Bapak Penjual Amplop Itu Rajin Shalat

Saya bertemu lagi dengan Bapak penjual amplop di depan Masjid Salman. Sudah beberapa minggu saya tidak melihatnya berjualan pada hari Jumat di depan Salman, tetapi kali ini saya “beruntung” bertemu dia lagi. Tadi siang saya agak telat menuju Salman untuk shalat Jumat, saya datang ketika adzan mulai berkumandang. Ketika berjalan memasuki jalan lingkar Taman Ganesha yang menuju Masjid Salman ITB, saya melihat seonggok dagangan yang ditinggal pergi pemiliknya. Saya yakin itu pasti dagangan Bapak penjual amplop sebab ada beberapa kotak amplop yang ditutupi kertas kardus di atasnya. Tas lusuh di atas tembok batu di belakang itu pasti tas miliknya.

Dagangan Bapak penjual amplop, ditinggal dulu karena pemiliknya shalat Jumat

Bapak penjual amplop itu ternyata bernama Pak Darta, bukan Pak Suhud seperti yang ditulis oleh Romi yang mewawancarai dia beberapa waktu yang dulu. Alhamdulillah ternyata Pak Darta tidak pernah lalai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat. Dulu, ketika tulisan pertama tentang Bapak itu saya muat di blog ini ada pembaca yang menyangsikan dia seperti pedagang kaki lima lain di sekitar Salman yang tetap berjualan dan tidak ikut shalat Jumat. Tetapi, Pak Darta tidak termasuk pedagang seperti itu. Dia tinggalkan dagangannya begitu saja ketika adzan berkumandang lalu berjalan menuju masjid untuk shalat Jumat.

Selesai shalat Jumat saya berniat menemui Bapak itu lagi untuk membeli amplopnya. Saya ingin membeli sepuluh bungkus lagi. Amplop yang dulu saya beli belum pernah terpakai hingga saat ini, tetapi tidak apa-apa saya ingin membelinya lagi. Saya percaya bahwa dagangan orang-orang kecil itu mengandung barokah, karena ada ketulusan, kejujuran, dan perjuangan hidup di dalamnya.

Bapak itu sudah selesai shalat Jumat dan sudah berada di depan dagangannya. Ketika langkah saya semakin mendekat, saya perhatikan beberapa orang silih berganti membeli dagangan amplopnya. Ada yang membeli satu bungkus, dua bungkus, dan sebagainya. Alhamdulillah, selalu ada saja rezeki buat si Bapak itu ya. Pembeli umumnya melebihkan pembayaran dengan niat sedekah (begitu kira-kira yang saya perhatikan).

Setelah suasana agak sepi baru saya dekati Pak Darta. Penampilannya sekarang terlihat lebih segar dibandingkan pertama kali saya bertemu dia dulu, tetapi tetap seja raut kerentaan, tangan bergetar, dan suara lirihnya masih melekat. Sambil membeli saya ingin tanya-tanya sedikit. Pak Darta memang tidak kenal saya dan beliau juga tidak tahu kalau saya menulis tentang kisahnya, tapi itu tidak penting.

Tukang koran yang berjualan di depan Taman Ganesha ikut menghampiri kami. Rupanya para pedagang di sekitar Taman Ganesha itu terlihat peduli dengan Pak Darta. Sejak tulisan pertama saya tentang Bapak penjual amplop dimuat di blog ini, sudah banyak orang yang datang mencari dia sehingga para pedagang di sana hafal dengan Pak Darta. Para pedagang itu pula yang menjaga barang dagangan Pak Darta bila bapak itu shalat di masjid Salman. Ah, siapa pula orang orang yang tega mencuri dagangan amplop Pak Darta.

Saya yakin Pak Darta adalah tipikal muslim yang taat. Beberapa kali saya pernah melihat dia — tapi bukan pada hari Jumat — mengemasi dagangannya ketika adzan Dhuhur berkumandang dari Masjid Salman. Pak Darta menitipkan tas yang berisi dagangan amplopnya kepada pedagang martabak mini di sekitar situ, lalu dia berjalan dengan pelan menuju masjid untuk mengambil wudlu dan shalat di dalam. Barakollah pak, meskipun miskin dan sudah renta tetapi tidak lalai dengan kewajiban agama.

