Bila Istri Naik Haji

Tahun ini istri saya menunaikan Rukun Islam yang kelima, yaitu melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Dia berangkat ke Tanah Suci pada kloter terakhir dari embarkasi Pondok Gede tanggal 31 Oktober. Prosesi ibadah haji sebenarnya sudah selesai dengan puncaknya wukuf di Arafah pada Hari Sabtu tanggal 5 November 2011 kemarin. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah S.A.W, haji itu adalah wukuf d Arafah, jika seseorang tidak sempat wukuf di Arafah maka tidak sah ibadah hajinya. Setelah wukuf maka prosesi ibadah berikutnya adalah melempar jumrah di Mina pada hari-hari Tasyrik (yang juga sudah berlalu) dan terakhir thawaf wada’ (thawaf perpisahan), yang juga sudah selesai. Hari-hari ini sudah mulai jamaah haji Indonesia satu persatu kembali ke tanah air.

Namun karena berangkat dengan kloter terakhir, tentu pulang ke tanah air juga dengan kloter terakhir, sesuai dengan prinsip FIFO (First In First Out). Dengan program ONH biasa total waktu di Mekah dan Madinah adalah 40 hari. Program haji menjadi lama karena jamaah harus menunggu giliran pulang dengan pesawat yang jumlahnya terbatas. Tahun ini ada 210 ribu lebih jamah haji dari Indonesia.

Sudah dua minggu istri saya berada di Tanah Suci, jadi kira-kira ada sekitar 1 bulan kurang lagi baru ia kembali ke tanah air. Lumayan kangen juga ditinggal istri selama itu, he..he..he, saya menjadi “single parent” selama 40 hari. Ternyata menjadi “single parent” itu tidak enak, saya bisa merasakan betapa sulitnya seorang single parent yang sebenarnya dalam mengasuh anak, apalagi jika jumlah anaknya banyak. Timpang rasanya mengasuh anak sendirian, yang ideal itu mengasuh anak bersama-sama. Kehadiran ayah dan ibu bagi seorang anak sangat penting untuk perkembangan kejiwaan si anak. Anak yang hanya mendapat kasih sayang dari single parent biasanya tumbuh menjadi anak yang kurang stabil secara emosi dan kejiwaan. Sudah banyak contoh kasusnya, tidak perlu saya ceritakan lagi.

Banyak orang bertanya kenapa kami tidak pergi haji berdua. Keadaan keluarga saya tidak memungkinkan kami pergi berdua, karena anak-anak di rumah tidak ada yang bisa menjaga. Kakek neneknya sudah terlalu sepuh sehingga tidak mungkin bisa menjaga cucu-cucunya. Oleh karena itu, saya memutuskan istri yang berangkat lebih dahulu, biar saya yang menjaga anak di rumah. Berkat rizki dari Allah SWT, saya bisa menabung dan memberangkatkan ibunya anak-anak ke tanah suci. Peran seorang ibu tiga kali peran seorang bapak, oleh karena itu saya mengutamakan istri saya terlebih dahulu, barulah nanti saya yang berangkat ke sana. Jika ada rizki lagi dan anak-anak sudah bisa mandiri, barulah kami pergi berdua.

Perlu waktu tiga tahun baru istri saya mendapat porsi haji. Dengan daftar tunggu yang panjang, seorang muslim di Indonesia perlu bertahun-tahun menunggu kepastian berangkat haji. Dengan jumlah kuota haji yang terbatas sedangkan peminat haji yang mencapai jutaan orang, maka tentulah diberlakukan sistem antrian. Untuk Jawa Barat sendiri porsi haji sudah penuh hingga 3 tahun ke depan. Di Jawa Timur saya baca porsi haji sudah penuh hingga lima tahun ke depan. Di daerah-daerah lain dengan kuota yang lebih sedikit dan jumlah peminat yang tinggi tentu porsi haji sudah penuh lebih dari lima tahun ke depan.

Begitu tingginya animo naik haji dan kuatnya panggilan Tanah Suci, tidak jarang berbaga cara ditempuh banyak orang Islam Indonesia untuk dapat pergi haji, mulai dari cara yang legal, ilegal hingga cara-cara yang menurut saya saya termasuk “kebohongan”. Cara yang legal yaitu sesuai aturan Pemerintah, yaitu mendaftar sesuai dengan prosedur yang dtentukan. Cara yang ilegal adalah di luar ketentuan itu, yang sering disebut “haji non kuota”. Mereka berangkat dengan biro perjalanan “nakal”, ada yang memakai visa umrah (berangkat umrah sebelum masa haji, dan selesai umrah tidak mau pulang, tetapi menetap dulu di sana sampai bulan haji tiba padahal masa visa sudah habis). Atau, ada pula yang berangkat dengan menggunakan visa haji yang dikeluarkan oleh Kedubes Arab Saudi diluar jamaah kuota (aneh, kok bisa), perjalanan mereka diatur oleh biro perjalanan umrah/haji, berangkat dengan pesawat komersil dengan rute yang sambung bersambung (Jakarta – Kuala Lumpur – New Delhi, Abu Dhabi – Jeddah).

