Mencoba Ujian Tanpa Diawasi

Hari Jumat minggu lalu saya memberikan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah yang saya ampu. Ini adalah mata kuliah tingkat ketiga. Mahasiswa tingkat tiga saya anggap sudah lebih dewasa dan sudah memahami iklim kehidupan di Informatika yang menghargai kejujuran. Nah, kali ini saya mencoba memberikan ujian tanpa diawasi. Ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang saya terdahulu (Kalau Perlu, Ujian Tidak Usah Diawasi). Saya ingin mengetes kejujuran mahasiswa dengan tidak menyontek atau berbuat curang lainnya dalam ujian. Bisakah?

Seharusnya bisa kalau kita memegang komitmen mereka sejak awal bahwa mahasiswa Informatika ITB tidak akan mau berbuat curang dalam ujian. Malu dong sebagai mahasiswa ITB melakukan perbuatan menyontek, apa kata dunia? Mahasiswa Informatika (IF) ITB punya harga diri, mereka tidak akan mau menodai kepercayaan (trust) dosen yang diberikan kepada mereka. Kepercayaan itu sangat mahal, lebih mahal dari harta benda sebanyak apa pun. Sebelum ujian saya sudah menekankan bahwa anda (mahasiswa) menghadapi dua ujian sekaligus, ujian mata kuliah dan ujian keimanan.

Ujian keimanan? Ya, tentu saja. Iman mereka diuji, sejauh mana ujian yang tidak diawasi itu menggoda mahasiswa untuk berbuat curang. Peluang untuk menyontek, melihat catatan, berbisik-bisik meminta jawaban kepada teman, atau bekerjasama dalam ujian terbuka lebar. Tiada mata pengawas yang melihat, tetapi “mata” Tuhan dan malaikat-Nya tidak bisa dibohongi.

Kami (dosen pengampu) memasuki ruang ujian bersama asisten mata kuliah. Ujian diadakan di tiga ruang kelas yang berbeda, karena jumlah peserta kuliah 100 orang lebih. Lembar soal dan lembar jawaban dibagikan kepada mahasiswa. Setelah memberikan petunjuk umum, kami pun meninggalkan ruang ujian dengan modal kepercyaaan tadi. Saya yakin mahasiswa akan memegang teguh kepercayaan yang kami berikan. Tidak perlu ada CCTV, tidak perlu ada mata kamera yang mengawasi mereka. Mata kepercayaanlah yang mengawasi diri mereka sendiri.

Tentu saja ujian tersebut tidak kami lepas begitu saja. Setengah jam kemudian kami memasuki ruang ujian untuk memastikan semua baik-baik saja, sekaligus untuk memberi kesempatan bertanya apakah ada yang tidak jelas pada soal ujian. Setelah itu kami kembali ke ruangan kerja masing-masing.

Saya sempat mengintip dari jauh, dan benar saya melihat mereka mengerjakan soal dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda mereka melakukan kecurangan. Memang lembar jawaban belum saya periksa untuk lebih memastikan lagi tiada jawaban yang persis sama. Namun mata batin saya mengatakan mereka tidak menyalahgunakan kepercayaan yang kami berikan. Jika terbukti ada kecurangan, saya siap kembali ke cara konvensional lagi, yaitu mengawasi ujian.

Semoga saya tidak salah duga.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Informatika. Tandai permalink.

16 Balasan ke Mencoba Ujian Tanpa Diawasi

  1. Adrian berkata:

    Sbg alumni IF ITB saya turut bangga pak, adek2 kelas makin terasah kejujurannya.

    Calon bibit unggul pemimpin bangsa :)

  2. Dode berkata:

    Nice share Pak… Salut Bapak berani melawan “kebiasaan” demi perubahan ke arah yang lebih baik….

  3. yusi berkata:

    Assalammualaikum wr wb.
    Dear Pak Rinaldi,
    Saya jadi tergelitik ingin meninggalkan komentar :D

    “.. ingin mengetes kejujuran mahasiswa dengan tidak menyontek atau berbuat curang lainnya dalam ujian. Bisakah?”
    Parameter keberhasilan atau kegagalan tesnya apa, Pak, kalau boleh tahu?

    Untuk membuktikan bahwa pernyataan “semua mahasiswa telah berlaku jujur” adalah salah, cukup dilakukan dengan menemukan satu kecurangan.

