Anak SD Belum Perlu Hape

Hingga saat ini saya belum membelikan hape (ponsel) buat anak saya yang duduk di kelas 5 dan 6 SD. Hampir semua teman di kelasnya sudah punya hape. Tidak hanya hape biasa, tetapi hapenya berkamera (multimedia), atau hape layar sentuh, malah banyak yang sudah punya Blackberry (BB) — umumnya yang punya BB ini murid perempuan. Gaya bener ya orangtua zaman sekarang, anak-anaknya saja sudah punya BB dan touch screen HP.

Meskipun anak saya sudah merengek-rengek minta dibelikan hape, tetapi saya masih bergeming. Belum waktunya dia punya hape sendiri, belum butuh-butuh amat, apalagi hape yang berkamera. Kebijakan sekolah juga sejalan yaitu melarang siswa membawa hape ke sekolah. Hape masih boleh diteloransi dibawa pada hari Sabtu karena pada hari Sabtu tidak ada kegiatan belajar tetapi hanya ada ekskul. Saya mendukung kebijakan sekolah tersebut. Di sekolah anak saya yang satu lagi, pihak sekolah mengingatkan orangtua agar hape yang dibawa ke sekolah hendaknya hape yang tidak ada kameranya.

Tentu di zaman teknologi informasi seperti ini pandangan saya yang belum membelikan hape buat anak dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Tetapi saya punya alasan sendiri kenapa begitu. Jawabannya adalah “pornografi anak”. Gadget semacam hape berkamera adalah sarana efektif untuk menyebarkan konten porno pada anak-anak. Melalui teknologi bluetooth pada hape, transfer konten porno (seperti gambar dan video) antar gadget semakin mudah. Anak-anak sudah menjadi sasaran penyebaran pornografi secara masif. Ingat kasus Ariel tahun lalu, kan? Anak SD saja sudah melihat video Ariel tersebut melalui hape mereka.

Otak dan pola pikir anak belum siap menerima informasi negatif seperti konten porno tersebut. Mereka belum bisa menyaring informasi yang baik dan yang buruk. Jika dipaksakan, maka kerja otak mereka bisa rusak karena telah disusupi pikiran-pikiran negatif. Anak bisa lebih cepat dewasa sebelum waktunya. Ini bahaya buat masa depan mereka. Bukankah perilaku seks pra-nikah dan seks bebas di kalangan remaja disebabkan oleh kebiasaan melihat konten porno sejak dini. Pornografi menimbulkan rasa penasaran, ketagihan, dan akhirnya coba-coba sehingga menjadi kebutuhan seperti orang dewasa yang sudah menikah.

Penyebaran konten pornografi tidak hanya melalui hape, tetapi juga melalui internet. Anak-anak zaman kini gemar bermain game online di warnet tanpa pengawasan. Siapa yang tahu apa saja yang mereka akses di internet itu selain game? Siapa yang bisa menjamin anak-anak itu hanya bermain game di sana? Anak saya pernah bercerita bahwa temannya di warnet pernah melihat gambar porno. Hiii…. mengerikan! Jadi, jangan kaget kalau pelaku perkosaan tidak hanya remaja atau orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Mereka mengaku melakukan itu karena terpengaruh sebab hampir setiap hari melihat gambar dan video porno di warnet atau nonton VCD/DVD di rumah pakai laptop.

Meskipun anak sudah kita berikan filter berupa bekal pendidikan agama, tetapi tidak ada jaminan benteng agama itu cukup kuat membendung arus deras pornografi yang sangat masif. Jika terus menerus mereka dirayu teman untuk melihatnya, lama-lama pertahanan mereka jebol juga. Kita sebagai orangtua juga tidak bisa 24 jam mengawasi pergaulan anak, dengan siapa saja mereka bergaul di luar, apa saja yang mereka lakukan di luar rumah dan sekolah.

Sampai saat ini anak saya bisa paham kenapa belum punya hape. Dia “minoritas” di sekolahnya karena hanya beberapa orang saja yang tidak memiliki hape. Meskipun pihak sekolah melarang membawa hape, tetapi secara sembunyi-sembunyi anak-anak itu membawa juga ke sekolah.

