasiswa Yunior?

Barusan saya sudah menyelesaikan pekerjaan memeriksa berkas ujian UTS. Satu keprihatinan yang selalu saya temui setiap tahun adalah mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Pada setiap semester selalu saja ada mahasiswa yang mengulang mata kuliah. Sebut saja mereka mahasiswa “veteran”, yaitu mereka yang sudah pernah mengambil kuliah tersebut pada tahun sebelumnya. Mereka mengulang mungkin karena tidak lulus atau ingin memperbaiki nilai (misalnya tahun lalu dapat C, sekarang diambil lagi karena berharap dapat B atau sukur-sukur A). Mereka yang mengambil mata kuliah ini pertama kali, meskipun angkatan yang lebih tua, tidak saya sebut sebagai mahasiswa veteran.

Nah, masalahnya hasil ujian mahasiswa veteran ini tidak lebih baik dari nilai ujian mahasiswa reguler, yaitu yunior mereka. Kebanyakan hasilnya jelek-jelek, memang ada satu dua yang lumayan bagus, tetapi kebanyakan buruk. Bahkan, bagi mahasiswa yang mengulang karena ingin memperbaiki nilai, nilai mereka bisa lebih buruk lagi dari tahun sebelumnya.

Nilai tugas-tugas kuliah juga setali tiga uang, sama jeleknya. Di Prodi saya setiap mata kuliah ada tugas besar (Tubes) dan tugas kecil (Tucil). Tubes-tubes itu umumnya dikerjakan berkelompok. Nah, masalahnya mahasiswa veteran ini tidak sekelompok dengan mahasiswa yunior, sangat jarang mahasiswa yunior mau sekelompok tugas dengan mereka. Akhirnya mereka sekelompok dengan sesama veteran sendiri. Hasilnya ya begitulah, kadang tugasnya tidak selesai, kadang seadanya saja. Tidak jarang mereka tidak mengerjakan tugas sama sekali karena sulitnya membangun komunikasi dan kebersamaan tim (team work).

Saya juga mencatat mahaisiswa veteran sering bolos kuliah. Isian daftar hadir mereka relatif sedikit. Nah, sebagai kombinasi dari nilai ujian dan nilai tugas yang “lepas makan” itu, akhirnya nilai akhir mereka rata-rata jelek juga. Kalau tidak D ya E, satu dua ada juga yang dapat C dan B (tetapi persentasenya kecil). Di ITB nilai D tidak lulus. Maka, tahun depan mereka dipstikan mereka mengulang lagi.

Saya jadi bertanya-tanya apa penyebabnya dan ingin mencoba memperbaiki. Seharusnya sebagai mahasiswa veteran mereka sudah punya pengalaman menghadapi “medan” yang sama yang sudah dilalui pada tahun lalu. Kalau sudah punya pengalaman seharusnya lebih baik dong daripada yunior mereka yang baru pertama kali mengambil kuliah tersebut. Namun kenyataannya malah sebaliknya.

Kalau mereka disebut bodoh saya tidak yakin. Kalau bodoh kok bisa masuk ITB? Masuk ITB kan seleksisnya sangat ketat dan susah. Melalui diskusi dengan para alumni di fesbuk, termasuk yang pernah menjadi mahasiswa veteran, saya mendapatkan jawabannya. Ternyata masalahnya bukan pada skill atau knowledge, tapi masalah mental. Mental mereka sudah jatuh duluan karena merasa rendah diri dengan yuniornya, disamping ada perasaan menjadi minoritas di dalam yuniornya, sifat malas, dan sebagainya.

Padahal, perasaan rendah diri itu tidak perlu dipelihara. Kalau dipelihara malah menjadi kekhawatiran yang akhirnya merembet kemana-mana, ya ujian, ya tugas kuliah. Gagal semua deh. Seharusnya yang dibangun adalah semangbat untuk bangkit dari kegagalan, semangat untuk fight, semangat untuk maju. Orang gagal pasti tidak mau gagal kedua kalinya, bukan?

Saya juga percaya tidak semua mahasiswa veteran punya kinerja yang buruk seperti di atas, ada juga anomalinya. Satu dua orang ada yang mendapat nilai lebih bagus dari hasil tahun sebelumnya, malah ada yang lebih bagus dari yuniornya. Nah mahasiswa veteran yang begini yang pantas dijadikan model. Jika saya tanya kepada mereka yang “anomali” ini apa rahasianya, ternyata jawabannya adalah mereka mengulang kuliah dengan mental fight, mental berjuang dan bekerja keras untuk mendapat hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Overall, ini tidak berarti jika anda mahasiswa veteran yang IPK nya hancur maka masa depannya juga sama buruknya dengan kisah akademis selama kuliah. Malah, sebagian mereka banyak yang sukses setelah lulus, mungkin karena mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik dari yang mereka alami sebelumnya.

Moral darai cerita saya ini, untuk sukses tidak hanya butuh modal skill dan knowledge, tetapi juga perlu kesiapan mental, yaitu menumbuhkan mental juara agar selalu fight dan maju. Tidak ada yang dapat mengubah nasib kecuali diri kita sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Informatika. Tandai permalink.