Pak Darta sedang memasukkan 10 bungkus amplop yang saya beli

Pak Darta bercerita ada empat kali dia kedatangan orang-orang ke rumahnya di Bale Endah, Kabupaten Bandung. Alhamdulillah, ada saja orang-orang baik hati yang datang membantunya. Pak Darta berkata dengan nada lirih bahwa dia memerlukan uang untuk memperbaiki rumahnya yang sudah butut. Saya belum pernah ke rumahnya, belum punya kesempatan ke sana. Tapi, kalau anda ingin datang melihat rumahnya, ini saya kasih alamatnya setelah saya minta: Pak Darta, RT 06 RW 01 Desa Cipicung, Manggahang, Bale Endah, Kabupaten Bandung. Bale Endah itu kecamatan yang letaknya di selatan kota Bandung.

Mudah-mudahan Pak Darta tetap sehat dan istiqmah sebagai seorang muslim yang taat. Amiin.

Tulisan ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

32 Balasan ke Bapak Penjual Amplop Itu Rajin Shalat

  1. Ping-balik: Lanjutan Kisah “Bapak Tua Penjual Amplop Itu” | Catatanku

  2. reiSHA berkata:

    Kok dari Pak Darta bisa jadi Pak Suhud ya?

    • Chandra Rasubala berkata:

      mau pak darta , pak suhud , pak karim , atau pak pak lainnya itu tidak penting kawan .. yang terpenting dari semua cerita ini adalah menginformasikan kepada kita semua bahwa banyak orang” yg jauh dari beruntung diluar sana , yang masih berani bertahan hidup walau tantangan dan cobaan yang begitu besar yang harus dipikul , juga membuka mata kita bahwa uang sebesar 10rb / 20 rb yang selama ini kita anggap uang receh , tidak berlaku bagi mereka , bagi mereka uang sebesar itu adalah uang yang banyak dan sangat berarti bagi mereka .. Semoga Tuhan memberkati bapak ini dan siapapun orang diluar sana yang sudah membeli amplop bapak ini .. GBU

  3. arif berkata:

    Yah, mudah-mudahan, pak Darta ini tidak malah menjadi gajah di pelupuk mata.. orang miskin yang paling ter ekspose sehingga semua orang ramai-ramai menolong dia saja.. lalu merasa senang karena merasa sudah beramal.. lupa bahwa masih banyak sekali orang miskin-orang miskin lain, yang malah mungkin berada di grey area hampir kena pemurtadan.. yang juga harus di tolong.

  4. ikhwan berkata:

    Pak Rinaldi, seandainya kisah Bapak Penjual Amplop ini diangkat di acara ‘Orang Pinggiran’ Trans7 mungkin bisa menjadi hikmah dan pembelajaran tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

  5. zharufa berkata:

    Hanya berbagi :)

    Repost :
    Bismillahirr Rahmanirr Rahim …

    Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”

    Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”

    Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”

    Rasulullah SAW menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

    Rasulullah SAW memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah SAW berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah SAW pun memberinya uang untuk ongkos.

    Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersada, “ Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“

    Sungguh suatu pelajaran berharga bisa kita dapat dari Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya memberikan sedekah pada fakir miskin, namun juga memberikan ‘kail’ kepada mereka agar kelak mereka bisa hidup mandiri.
    SubhanAllah.

    Referensi: Hadits yang diceritakan Anas bin Malik (HR Abu Daud)

    Semoga Bermanfaat
    Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA

  6. tasy berkata:

    makasih pak atas tulisannya. dari kisah bapak saya bisa banyak belajar untuk mengisi waktu yang telah Allah berikan kepada kami

  7. MORASEL berkata:

    Wah gan ane gak kuat bacanya gan. bener2 air mata ini jatuh tiba2 menetes :( aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  8. moke berkata:

    hmmm..

    kasian liatnya..
    jadi sedih .. :nangis

  9. semut berkata:

    Tak tertahan air mata mengalir..
    Bukan hanya karena kasihan melihat orang lain miskin harta.
    Tetapi karena hati ini ternyata masih lebih miskin dari orang-orang miskin itu..
    Orang-orang miskin yang kaya hatinya

    Terkadang hati iba melihatnya..
    Ternyata lebih iba melihat diri sendiri

    Kesabaran..
    Ketulusan..
    Kejujuran.
    Perjuangan..
    Adalah harta yang lebih berharga daripada berlian..

