LSI dan LPI yang Bikin Bingung

Saya bukan penggemar sepakbola, juga bukan hobi sepakbola, mana tidak pernah main bola lagi. Meskipun demikian, saya pemerhati sepakbola juga. Kalau yang main Indonesia lawan negara lain, maka nasionalisme saya ikut terusik untuk mendukung dan akhirnya nonton juga di TV. Kalau yang main kesebelasan asal kampung halaman (Semen Padang atau PSP Padang), maka secara primordial saya pasti memberi dukungan, minimal lihat di TV (tidak perlu ke stadion). Nah, berhubung saya sudah jadi “urang Bandung”, sudah lama tinggal di Bandung dan punya KTP Bandung, maka saya juga bobotoh Persib dalam arti pasif.

Masalahnya saat ini Semen ikut Liga Primer Indonesia (LPI) dan Persib ikut Liga Super Indonesia (LSI), maka saya tidak akan pernah melihat lagi mereka bertanding karena sudah beda “aliran”, he..he. Kisruh sepakbola di Indonesia belum selesai juga rupanya. Jika sebelumnya kisruh dalam kepengurusan PSSI, sekarang kisruh dalam liga sepakbola. Ada dualisme dalam liga sepakbola, yang satu LSI dan satu lagi LPI. Secara kualitas, tim-tim di dalam LSI lebih berbobot dibandingkan LPI, makanya beberapa kesebelasan memilih ikut LSI seperti Persib. Anehnya Sriwijaya FC memilih ikut kedua-duanya, bak LPI maupun LSI. Pemain yang senior dari Sriwijaya disiapkan untuk LSI, sedangkan yang usia 21 disiapkan untuk LPI. Mereka tampaknya cari posisi aman dengan mengikuti kedua liga, jadi jika liga yang satu dianggap ilegal maka ikut liga yang satu lagi masih aman.

PSSI hanya mengakui LPI sebagai liga resmi, yang berarti liga resmi pula yang diakui oleh FIFA. Pemenang LPI nantinya berhak mewakili Indonesia ikut kejuaraan tingkat regional (Asian Championship), sedangkan pemenang LSI tidak dapat kesempatan apa-apa. Ini berarti Persipura yang menjadi juara LSI musim kompetisi yang lalu tidak berhak ikut laga tingkat Asia mewakili Indonesia.

Itulah Indonesia. Para pemimpin dunia sepakbola saja tidak bisa mengurus sepakbola. Mereka (para pengurus sepakbola) mungkin mewakili kondisi pemimpin bangsa saat ini. Bagaimana mengurus negara, mengurus sepakbola saja nggak becus. Kondisi dunia sepakbola mungkin mewakili kondisi masyarakat kita saat ini yang gampang terpecah belah. Maka, jangan heran pula jika pada akar rumput masyarakat sering berkelahi, tawuran, dan rusuh.

Dualisme liga sepakbola sudah terjadi, tiada yang perlu disesali lagi. Saya ambil sisi positif saja. Pluralitas dalam sepakbola tudak bisa dihindari. Pluralitas itu adalah sebuah keniscayaan dan sudah menjadi hukum alam. Disebut begitu karena manusia ini susah diseragamkan sebab pendapat di dalam setiap kepala bisa berbeda-beda. Maka, yang dapat dilakukan oleh PSSI adalah mewadahi kedua liga tersebut agar terus berjalan, lalu empat besar masing-masing liga nanti diadu dalam sebuah kompetisi final untuk mencari juara super primer sepakbola Indonesia. Kalau sudah win-win solution gini, kan sama-sama enak. Setuju tidak?

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke LSI dan LPI yang Bikin Bingung

  1. yulis berkata:

    “PSSI hanya mengakui LPI sebagai liga resmi, yang berarti liga resmi pula yang diakui oleh FIFA. ”
    yang benar LSI yang diakui PSSI bukan LPI…

  2. Asop berkata:

    Akhirnya Pak RD mundur…😥

  3. agung berkata:

    kalau memang jentel para pemimpin Liga PSSI (LSI dan LPI) harus terbuka keuangannya. LPI sponsor, donatur probadi atau menajemenya harus terbuka. sedangkan LSI disubsidi dari APBD (uang rakyat) berapa Milyat per musuim. kalau haya ngotot ingin menang sendiri. hancurlah sepakbola indonesia. tolong dong KPK harus turuntangan

  4. Ping balik: Berhati-hatilah Dengan Yang Kita Percayai | Berlin Sianipar | Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s