9 Balasan ke Mengapa Mahasiswa “Veteran” Tidak Lebih Baik Nilainya daripada Mahasiswa Yunior?

  1. ibrahim berkata:

    Saya salah satu “veteran” itu pak Rin, yg termasuk minder dan akhirnya IPK pas pasan.
    Saya belajar “the hard way” untuk memahami pentingnya sikap mental, sikap yang “fight” & tawakkal.

  2. trikoni berkata:

    dua kondisi pernah saya alami pak waktu kuliah dulu, kondisi pertama ketika mengambil kuliah keatas, skelas dengan senior saat itu saya satu-satu angkatan bawah, secara psikologi saya merasa PEDE aja, dan wal hasil nilainya cukup memuaskan lah, ga jelek-jelek amat.

    Nah kondisi kedua yaitu ketika saya harus mengulang mata kuliah dan sekelas dengan angkatan di bawah saya yang baru mengambil mata kuliah tersebut, perasaan males muncul netah kenapa, dateng terlambat dan jarang hadir, bawaannnya males, wal hasil nilai saya malah memburuk yang awalnya C malah jadi D.

  3. lina berkata:

    saya juga pernah di posisi yang sama, di itb pula, tersiksa rasanya, apalagi saat itu saya memang tidak suka dengan kuliahnya (di STEI)…akhir-akhirnya saya pindah jurusan ke universitas lain😀
    tapi dari posisi ttersebut saya jadi belajar banyak hal tentang yang namanya hidup

  4. uga18hunter berkata:

    wah.. tulisan agan menarik..
    mental itu HARGA MAHAL..

    meskipun BONEK punya gaya bertarung tak terkalahkan, tapi kalau tak bermental, apalah daya, semua jurus hilang seketika..

    /hiks

  5. Vianita berkata:

    Saya sering menghadapi mahasiswa dan koass veteran..memang sulit menghadapi dan menyikapi mereka,karena seperti yg Bapak tulis,mentalnya sudah loyo duluan. Bagaimana ya sebaiknya? Karena bukannya enak rasanya untuk seorang dosen untuk memutuskan “tidak lulus”.

  6. rembrandt berkata:

    saya juga punya pengalaman mengulang mata kuliah pak..awalnya saya dapet nilai E.yg mana waktu itu nilai UTS saya cuma 14,UAS juga tak kalah ancurnya (nilai UAS tidak diumumkan,tapi jelas saya tidak bisa menyelesaikan soal2 UAS,hehe),alhasil saya dapet straight E.
    tahun depannya saya mengulang,bersama sekitar 20 orang teman saya.
    dalam hati saya sudah bertekad,saya harus dapat nilai A,ngga boleh mengulang kesalahan yang sama dua kali. Selama perkuliahan saya selalu memperhatikan penjelasan dosen (tahun sebelumnya saya sering tidur di kelas,hehe),tugas2 saya kerjakan semaksimal mungkin,kalo ngga bisa dikerjain sendiri saya kerjain bareng2 anak2 veteran lainnya,hehe (tahun lalu saya sering nyontek tugas,hehe),mau UTS dan UAS kami anak2 veteran belajar bareng.
    alhamdulillah di akhir semester saya dapet nilai A dengan nilai UAS paling tinggi dikelas (nyaris 100),alhamdulillah sekali perjuangan terbayar setimpal,hehe

  7. alfie berkata:

    Nah itulah, kenapa harus ada status ‘veteran’2 segala.. di luar negeri, dosen gak peduli status mahasiswa apakah dia veteran, atau dia jurusan dari luar, dan ketebelece lainnya.. yang penting belajar, dan terserah mahasiswa mau belajar atau tidak..
    Karena ada status2 seperti ini, (dan juga mungkin status lain seperti ‘orang jawa’ vs ‘orang sunda’, ‘anak bandung’ vs ‘anak jkt’, orang islam vs orang non-islam), membuat orang2 mengidentifikasikan mereka dgn stereotype yg ada.. misalnya ‘veteran’ jadi terkesan bodoh karena mengulang… padahal mah, kalo kata kasarnya ‘who give a sh*t’?
    pengelompokkan angkatan2 seperti lewat himpunan, atau lewat pelajaran agama membuat orang cenderung mengkotak2an masing2…pengkotak2an jurusan juga.. ‘gw anak IF’, ‘loe anak EL’, etc2.. sepertinya mahasiswa tidak mempunyai identitas lain selain ‘anak IF’, ‘orang Islam’, ;angkatan 2000′, etc, etc..

  8. ian berkata:

    akhirnya ketemu juga sama penulis “ALGORITMA dan PEMROGRAMAN Dalam Bahasa PASCAL dan C”.
    di kelas saya menggunakan buku pegangan hasil penulisan bapak dan saya juga termasuk calon mahasiswa veteran🙂 dalam pelajaran algoritma. oh ya pak kalau dosen algoritma itu harus tegas ya sama mahasiswanya? dosen saya juga lulusan ITB juga lho,,😀🙂

  9. raydhitya berkata:

    Tahun lalu saya baca ini dan menulis balasannya. Ternyata baru bisa saya selesaikan sekarang
    http://raydhityayoseph.blogspot.com/2012/06/respon-postingan-pak-rinaldi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s