Keluhan Sopir Angkot

Sudah lama saya tidak naik angkot ke kantor. Beberapa hari yang lalu saya memutuskan ke kantor naik angkot saja karena hujan seharian mengguyur Bandung. Angkot Panghegar – Dipati Ukur yang saya naiki rutenya melewati jalan Ganesha. Saya naik angkot tersebut dari Jalan Jakarta, penumpangnya hanya seorang ibu dan dua orang anaknya. Sebenarnya saya kurang suka naik angkot yang kosong, khawatir sopirnya sering ngetem lama menunggu penumpang. Tetapi hujan yang sudah deras membuat saya tidak punya pilihan lain, saya naiki saja angkot tersebut. Baru beberapa meter angkot berjalan penumpang yang ibu tadi turun bersama anaknya, jadi tinggallah saya sendiri di dalam angkot.

Angkot terus melaju melewati Jalan Jakarta, Jalan Sukabumi, Jalan Laswi, jalan Riau, hingga memasuki jalan Diponegoro. Tidak ada satupun penumpang yang naik, praktis hanya saya sendiri di dalam angkot tersebut. Saya mulai berpikir supir angkot akan menurunkan saya di Jalan Riau dan meminta naik angkot di belakangnya lalu dia berbalik arah menuju Panghegar lagi. Tetapi tidak, dia terus melaju. Sepertinya supir ini punya tanggungjawab juga mengantarkan penumpang sampai tujuan meskipun penumpangnya hanya satu, yaitu saya sendiri. Saya merasa seperti naik taksi saja, diantarkan secara eksklusif ke Jalan Ganesha. Saya merasa iba kepada supir ini, terbayang setoran ke majikannya hari ini tidak akan tertutupi karena sepi penumpang, yang berarti dia harus ngutang setoran kepada majikannya. Tiba di Jalan Ganesha saya lebihkan sedikit ongkos angkot tanpa minta kembalian lagi.

Pulang kerja saya naik angkot lagi, kali ini naik jurusan Ciroyom-Antapani. Lagi-lagi penumpangnya hanya saya dan seorang ibu. Sepanjang perjalanan melewati Jalan Purnawarman, Jl Aceh, Jl Belitung, Jl Gudang Utara, hingga masuk ke Jl Ahmad Yani tidak ada penambahan penumpang. Si supir mulai mengeluh panjang. Oh nasiiib…. nasiiib, katanya. Olala, dia tampak sedih karena angkotnya sepi. Saya merasakan kesedihannya itu. Melewati Cicadas dia menghela napas panjang kembali, pertanda dia sangat kecewa. Lieuuurrr… euy, katanya. Ya, jelas saja dia bingung bagaimana menutupi setoran hari ini. Angkot hanya berputar-putar saja di dalam kota Bandung dengan satu dua orang penumpang, bagaimana dia tidak sedih. Tidak ada uang yang bisa dibawa pulang untuk anak istrinya di rumah hari ini.

Saya ikut merasakan kesedihan supir angkot. Peralihan moda transportasi dari angkot ke sepeda motor telah mengurangi penghasilan supir angkot. Orang-orang malas naik angkot karena berbagai alasan. Angkot yang sering ngetemlah menunggu penumpang, rutenya yang berputar-putarlah sehingga makin lama waktu perjalanan, kemacetan di jalanan Bandung yang semakin parahlah, dan ongkos yang lebih murah pakai sepeda motor ketimbang naik angkot. Apalagi kredit sepeda motor semakin mudah saja, malah tanpa DP sama sekali. Teknologi skuter matic juga ikut andil mendorong banyak perempuan naik motor di jalan-jalan raya, pemandangan yang dulu jarang kita lihat perempuan membawa motor sendiri. Akhirnya jalanan kota sekarang disesaki sepeda motor, sehingga angkot makin tersisih saja.

Dulu angkot sering dimaki-maki pengendara mobil karena menjadi biang kemacetan di jalan. Bandung dulu sering disebut lautan angkot karena jumlah angkot yang over dosis. Tetapi sekarang saya merasakan jumlah angkot sudah banyak berkurang, banyak angkot yang diistirahatkan karena merugi jika dioperasikan. Justru yang bertambah saat ini adalah mobil taksi. Supir-supir taksi ini sebagian kecil dulunya adalah supir angkot, sebagian besar tetap setia keliling-keliling dengan angkotnya yang selalu sepi penumpang dan dengan keluh kesahnya.

Mau dikemanakan nasib supir angkot itu? Saya juga tidak tahu jawabannya. Yang bisa saya lakukan hanyalah sekali-sekali naik angkot itu, hitung-hitung memberi penghasilan buat supir angkot.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Keluhan Sopir Angkot

  1. Olit berkata:

    Wah . . .catatan yang dramatis namun nyata. . .hehe. . . .ia juga nasib para angkot gmana. . . .bntu doa aja deh buat bangsa ini. . . .amin

  2. alrisblog berkata:

    Dimana-mana memang banyak keluhan dari sopir angkot sejak ojeg merajalela. Gimana lagi memang sudah hukum alam dan hukum manusia,🙂
    Anggap aja memang lagi musimnya…
    Sabar…

  3. jerietea berkata:

    MUNGKIN harusnya pemerintah membatasi batas penjualan kendaraan..khususnya sepedah motor.. karena jalan semakin hari semakin menyempit d karenakan jumlah kendaraan yang tak seimbang dengan luas jalan yang ada..d^_^b

  4. sy rasa sih kang ,, memang tidak ada hal itu yang mutlak selamanya kecuali ketetapan Yang Maha Kuasa .. Keadaan pasti akan brubah lambat atau cepat, roda kehidupan terus berputar dan yaa ,, memang tidak selamany bisnis angkot bisa menjadi tulang punggung lagi .
    zaman berganti, pola hidup juga berganti. tapi , kita harus terus semangat menjalani hidup dan segala tantangan nya ..
    skian ,, =p

  5. wah pak, sekarang udah jaman susah,, apalagi april bbm udah naik lagi!! kasihan rakyat,, hanya jadi korban dari kesemrawutan sistem pemerintahan!!!

  6. Fitri berkata:

    Ngenesss banget mang nasib supir angkot saya juga sedih setiap kali naik motor melihat angkot2 sepi. Tp apa daya kita skr butuh pilihan cpt dan murah. Aupir angkot,Mereka ada fix cost biaya bensin muter2 cari penumpang. Hemm mungkin bisa gerakan pelajar ngangkot.2x seminggu pelajar wqjib naik angkot no jemput no motor. Dan digilir utk pns. Yg macam itu pemerintah masih gampang aturnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s