Di Tanah Suci jamaah haji “non kuota” ini sering ditelantarkan oleh biro perjalanannya, sebab penanggung jawab biro perjalannnya tiba-tiba “menghilang” di Tanah Suci dan akhirnya jamaah itu terlunta-lunta nasibnya. Padahal jamaah itu tidak membayar murah lho, mereka mengeluarkan uang dua kali hingga tiga kali lipat dari ongkos BPIH biasa agar bisa berangkat haji tanpa perlu menunggu bertahun-tahun. Keawaman calon jamaah haji itulah yang dimanfaatkan oleh biro umrah/haji untuk menjaring jamaah haji dengan iming-iming kepastian berangkat. Masih “beruntung” yang bisa berangkat, sebagian lagi banyak yang terkatung-katung nasibnya gagal berangkat haji karena visa haji tidak turun-turun dari Kedubes Arab Saudi. Mereka “terdampar” di kota-kota embarkasi, mau pulang kampung merasa malu sebab mereka sudah pamitan dan sukuran mengundang para tetangga.

Nah, yang pergi dengan “kebohongan” juga cukup banyak. Jamaah model begini membuat KTP baru di daerah lain yang porsi hajinya dikira-kira masih tersedia, sebab di tempat tinggalnya porsi haji sudah habis bis bis. Dengan “memalsukan data”, mereka membuat KTP kedua seolah-olah warga di daerah tersebut, misalnya tinggal di kota Bandung tetapi membuat KTP kedua di Kabupaten Kuningan agar bisa tercatat sebagai calon jamaah haji Kabupaten Kuningan (sesuai aturan, jamaah haji hanya bisa mendaftar sesuai dengan alamat tempat tinggalnya sesuai KTP). Nah, menurut saya perbuatan ini sudah tidak jujur dan sudah menciderai niat suci naik haji. Mau haji kok melakukan kebohongan. Lagipula dengan perbuatan tersebut berarti calon jamaah haji ini sudah merampas jatah haji orang lain di daerah yang bersangkutan. Kalau memang sudah waktu gilirannya tiba, inysa Allah kesabaran menunggu berangkat itu pasti datang juga. Istri saya pernah ditawari cara seperti ini, yaitu membuat KTP Kabupaten Bandung agar bisa berangkat haji pada tahun 2010 (karena kuota haji Kabupaten Bandung saat ia mendaftar dengar-dengar masih tersedia), Tetapi, saya melarangnya melakukan cara yang tidak terpuji ini.

Labbaikallaahumma labbaik, labbaikallah syarika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikala, mudah-mudahan aku pun datang menemui panggilanmu Ya Allah, beribadah haji ke tanah suci Mekah.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

11 Balasan ke Bila Istri Naik Haji

  1. Zalfany berkata:

    Sedikit koreksi Pak Rin.. setahu saya setelah wukuf, prosesi ibadah haji setelah wukuf bukan hanya lempar jumrah dan thawaf wada’. Di antaranya masih ada thawaf ifadhah + sa’i + tahalul.

  2. jerietea berkata:

    Dan semoga suatu saat ALLOH memampukan saya untuk ibadah haji.Amien..Ya Robbal ALamien.

  3. Bayu berkata:

    Terakhir saya cek untuk jawa timur antrian haji sudah bukan 5 tahun lagi Pak tapi sudah 7 tahun. Dan karena memang saking banyak dan pengennya orang jatim yg pengen naek haji banyak yg menyarankan untuk mencari KTP di propinsi lain yg antriannya tidak terlalu lama sehingga bisa naik haji lebih cepat.

  4. Yuyu Rahayu berkata:

    renungan………

  5. lina berkata:

    untuk wanita yang mau berhaji, diutamakan ada mahram yang membersamainya, logikanya supaya aman

  6. – di sini antrinya dah 8 tahun mas,, :)) (bulukumba, sulsel),, kakak saya yang berangkat kloter 37, insya Allah balik tgl 7 desember nanti dari mekah, itu antrinya dari 2007🙂,, masih 4 tahun,, yang daftar sekarang katanya paling banter 8 or 10 tahun lagi baru kena giliran,, hehehe -sabarrrrrr-

  7. hanafie berkata:

    KTP istri saya semarang (jateng),saya surabaya (Jatim)
    Saya menikah di semarang,KTP & KSK istri saya juga msh terdaftar sbg penduduk semarang (msh berlaku)
    berhubung di jatim menunggu lbh lama dibanding jateng (selisih 2 tahun),drpd terjadi masalah yg tdk dikehendaki di depan (berubah niat, aturan cuti dr perusahaan,masalah keluarga dsb) saya mencoba ikut daftar di semarang (jateng) dan diperbolehkan oleh semua pihak (depag,bank) dan saya tanyakan hal ini ke beberapa pimpinan KBIH (jatim & jateng) hal tsb tdk masalah
    apakah hal ini salah ?
    Saya juga tidak menggunakan dana talangan haji lhooo
    coba bayangkan,ada sebagian org yg tdk mau berhaji dgn cara berhutang,maka disimpannya uang sedikit demi sedikit,dlm wktu cukup lama akhirnya terkumpul biaya utk porsi haji (+/-25jt)
    di sebagian yg lain,hanya utk mengejar porsi,dgn dana talangan haji dr bank maka dia bs lbh cepat dr yg sebagian tadi,padahal uang cash yg dia punya msh sedikit,apakah ini tdk malah termasuk ‘cara curang’?padahal hukumnya dibenarkan
    ke Baitullah adalah memenuhi undangan Allah,hanya allah yang berkenan memberikan jalan, semoga berkenan,Insya allah

  8. shafira efendi berkata:

    Alhamdulillah tahun ini sy bisa daftar haji dengan dana talangan dari BRI syariah, karena menunggu duit dikumpulkan dlu butuh waktu yg lama, dengan dana talangan sy bisa cicil tiap bulannya..

  9. Ping balik: Mengapa Untuk Niat yang Suci Harus Berbohong? | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s