Menjadi Alumni ITB yang Rendah Hati dan Tidak Sombong

Setelah membaca tulisan seorang head-hunter tentang alumni ITB, saya cukup lama termenung. Kalau mau baca tulisannya, klik ini: Kata Mereka Tentang ITB. Sebenarnya kritik terhadap alumni ITB yang dikesankan arogan, sombong, songong, kaku, dan sederet cap negatif lainnya sudah sering saya dengar. Apalagi jika alumni ITB itu dibanding-bandingkan dengan lulusan perguruan tinggi lain. Namun karena sekarang ini zaman digital, tulisan semacam itu sangat cepat beredar di dunia maya, maka saya pun terhenyak untuk berpikir kembali.

Tanpa bermaksud bertindak defensif, kritik di dalam tulisan tersebut harus diterima dengan hati lapang sebagai bahan introspeksi. Tidak perlu pula kita sebagai orang ITB merasa panas dan bersikap reaktif. Justru kalau disikapi dengan reaktif akan makin membenarkan pandangan bahwa alumni ITB memang seperti yang dituduhkan.

Ambil saja yang positifnya, santai aja lagi. Yach, mungkin begitulah kesan (sebagian) orang tentang (sebagian) alumni ITB, jadi tidak perlu pula alumni ITB membela diri. Saya katakan “sebagian” karena tidak semua alumni ITB mempunyai sifat negatif seperti yang disebut di dalam tulisan tersebut, dan tidak semua orang punya pandangan stereotype negatif seperti demikian. Sebagian yang dikatakan di dalam tulisan tersebut mungkin ada benarnya, tetapi tidak bisa dirampatkan (digeneralisasi) semua alumni ITB bersifat demikian. Merampatkan (generalisasi) suatu kasus di lapangan dengan keseluruhan alumni ITB jelas berbahaya. Yang ditemukan di lapangan itu tidak mewakili karakteristik keseluruhan alumni.

Setiap mahasiswa yang diterima di ITB pasti merasa bangga karena berhasil masuk perguruan tinggi sains dan teknologi terbaik di negeri ini. Rasa bangga itu wajar saja karena tidak semua siswa SMA di negeri ini mempunyai kesempatan menanam impian masuk ITB. Sejarah ITB yang panjang (sejak 1920) dan reputasi para alumninya menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi mahasiswanya. Hal ini juga ditunjang dengan tradisi ITB sejak dulu yang selalu memilih calon mahasiswa terbaik, sehingga kesan ITB itu perguruan tinggi hebat tidak bisa dielakkan. Di setiap negara pasti ada kebangaan perguruan tinggi seperti ini, tengolkah Harvard University di Amerika, Cambridge University di Inggris, Tokyo Institute of Technology di Jepang, dan lain-lain. Bahkan tidak usah jauh-jauh melihat perguruan tinggi, kebanggaan bersekolah di SMA terbaik pun melekat pada setiap alumninya.

Bangga sih boleh, tetapi sombong jangan. Sebenarnya saya kurang suka menyebut istilah sombong itu. Istilah yang lebih tepat adalah sangat percaya diri (very confidence) kalau tidak bisa disebut over confidence. Para mahasiswa dan alumni ITB pasti setuju kalau mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kalau berhadapan dengan lulusan perguruan tinggi lain dalam suatu ajang kompetisi mereka sangat PD, tiada rasa takut, malu, rendah diri, dan sebagainya. Nah, sikap rasa percaya diri yang sangat itu terlanjur dipahami orang luar sebagai bentuk kesombongan. Apa boleh buat, itulah persepsi masyarakat, meskipun mahasiswa dan alumni ITB tidak pernah punya niat atau terpikir menyombongkan diri. Amit-amit deh.

Namun, saya tidak memungkiri memang ada alumni ITB yang sombong, kaku, dan arogan. Ada dan itu pasti, sebab yang masuk ITB itu kan orang yang bermacam-macam sifat dan perangainya. Sikap merendahkan dan meremehkan orang lain terihat dari ucapan dan cara berpikir alumni yang dikatakan sombong itu. Tetapi berapa jumlahnya? Apakah semua? Mereka ini adalah sebagian alumni (saya tidak mau menyebut semuanya) yang “lupa diri lupa tempat” sebab meneruskan kebanggaan sebagai warga Ganesha menjadi kesombongan di luar. Mereka sudah terbiasa bergaul di lingkungan ITB yang penuh dengan orang-orang hebat, maka setelah di luar mereka lupa kalau lingkungan mereka bukan ITB lagi, tetapi masyarakat yang beraneka ragam. Nah, orang luar yang “kaget” dengan sikap angkuh itu akhirnya menilai tipikal lulusan ITB seperti itu.

