Mudahnya Membeli Miras di Bandung

Saat ini lagi ramai “perselisihan” antara Kemendagri dan beberapa Pemerintah Daerah. Kemendagi berencana mengevaluasi dan membatalkan Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur peredaran minuman keras (miras), karena sebagian pasal atau seluruhnya dianggap bertentangan dengan Peraturan Pemerintah yang lebih tinggi. Kontan saja ancaman Kemendagri tersebut memancing unjuk rasa dan penolakan di daerah tingkat 2 yang disebut bermasalah tersebut. Kaum agamawan dan kelompok masyarakat bereaksi keras menentang tindakan Kemendagri tersebut (baca kontranya di sini).

Daerah-daerah yang “bermasalah” dengan Perda tersebut diantaranya Kota Bandung, Kota Tangerang, Kota Indramayu, Bali, Pamekasan, Maros (Sulsel), Penajam, Sorong, dan Balikpapan. Yang menarik adalah daerah yang memiliki Perda miras tidak seluruhnya daerah yang mayoritas Islam. Ada Bali dan Sorong yang mayoritas non-muslim, padahal dalam ajaran agama selain Islam meminum miras itu tidak haram atau dibolehkan (CMIIW). Yang mengherankan adalah Bali juga memiliki Perda miras padahal kita tahu Bali adalah daerah tujuan wisata dunia, dan semua orang mahfum bahwa minuman keras itu identik dengan dunia hiburan dan pariwisata. Keberadaan Perda miras di Bali dan Sorong seakan membantah tudingan politisi beberapa tahun lalu yang selalu curiga dengan Perda syariah dan mengatakan Perda miras tersebut sebagai salah satu bentuk Perda syariah. Nyatanya Bali dan Sorong sendiri memiliki Perda yang mengatur peredaran miras.

Baiklah, saya tidak akan membahas pro kontra tentang perdebatan Perda miras tersebut. Biarkan perbedaan pendapat itu muncul sebagai sebuah proses demokrasi. Sebagai seorang muslim keyakinan saya tidak akan pernah berubah bahwa meminum minuman keras itu hukumnya haram, berapapun kadar alkohol di dalamnya. Oleh karena itu Perda miras tersebut saya dukung sepenuhnya. Keberadaan miras di tengah mayoritas orang yang tidak mengkonsumsinya tentu hal yang mengherankan. Oleh karena itu Perda miras tersebut mengatur agar miras hanya dapat diperjualbelikan di tempat-tempat tertentu saja seperti kafe dan hotel berbintang. Jadi bagi mereka yang tidak menganggap miras haram, mereka masih tetap dapat membelinya di tempat-tempat itu. Perda tersebut sudah mengakomodasi kelompok orang yang memang hobi minum miras dan kelompok mayoritas yang menolak miras.

Yang menyedihkan adalah di kota saya sendiri, di Bandung, minuman keras itu bebas beredar dan mudah didapat. Perda miras yang sudah dibuat oleh DPRD Kota Bandung dan telah diberlakukan itu tidak mempunyai taring. Perda tersebut berbunyi bahwa segala minuman beralkohol berapapun kadarnya hanya dapat dijual di kafe dan hotel berbintang. Namun kenyataannya lain, kita mudah menemukan penjualan bir dan minuman keras level berat di supermarket, minimarket, bahkan di warung-warung pinggir jalan. Pelaku yang menjualnya tidak pernah dihukum karena melanggar Perda tersebut.

Di Bandung banyak bertebaran minimarket seperti Yomart, Indomart, Circle K, dan Alfamart, selain supermarket besar seperti Yogya, Griya, Carefour, Hypermart, dan Superindo. Di rak-rak minuman botol-botol minuman keras bercampur dengan botol minuman ringan. Pembelinya umumnya anak muda. Suatu kali pada hari Sabtu menjelang malam minggu, ketika saya sedang berbelanja di supermarket dekat rumah, beberapa remaja tanggung terlihat celingak-celinguk mencari B*r Bin*an*. Mereka memborong beberapa botol bir untuk kumpul-kumpul malam mingguan. Udara malam Bandung yang dingin memang cocok untuk minum minuman yang menghangatkan badan, tetapi yang dipilih oleh remaja-remaja tadi adalah minuman beralkohol.

Untuk apa miras tersebut mereka beli? Tentu saja untuk mabuk-mabukan sambil nongkrong di jalan. Kadang-kadang miras tersebut dioplos dengan minuman suplemen untuk mendapatkan efek mabuk yang lebih hebat. Bagi anak muda yang tidak mampu membeli miars yang mahal, mereka tahu tempat-tempat menjual miras murahan yang diproduksi secara gelap. Miras murahan tersebut dioplos dengan berbagai ramuan “aneh” seperti obat nyamuk dan serbuk suplemen, lalu diminum ramai-ramai sampai mabuk hingga esok pagi. Tidak jarang banyak pemuda yang mati karena minuman oplosannya menimbulkan efek racun. Sudah banyak kasus kamatian akibat pesta miras, tetapi tetap saja tidak menimbulkan efek jera bagi orang lain yang tidak belajar dari kasus yang sama. Akibatnya setiap tahun selalu saja muncul berita di media massa tentang kematian akibat pesta miras.

Kita sepakat bahwa miras dapat menimbulkan penyimpangan sosial. Perilaku manusia dibawah keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol (mabuk misalnya) dapat berbuat tindakan yang destruktif atau amoral, seperti perkelahian, memperkosa, bahkan membunuh. Para anggota geng motor di Bandung yang sering melakukan aksi perusakan brutal atau bahkan melukai orang hingga terbunuh biasanya beraksi setelah menenggak miras. Itu belum termasuk kasus-kasus perkosaan yang sering dilakukan dalam keadaan mabuk, dan perkelahian antar kampung karena dipicu aksi sepele dalam pengaruh tidak sadar. Sudah sering kasus-kasus semacam ini terjadi, namun akar penyebabnya yaitu miras, tidak pernah berhasil diselesaikan hingga kini.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

6 Balasan ke Mudahnya Membeli Miras di Bandung

  1. rindu berkata:

    ntar kalau mendukung perda pelarangan miras dibilang sok suci sama gak modern loh😀 *miris*

  2. petra berkata:

    susah juga yah,,,
    bir-bir yang dijual di minimarket itu gak seberat minuman beralkohol yg dijual di kafe atau hotel…
    yang salah khan ya yang minum oplosan,,
    tanpa bir dijual di minimarket pun, minuman keras oplosan yg bahannya dari alkohol buat obat luar pun banyak bisa bikin…😀

  3. honeylizious berkata:

    miras miris mirus😥

  4. zharufa berkata:

    “karena sebagian pasal atau seluruhnya dianggap bertentangan dengan Peraturan Pemerintah yang lebih tinggi.” ,

    sudah tidak ingat aturan Allah…
    Kecewa saya…

    • iwan berkata:

      Setuju bung zharuva saya juga kecewa maaf maaf kata hukum Allah di kesampingkan nauzubillah mau jd apa bangsa ini seolah olah menantang Allah

  5. Ping balik: Berterimakasihlah Kepada FPI | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s