Bersikap Adil kepada FPI

Gonjang ganjing berita tentang FPI (Front Pembela Islam) telah berlalu. Namun, bagi saya kasus FPI ini tetap meninggalkan catatan yang menarik untuk ditulis. Perlu saya jelaskan, saya bukan simpatisan atau pembela FPI, namun saya ingin bersikap adil kepada ormas yang sering mendapat stigma hitam oleh media arus utama (mainstream) sebagai ormas anarki.

FYI, kasus ini bermula dari penolakan suku Dayak di Palangkaraya terhadap kehadiran FPI di sana. Seakan mendapat momentum dari penolakan suku Dayak, para aktivis yang sejak dulu anti-FPI kemudian mengadakan aksi kampanye di bunderan HI yang mencanangkan pembubaran FPI. Menurut media massa, peserta aksi demo tersebut antara lain kaum transeksual (gay, lesbian, waria, dll), artis seperti Luna Maya, sutradara film Hanung Bramantyo, pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) seperti Ulil Abshar Abdalla, para aktivis perempuan, dan para pengusung kebebasan berekspresi (kaum liberal).

Melihat latar belakang peserta demo tersebut dapatlah disimpulkan bahwa mereka yang anti-FPI itu adalah mereka yang dulu pernah punya masalah dengan FPI atau yang bisnisnya terganggu dengan kehadiran FPI. Seperti yang kita ketahui FPI sudah beberapa kali mendemo kontes waria, pemutaran film gay, film “?” karya Hanung, aliran agama sesat seperti Ahmadiyah dan Lia Eden, penodaan agama oleh Ulil cs, video mesum Luna & Ariel, UU Pornografi (yang ditentang oleh aktivis perempuan), dan lain-lain. Mungkin akan makin jelas lagi siapa saja wajah-wajah mereka yang anti FPI itu jika Inul, Ariel, Jupe, Ahmad Dhani dan pelaku bisnis hiburan juga ikut aksi demo anti FPI (baca Tanggungjawab Kita di Balik #IndonesiaTanpaFPI di Hidayatullah tentang hal ini). Jika mereka datang, wah akan semakin gamblang saja bahwa kelompok anti FPI itu adalah mereka yang bisnisnya terganggu dan terancam dengan kehadiran FPI. Kalau perlu mereka ingin FPI itu lenyap sekarang juga sehingga mereka merasa lebih tenang.

Bagi media, terutama televisi, aksi anti FPI itu (baik yang di Kalteng maupun di Bunderan HI) di-blow up habis-habisan dengan tidak lupa menayangkan secara berulang-ulang cuplikan aksi perusakan yang dilakukan FPI terhadap kafe, tempat pelacuran, warung remang-remang, miras, dan lain-lain. Wajah sangar FPI ditonjolkan untuk menanamkan kebencian masyarakat terhadap FPI. Secara tidak langsung media sudah melakukan hukuman oleh pers (trial by press) terhadap FPI tanpa melakukan cover both side story sebagaimana prinsip media yang harus berimbang dalam pemberitaan. Beberapa stasiun televisi sendiri pernah punya masalah dengan FPI karena FPI mendemo stasiun TV terkait program acaranya yang meresahkan.

Karena pemberitaan yang berat sebelah dari media itulah maka stigma FPI sebagai ormas anarkis tertanam di dalam memori banyak orang. Di sisi lain, aksi sosial ormas ini tidak pernah diekspos. Ketika terjadi tsunami di Aceh, FPI lah yang datang awal mengangkat mayat-mayat yang membusuk. Bahkan FPI juga ikut mengadvokasi masyarakat Mesuji di Lampung terkait sengketa lahan, ikut mengamankan perayaan Natal di Jakarta, dll. Namun aksi sosial ini tidak pernah diberitakan, yang selalu diekspose adalah perbuatan negatif mereka saja. Bagi media berlaku prinsip bad news is good news.

Namun, syukurlah masih banyak orang Indonesia yang tidak termakan provokasi media dan mencoba bersikap adil dalam memandang persoalan. Bahkan, saudara kita yang kristiani yang sering dianggap berseberangan dengan FPI, tidak semuanya memiliki pandangan negatif terhadap FPI, masih ada yang berpikir jernih dan kritis seperti tulisan di Kompasiana yang berjudul Saya, Seorang Kristiani yang Mendukung FPI. (Update tanggal 21-2-2012: tulisan tersebut telah dihapus, saya tidak tahu siapa yang menghapusnya, apakah Kompas atau penulis yang bersangkutan yang menghapusnya. Tetapi, copy tulisan tersebut ada yang mengunggahnya ke situs lain. Silakan klik tulisan tersebut di sini).