Pihak sekolah bukannya tidak paham kepentingan orangtua yang membekali anaknya dengan hape. Bagi orangtua, anak dibekali hape mungkin agar orangtua bisa terus berkomunikasi dengan anaknya. Karena pihak sekolah melarang siswa membawa hape, maka bagi siswa yang ingin menelpon ke rumah atau kepada orangtuanya, sekolah menyediakan fasilitas telepon yang bisa dipakai seperlunya, begitu sebaliknya. Sementara ini kalau anak saya memerlukan sesuatu, dia menelpon ke rumah melalui telepon sekolah saja.

Menurut pendapat saya yang konservatif ini, anak SD belum terlalu membutuhkan gadget seperti hape, apalagi yang canggih dan mahal semacam BB dan iphone. Mereka belum bisa bertanggungjawab menggunakannya. Bagi anak SD memiliki hape kebanyakan untuk gaya-gayaan saja, dan gaya-gayaan ini menurut hemat saya bukan pendidikan yang baik sebab anak menjadi suka pamer.

Jadi, untuk sekarang ini anak saya tidak terlalu membutuhkan hape. Dia bisa menelpon kami pakai telepon rumah saja atau pakai telepon sekolah. Barulah kalau ada acara jalan-jalan sekolah saya bekalkan hape untuk mengetahui posisinya lagi di mana (karena pulang jalan-jalan bisa malam hari). Kalaupun harus membelikan hape saat ini, mungkin yang saya belikan yang tidak punya fitur kamera/multimedia.

Saya akan bekalkan dulu pengetahuan baik dan buruk yang perlu dia ketahui sebelum dibelikan hape nanti. Ini penting agar dia tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Setelah dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk (yang dilarang agama), maka saya sudah siap membelikan dia hape yang berkamera sekalipun.

Bagi orangtua yang sudah membekali anaknya dengan gadget hape, BB, iphone, dan sebagainya, sering-seringlah memeriksa isi hape anak anda. Mungkin di dalamnya ada konten pornografi yang dia peroleh dari teman-temannya. Benteng terakhir pendidikan anak adalah di dalam keluarga. Jangan terlalu berharap kepada Pemerintah agar melindungi anak kita dari konten negatif. Di satu sisi ada pihak yang tidak senang jika larangan pornografi diregulasikan dalam bentuk UU karena dianggap melanggar HAM, tetapi di sisi lain kita tidak bisa membantah bahwa serangan pornografi saat ini demikian masif melanda generasi muda dari segala penjuru. Hanya di dalam keluargalah benteng pertahanan itu terletak.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

18 Balasan ke Anak SD Belum Perlu Hape

  1. Maul berkata:

    Saya baru dapat hape kelas 3 SMA, pak….
    Anak jaman sekarang enak banget udah dapet yang touch screen….

  2. reiSHA berkata:

    Setuju banget nih Pak. Di sini beli HP pun ada aturannya. Buat anak2 hingga yg berusia di bawah 20 tahun, cuma bisa beli HP yang fiturnya terbatas, yg fungsi utamanya emg buat telpon dan sms.

  3. aespe berkata:

    Alhamdulillah sekolah anak saya juga melarang, tapi klo boleh ngasi saran sih, cara efektif sepertinya sekolah beli signal jammer.

    Saya mungkin sedikit ekstrim, suka sebal saat jumatan atau solat di mesjid, orang orang masih bunyi handphonenya, ya sudah saya beli saja jammer disini http://www.dealextreme.com/p/personal-cell-phone-signal-blocker-device-4355 hanya 250rb dan hasilnya… sepiiii…

    Jammer itu rangenya lumayan, disebutkan sih max hingga radius 15m, tapi dari pengalaman pribadi, efektif dia bekerja dalam radius 5m, cukuplah untuk ruang kelas atau mushola🙂

  4. Alris berkata:

    Betul sekali pak Rinaldi, bagi anak sd belum urgent lah pake hp pakai multimedia. Kalo hj jadul yang cuma bisa telpon dan sms bolehlah buat yang kelas enam, hehehe…

  5. Warda Aj berkata:

    setuju pak……

  6. syarief76 berkata:

    lha..saya dulu setelah kerja baru punya hp..maklum lahir bukan dizaman hp..he3, tapi setuju dengan pendapat pa dosen nih. Wong orang dulu nggak ada hp hidupnya tentrem aja kok. Kadang kita nggak bisa bedakan mana yang kebutuhan, mana yang keinginan. Kadang juga kita dibuat merasa butuh akan suatu fasilitas/produk oleh taktik pemasaran produsen, padahal kalo dipikir-pikir nggak juga (misal dulu untuk komunikasi mobile kita didorong punya hp, terus sms, mms dan kini bbm). Harus pinter-pinternya kita aja

  7. Kresno Adityowibowo berkata:

    Jujur saja…dulu alhamdulillah saya sudah punya hape pas kelas 4 SD. Orang tua meminta saya untuk hanya mengeluarkan hape tersebut dari tas pada jam istirahat (mengecek pesan dari orang tua) dan jam pulang (untuk menelpon supir saya bahwa saya sudah pulang). Alhamdulillah juga hal tersebut saya lakukan dengan disiplin sampai saya lulus SD.