    Akan tetapi bukankah “tidak ada dua jawaban yg persis sama” tidak cukup dan .. (terjemahan necessary and sufficient apa, ya, Pak?) untuk membuktikan bahwa pernyataan tersebut adalah benar?

    Lepas dari itu, saya salut dengan komitmen bapak untuk mempercayai mahasiswa!

    Seingat saya tapi, saya dulu merasa tenang kalau ada pengawas ujian. Karena biasanya saya memiliki pertanyaan aneh-aneh tentang ujiannya yang perlu ditanyakan kepada pengawas, dan… saya merasa aman tidak ada yg akan bertanya / minta contekan kepada saya hehehe

    • rinaldimunir berkata:

      Agak susah ya menentukan parameter kuantitatif untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan. Baru nanti dketahui jika ada laporan dari mahasiswa yang menceritakan ada temannya yang melakukan kecurangan.

      Berkas jawaban sendiri belum saya periksa (hingga komentar ini ditulis. Namun saya yakin mahasiswa tidak ada yang menyontek. Saya sudah mengenal baik karakteristik mahasiswa IF, mereka tidak akan mau mengkhianati kepercayaan yang kami berikan. Namun saya sudah siap jika saya gagal.

      Seperti yang saya sebutkan di atas, saya tidak melepas sama sekali ujian itu. Setiap setengah jam saya masuk sebentar ke setiap kelas untuk mengecek dan memberikan kesempatan bertanya jika ada soal yang tidak jelas.

      • yusi berkata:

        Hehehe, iya, Pak, soal kejujuran, hanya orang itu sendiri dan Tuhan yg bisa mengukur dengan akurat :D

        Saya terlewat tampaknya tentang kontrol setiap setengah jam itu. Saya kira hanya sekali setelah mulai saja. Jadi semacam menggunakan metode sampling, ya, Pak :)

        Semoga memang tidak ada yang berbuat curang, ya, Pak Rinaldi.

  4. otidh berkata:

    Saya salut Pak dengan kepercayaan bapak terhadap mahasiswa ITB. Saya pikir atmosfer persaingan di STEI yg sangat ketat turut memengaruhi kejujuran itu Pak. Itu yang saya rasakan sejak saya masuk STEI. Kita boleh bekerja sama saat sebelum ujian (baca: belajar bareng). Tapi saat ujian, pantang bekerja sama (baca: meminta & memberikan contekan).

    Tapi maaf pak, bukan bermaksud membuka aib, tapi saya pikir ini fakta yg harus diketahui, selama mengikuti ujian di IF-ITB ini jujur saya pernah melihat sekelompok orang yang bekerja sama saat ujian. Awalnya saya hanya curiga. Tapi ternyata ada teman lain yang jg melihat mereka. Pengalaman itu terjadi saat saya masih tingkat 2. Semoga saja pengamatan saya salah.

    Sekedar usulan pak, sebaiknya saat ujian mahasiswa tidak diperbolehkan izin ke toilet. Ini salah satu langkah antisipasi juga agar mereka tak berbuat curang. Skrg HP sudah canggih2. Slide kuliah bisa dibaca dari HP. Bukan tidak mungkin izin ke toilet itu disalahgunakan.

    • Rinaldi Munir berkata:

      Terima kasih Dhito, namanya juga uji coba. Pada dasarnya mahasiswa di IF ITB itu anak yang baik. Jika kita sudah tanamkan integritas kepada mereka, kita ingin melihat penerapan integritas itu pada saat ujian.

  5. ozylog berkata:

    Selama saya kuliah di IF. Alhamdulillah tidak pernah nyontek dan dicontek *ga ada yg mau nyontek sm saya juga…hehehe.

    Saya ngeliat teman2 angkatan saya pun tidak pernah ada yang nyontek. Kalo pun ada saya yakin jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang jujur. Saya pun cukup bangga jika dibandingkan universitas lain seperti u**sba. Menurut info dari temen saya nyontek-menyontek pada saat ujian disana menjadi sesuatu yang lumrah.

  6. ghifar berkata:

    Salut dan semoga tidak ada indikasi kecurangan setelah nanti bapak periksa jawabannya :)

    Ingin menerapkan juga di tempat kami (U*p*r) tapi sepertinya cukup sulit Pak. Masih belum berani untuk memberikan kepercayaan seperti itu kepada para mahasiswa.