Di antara alumni ITB yang dikesankan sombong dan arogan itu, saya yakin justru masih lebih banyak alumninya yang biasa-biasa saja dalam bersikap, rendah hati, tidak sombong, tidak arogan, dan pandai menempatkan dirinya di tengah orang lain. Mereka dulu adalah mahasiswa yang memang sejak kecil sudah mempunyai sifat-sifat yang baik. Jadi, pendidikan selama 4 tahun di ITB tidak melunturkan sifat asli yang memang sudah baik dari sononya. Yang sombong sejak kecil mungkin akan makin sombong setelah masuk ITB, apalagi setelah lulus. Namun emas tidak bisa bercampur dengan besi, besi berbeda dengan loyang, bukan? Yang sombong ada, yang baik dan rendah hati juga ada di mana-mana.

Saya sendiri sebagai dosen di ITB pada setiap kesempatan kuliah selalu berpesan kepada mahasiswa saya agar mereka memakai ilmu padi, yaitu semakin berisi semakin merunduk. Saya katakan tidak ada tempat bagi orang sombong di muka bumi. Di atas langit masih ada langit. Menjadi sombong itu percuma sebab akan dijauhi oleh orang lain. Buat apa manusia itu menyombongkan diri kalau ia menyadari bahwa dirinya sebenarnya adalah tempat penimbunan kotoran. Di hidung ada kotoran, di mata ada kotoran, di gigi ada kotoran, di kulit ada daki, begitu juga di rambut, di kuku, dan di dalam perut ada kotoran. Jadi, manusia yang berjalan di muka bumi dengan kesombongan seharusnya merasa malu bahwa dirinya sebenarnnya adalah gudang kotoran berjalan.

Maka, sifat terbaik bagi siapapun, termasuk mahasiswa dan alumni ITB, adalah rendah hati. Rendah hati itu adalah sifat yang mulia, sebaliknya rendah diri adalah sifat tercela.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

12 Balasan ke Menjadi Alumni ITB yang Rendah Hati dan Tidak Sombong

  1. Reisha berkata:

    Di Jepang kayaknya The University of Tokyo Pak.

  2. honeylizious berkata:

    saya kok baru tahu ITB itu universitas terbaik di Indonesia ya? dinilai dari mana pak? apakah dosen? mahasiswa? fasilitas atau apa?

  3. alrisblog berkata:

    Over confidence memang mengesankan akan kesombongan, lain dengan songong. Songong, kalau saya tidak salah, lebih kepada sifat keras kepala. Memang tidak semua alumni ITB sombong, hanya beberapa saja. Tapi beberapa itu dalam persepsi telah menimbulkan gara-gara nila setitik rusa susu sebelanga. Guru saya dulu alumni arsitektur kampus ganesha tapi pembawaannya tipikal orang berilmu padi.

  4. Priatmoko berkata:

    Dosen saya juga dari ITB, baik sebaik penulis artikel ini🙂

  5. rosa berkata:

    Setelah saya diluar ITB mungkin ada sebagian yang saya rasakan seperti itu Pak😀. Apakah memang banyak contoh orang ITB yang sombong ya Pak😀. Seperti misalnya saya sudah beberapa kali meng-add adik kelas yang concern ke lomba pemrograman untuk mungkin berkenan sharing pengalaman dan ilmu ke mahasiswa Ilkom UPI. Tapi nampaknya sampai sekarang belum ada yang berkenan😀. Ya mungkin mereka sibuk ya Pak🙂.

  6. who am I? berkata:

    Nimbrung…
    Saya alumni Informatika 9X, wiraswasta. Sekedar berbagi ilustrasi cerita. Silakan diinterpretasikan sendiri mengenai apa rasanya jadi anak ITB.

    Ilustrasi 1:
    Kapan hari ada cerita dari 3 mahasiswa/i ITB bahwa mereka bingung ketika merangkul teman2 SMA (skrng kuliah di Perguruan Tinggi lain) utk membuat 1 kegiatan bersama di daerah asal. Teman2 dari PT lain tsb seperti enggan utk berbaur. Padahal anak2 ITB ini ingin dianggap sama saja dengan yg lain, dan bersikap biasa saja seperti jaman SMA dulu. Sejauh ini berdasarkan diskusi kami, kemungkinan alasannya adalah:
    – nama ITB yang “terdengar” besar di luar sana itu sudah menciptakan benteng pemisah
    – teman2 ini merasa “minder” seolah merasa kurang pantas berdekatan dengan anak ITB
    >> Batin anak ITB? “Biasa sajalah dlm memandangku. Aku masih seperti yang dulu… butuh makan minum tidur duit… dan ke WC… Mau ujian jg belajarnya kejar semalam sebelumnya… Kuliah jg belum tentu lulus…”