  10. audy berkata:

    reiSHA says:
    20 Januari 2012 pukul 23:13
    Kok dari Pak Darta bisa jadi Pak Suhud ya?

    komen saya: Pak Renaldi itu dapat dipercaya,….. saya cukup mengenalnya.

    Oya Pak,…sedikit ide,…kalo ketemu Pak Darta bisa ditanya keinginannya,….mungkin kalau ada cucu/ponakan yang pinter mau sekolah, bisa dimasukin ke informatika ITB lewat beasiswa bidik misi. Atau kalau mau ke Manado (Univeritas Negeri Manado), bisa saya usahakan bantu. Soalnya saya sudah tidak di De La Salle,…..
    Mudah-mudahn bisa,…soalnya taon kemarin saya ICT Bidik Misi Unima,..sekarang lagi ikut jejak Bapak menyelesaikan Phd.

    Baik Pak, semoga Bermanfaat,
    wasalam, Audy

    • Rinaldi Munir berkata:

      Halo Audy, apa kabar? PhD di mana? Wah, sempat-sempatnya baca tulisan saya ini ya. Tks pak, saya tidak mewawancarai Pak Darta lebih jauh, apakah dia punya cucu atau keponakan. Kalau beasiswa Bidik Misi memang terbuka buat siapa saja.
      Tawaran ke Unima menarik juga tuh. Salam juga buat Pak Rudy Perdanus.

      • ana ajjah berkata:

        SubhanaLLAH,,membaca kisah pak darta sungguh membuatku lbh semangat dlm mengerjakan berbgai tugas,baik sbg mahasiswa,sbg karyawan,n menunaikan kewajiban thd ALLAH SWT,,tq tas infox

  11. Teguh Lamberth berkata:

    Ingin rasanya ke Sana, ke rumah pak Darta.

    tp saya Jauh di Jakarta…

  12. Jefry Kurniawan berkata:

    sedih mendengar cerita ini, dibalik semua tulisan ini Pak Darta adalah sosok manusia yang bisa kita contoh untuk kehidupan di dunia ini, orang yang pantang berputus asa dan punya semangat juang yang tinggi…
    Semoga Allah SWT selalu memberikan beliau rejeki….amien…

  13. rintoarjani berkata:

    subhanallah,, saya tidak bisaberkata kata. ingin rasanya membantu kakek tua itu..

  14. firman berkata:

    Great moslem not always be great person..so inspiring

  15. sumanjaya berkata:

    Subhanalloh, … so inspiring, trims postingan yg sangat bermanfaat ini

  16. sumanjaya berkata:

    ijin copas dan broadcast …

  17. novy ogen berkata:

    Semoga pa darta sllu di berikan,kesehatan,kekuatan,keselamatan dan dilapangkan rizqi nya,,‎​Aamiin ya ‎​اَللّهُ ya Robbal’alamiin

  18. ins berkata:

    Lho, terus pak suhud dulu itu siapa dong? :o

  19. ozmydas berkata:

    bener2 sosok inspiratif..

    ヽ(´▽`)ノ

  20. itu alamatnya bena? ada cp yang bisa dihubung i supaya bisa nuntun jalan buat kesana?

  21. Adzi berkata:

    Ya Tuhan setiap saya membaca tulisan tentang Bapak Penjual Amplop ini saya selalu menangis, terharu

  22. ghifari berkata:

    benar-benar sosok yg patut di contoh

  23. Melia berkata:

    Subhanallah … Sungguh perjuangan hidup yg sangat luar biasa. Semoga Allah SWT selalu memberikan rezki-Nya buat Pak Darta dan buat pedagang2 lain seperti Pak Darta dan jg buat kita semua. Tak tahan rasanya menahan air mata ini, ternyata akhirnya keluar juga.

  24. Arie025 berkata:

    Allahu akbar…air mata ini tak kuasa kutahan. Kisah ini membuatku menangis kawan…aku kalah jauh dgn pak Darta…

  25. Arie025 berkata:

    Kisah nyata ini benar2 mencuci hati dan pikiranku sbgai s’org muslim. Terima kasih byk bang atas tulisanya.

  26. respect sama bapa ini. biarpu pekerjaan menyita banyak waktunya tapi masih tetep ketinggalan dengan sholat 5 waktunya :”)

  27. ahmmadarifin berkata:

    subhanallah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s