  7. Beberapa minggu ini, saya sendiri juga sedang menjadi pengawas UTS. Mencoba tidak mengekang mereka, yang terjadi malah ribut dan rusuh.
    Tapi, ketika saya mengawas yang kelasnya 01, saya selalu merasa tentram, karena 01 itu terkenal sebagai kelas mahasiswa-i yang IPK nya diatas 3.01. Alhamdulillah, mereka tentram dan tidak menyontek.

  8. Sukrisno berkata:

    Pak Rin, karena saya lebih banyak mengajar di program Magister (S2), tingkat kepercayaan bhw mereka lebih dewasa dan punya harga diri yang lebih tinggi untuk bertindak “curang” lebih meyakinkan. Peringatan untuk tidak “bekerjasama” tetap saya tekankan juga di awal ujian.
    Untuk mengurangi kemungkinan”kerjasama”, saya berikan kesempatan ujian yang bersifat “Open book” dengan sifat pertanyaan yang lebih analitis dibanding di S1 dan soal kasus. Sehingga jika diperhitungkan dengan benar mereka tidak punya waktu untuk “kerjasama” alias nyontek. Karena mestinya penyelesaian soal kasus perlu konsentrasi dan bagi mereka akan lebih sulit untuk saling mencontek, kalaupun iya akan lebih mudah diketahui dari hasil ujiannya.

    Wassalam,

    Sukrisno

  9. Sukrisno berkata:

    Ma’af ada sedikit kesalah yang mengganggu, pada kalimat pertama .. untuk bertindak curang, seharusnya dibaca … untuk TIDAK bertindak curang … Tks

  10. nonni berkata:

    kaka aku minta gambarnya yaa? boleh ga ? buat posting di blog aku ?

  11. Budi Muhammadi berkata:

    Salam kenal Pak.
    Saya guru matematika, Dulu pernah ngajar di Ponpes Darul Mujahadah Prupuk Margasari Kab. Tegal. Sangat hebat. Anak-anak, ketika pelajaran mereka saling berbantu mengerjakan latihan soal. Anak yang tak mampu minta tanya pada yang mampu/pinter. dan yang pinter tak pelit. Tapi ketika ujian/ulangan, suasana kelas seperti kuburan. sepi. tak ada suara berisik. sampai-sampai saya tinggal keluar dan saya intip dari jendela, mreka juga tetap jujur.
    Sekarang saya sudah tidak mengajar di sana lagi. Saya pindah di SMP6 Pekalongan. Harapan saya mereka tetap masih seperti yang dulu.
    Itu semua karena doktrin tentang keimanan yang sudah mendalam di awal tahun peljaran.
    Tetapi menurut saya Pengawas tetap perlu ada. Barangkali terdapat hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, kita tidak kesalahan. Makasih

  12. Ping-balik: Pakai “Kacamata Kuda” Agar Tidak Nyontek | Catatanku

  13. dia's mom berkata:

    Salam kenal pak. Saya dari EL. masih satu STEI, tapi angkatan saya ada kelompok yang bekerja sama saat ujian secara terorganisir, ibarat client & server di jaringan komputer.

    Tapi menurut saya, ada satu dosen EL yang bisa membuat soal ujian sedemikian sehingga kita tidak sempet nyontek, yaitu pak Wirana, dosen Sistem Komunikasi Optik.

    Tapi saya dapat A lho.. Nah, bagaimana caranya bisa A.
    Ujian SKO selalu open catatan (bukan textbook tebal itu, hanya catatan kuliah. materi ujian hanya dari yang diajarkan, saya suka ini, karena dalam realita, untuk menyelesaikan masalah juga membutuhkan buku/guideline)
    Waktu dibuat singkat, rentang waktu sesuai waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan.
    Jadi? Harus rajin mendengarkan kuliah dan mencatat. Fotokopi catatan? Bisa, tapi jika tidak mengerti isinya dan posisi petunjuk itu ada dimana, habislah waktu untuk buka-buka dulu.
    Jadi mahasiswa penghafal soal? mengandalkan bank soal ujian tahun lalu? Gak laku, soal dan isi catatan selalu berubah, walaupun sedikit. Mau nyontek? Bagaimana mau nyontek (client) kalau yang mau memberi contekan (server) belum selesai mengerjakan. Ketika client mau menyalin tulisan server, baru menulis sebentar, waktu sudah selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s