    Saya setuju dengan Bapak, tetapi saya agak takut dengan beberapa pengalaman saya semasa SMP, yaitu :

    1. Pencurian HP (SMP); teman satu smp saya (kelas 2) melakukan pencurian hape, diketahui kemudian bahwa walaupun dia orang kaya, dia tidak diberikan hape oleh orang tuanya. Sampai sekarang saya tidak tahu itu penyebabnya atau bukan.

    2. Merasa terkucilkah?; saat kelas 2 smp, hape semakin merebak dan hanya 2 orang di kelas saya yang tidak punya hape. Sewaktu itu saya menyadari bahwa kelas 2 smp sudah doyan smsan di rumah dan isi smsan itu suka dibahas keesokan harinya di kelas. Hanya 2 orang itu yang paling jarang bicara dengan teman2nya karena rata2 isi pembicaraan di kelas dimulai dengan melanjutkan smsan semalam.

    Maksud saya di sini, tidak memberikan hape pada anak SD yang kita rasa belum dapat bertanggung jawab memang diharapkan memberi dampak yang baik pada anak itu, namun saya khawatir dengan efek samping buruk yang akan dialami anak tersebut, baik dalam aspek kejiwaan maupun dalam keterbatasan kegiatan sehari-hari. Sampai sekarang saya belum menemukan solusinya….dan saya merasa saya sangat beruntung dapat menjaga kedisiplinan dan tanggung jawab saya dengan hape yang diberikan sejak kecil. (apa mungkin karena saya doyan ngoprek elektronik dari kecil).

  8. menulis dengan hati🙂
    Salam kenal.

  9. ian berkata:

    pak saya ijin copi link bapak untuk saya share di sosial media.

  10. Dinyo berkata:

    yes, totally agree🙂

  11. FIRDA berkata:

    aku ingat, sewaktu SD, aku dikasih HP kecil item merk F### layarnya kuning. bunyinya tulit tulit😀
    ada gamenya juga, inget banget : game MONYET !

    aku paham tipe orangtuaku, mereka selalu membeli barang yang dibutuhkan. aku dan kakakku dibelikan hp dengan alasan agar komunikasi antar orangtua anak tidak terputus.
    mau kemana-kemana kudu menghubungi ortu, jadi nggk repot pinjem sana-sini, lagipula telpon umum jarang dan hanya di lokasi tertentu saja ..🙂

    jadi, menurutku kasih pengertian aja😉

  12. bunda sastra berkata:

    andai seluruh orang tua memiliki pandangan yang sama, tentu anak2 kita g akan dengan mudah dicekoki konten yang g baik……..saya juga kurang sepakat dengan keputusan orang tua membekali anak2nya dengan HP bahkan yang canggih sekalipun, kebetulan saya seorang pengajar n agak miris melihat tingkah anak2 ke sekolah, ke tempat les bawa HP, dirungan tidak disilent, kemudian mereka bertukar foto n gambar……bahkan HP mereka jauh lebih keren n canggih drpd HP guru2 mrk, padahal klw dikaji lagi kebutuhan mereka memakai HP seberapa urgent sih? HP atau semacamnya saya rasa perlu untuk anak2 yg sudah bisa bertanggunng jawab n itu belum dimiliki oleh anak usia SD

  13. zsahra meizhella berkata:

    Reblogged this on zsahrameizhella and commented:
    rrreeaaaddd

  14. Robi Kurniawan berkata:

    kalo sekedar untuk berkomunikaasi sebaiknya hape jadul yang cuma layar hitam putih saja

  15. arlnoinm berkata:

    Aku dibeliin hape pertama aku saat umurku 3 tahun

  16. arlnoinm berkata:

    Aku umur 10 tahun udah dapet iphone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s