    Ilustrasi 2:
    Alumni ITB itu kalau sukses, dibilang “halah… wajar saja dia begitu… dia kan anak ITB”
    Alumni ITB itu kalau belum sukses atau tidak terlihat sukses, dibilang “gimana sih… anak ITB kok cuma begitu2 saja?”
    Seorang alumni bercerita ketika dia punya toko komputer, komentar orang pun “orang ITB kok cuma jual komputer…?”
    >> Batin anak ITB? “Mau sukses atau ga sukses… komentar yg datang selalu membikin serba salah dan ga ada bagus2nya. Kenapa kalau ITB dituntut mesti harus “lebih” dari yg lainnya?”

    TANGGAPAN UTK TULISAN PAK SATRIO:
    kalau dibilang anak ITB sombong: Mungkin lebih nyaman didengar “Saya pernah beberapa kali ketemu anak ITB yg sombong”. Tapi kalau mengenai PD, maka boleh lah dibilang “sebagian besar anak ITB sangat PD”.

    Kalau dibilang anak ITB suka bermimpi besar:
    Sebenarnya,siapa saja boleh berpikir besar. Bahkan berpikir besar itu wajib kalau kita baca buku2 motivasi. Nah, bahwa anak ITB suka bermimpi besar, rasanya wajar saja. Apa yang masuk ke otak anak ITB (saya tidak bisa sebut angka berapa bnyk) memang menginspirasi dan mendorong si pemilik otak utk menjadi berpikir dan berbuat hal besar utk bangsa & negara. Dosen-dosennya dipinjam sekian tahun ke pusat sebagai staf ahli, deputi, dirjen, dll utk kepentingan bangsa (idealisme-nya sih begitu) sehingga diskusi dengan dosen sering masuk ke cakupan yg luas yaitu Indonesia tercinta, bahkan kancah internasional karena tidak jarang menjadi duta/perwakilan/peserta di kegiatan berskala internasional. Project2 yang dikerjakan baik yg berupa riset ataupun komersiil juga bermuatan kebangsaan. Belum lagi dari isinya Salam Ganesha yg diseru2kan saat orientasi mahasiswa baru jg sudah menggambarkan apa semangat yg terkandung di dalamnya “Salam Ganesha…Bakti kami Untukmu… Tuhan, Bangsa & Alamamater… Merdeka”. Jadi teringat bahwa Bung Karno Sang Proklamator juga lulusan ITB. Otomatis semangat kebangsaan untuk menjadi garda depan memajukan negeri ini terasa sekali mengalir di generasi penerusnya.

    Sejauh ini, pendapat saya sebagai orang dalam begitu. Terima kasih utk yg mengkritik. Kritik itu memang tepat bila ditujukan pada yg bersangkutan (orang2 yg pernah diinterview). Saya sendiri berterima kasih pada ITB, negara, dan rakyat Indonesia atas akses&fasilitas pendidikan yg diberikan pada saya. Waktu itu ITB msh disubsidi uang negara. Jadi sudah sepatutnya kita yang mendapatkan subsidi dari negara berkewajiban moral utk berbuat sesuatu utk kebaikan bangsa ini. Mohon doa restunya…..

  7. wahyuewmuslim berkata:

    sudahlah lakukan saja yang terbaik untuk bangsa, saya alumni itb juga, biarkan orang berkata apa, KITA yang paling tahu diri kita sendiri, yang penting kerja nyata kita untuk bangsa dan masyarakat

  8. beeoshop berkata:

    hmmm ngga juga ah, aq pernah ngambil kursus bahasa inggris di upt itb, anak2nya pada ngebaur koq, wellcome sama anak2 diluar almamaternya. trus kebetulan temen kerja q ada alumni itb jg..dia jg biasa aja orgnya. rendah hati malah🙂

  9. GEDUNG ELNUSA JAKARTA berkata:

    .
    Saya Gak suka ITB. Tapi mmg benar beda di kantor kami. Anak UI, UGM, sepertinya lebih rendah hati. Mereka 1 Angkatan… masuk dan recruitmentnnya barengan. Pandai sih sama saja. Cuma yg ITB terlalu Over Confident.
    Pak Saya Bosen kerja di sini.
    Pak boleh saya resign tapi terus nanti klo suatu saat saya masuk lagi kerja di sini.bisa ??… ckckckkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s