FPI, terlepas dari kekurangannya, sebenarnya mempunyai tujuan yang baik, yaitu amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran). Apa jadinya negara kita ini jika banyak pelacuran, pornografi, perzinahan, minuman keras, perjudian, dan segala kemaksiatan lainnya. Mengapa kita ikut-ikutan pula mendukung kelompok gay dan lesbian yang memperjuangkan persamaan hak (termasuk pernikahan sejenis), padahal sudah nyata-nyata perilaku mereka itu dikutuk oleh Tuhan. Semua kemungkaran di sekeliling kita itu sangat bertentangan dengan hukum positif di Indonesia, namun kita melihatnya setiap hari hadir di tengah kehidupan kita. Masyarakat resah dan geram dengan segala kemaksiatan di sekelilingnya namun mereka tidak bisa berbuat banyak. Takut. Polisi dan perangkat hukum juga mandul, tidak bisa mampu mengatasinya. Bahkan, sebagian oknum polisi disninyalir bagian dari masalah karena mereka ikut membekingi tempat-tempat maksiat dan memperoleh kekayaaan tidak sedkit dari bisnis tersebut.

Nah, karena polisi tidak sanggup berbuat lebih jauh, maka masyarakat akhirnya menaruh harapan kepada FPI untuk menumpasnya. Suka atau tidak suka dengan gaya FPI itu, nyatanya masyarakat yang geram dengan kemaksiatan itu berterima kasih karena FPI telah membuat kegeraman mereka menemukan solusi.

Saya setuju FPI dibubarkan asalkan penegakan hukum di negeri ini sudah efektif. Jika hukum ditegakkan, maka saya yakin FPI akan bubar dengan sendirinya. Selama hukum di Indonesia mandul, maka kelompok-kelompok seperti FPI yang terkesan main hakim sendiri akan terus bermunculan. Meskipun dalam beberapa hal saya tidak setuju dengan FPI, namun untuk saat ini saya pikir keberadaan FPI masih diperlukan sebagai kelompok penyeimbang di tengah masyarakat. Meskipun mereka dibenci oleh sekelompok orang, namun saya yakin sebagian besar masyarakat (terutama umat Islam) masih menganggap FPI itu mewakili sikap kegeraman mereka terhadap kamaksiatan yang merajalela.

Walaupun saya berpendapat FPI itu masih diperlukan kehadirannya, namun bukan berarti FPI itu bebas kritik. Saya mempunyai kritik terhadap FPI terutama tentang cara-cara yang mereka lakukan. Terus terang saya tidak setuju dengan aksi anarkisme apa pun, aksi FPI yang dikesankan anarki hanya membuat wajah Islam tercoreng sebagai agama yang damai. Menurut saya FPI perlu melakukan introspeksi diri. Mereka perlu memperbaiki cara-caranya yang terkesan kurang taktis dalam bertindak. Mereka harus berkoordinasi dengan aparat keamanan dalam setiap aksinya. Pendekatan yang simpatik, beradab, dan damai perlu dilakukan oleh FPI untuk mengurangi stigma negatif yang terlanjur dilekatkan secara sepihak pada dirinya. Kalau perlu FPI lebih banyak melakukan aksi sosial yang bermanfaat bagi umat dan masayarakt Indonesia.

Pemerintah juga harus membina dan merangkul ormas-ormas yang dikesankan anarkis itu. Membubarkan ormas seperti FPI saat ini bukan solusi, sebab setiap kali dibubarkan mereka akan membentuk ormas baru dengan nama yang berbeda tetapi tujuannya sama seperti ormas terdahulu. Jika ormas melakukan anarkis, maka yang perlu ditangkap dan dihukum adalah oknum ormas tersebut, bukan ormasnya yang dibubarkan. Kebebasan berserikat dan berkumpul dijamin oleh UU, bukan?

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

26 Balasan ke Bersikap Adil kepada FPI

  1. rotyyu berkata:

    Sebenarnya kembali lagi bolanya sekarang ada di pemerintah kita Pak. FPI itu lahir dan mungkin main hakim sendiri karena aparat penegak hukum tidak menunjuk kinerja yg memuaskan. Tapi FPI menurut saya jangan juga sampai memaksakan kehendak secara berlebihan. Pasti akan ada gesekan dng pihak lain, dan kalau sudah seperti itu berhati-hatilah dng provokasi.

  2. hilmy berkata:

    “Kebebasan berserikat dan berkumpul dijamin oleh UU, bukan?” Ya, tapi bukannya sayangnya justru FPI sendiri yang memulai melanggar kebebasan berserikat dan berkumpul orang lain lebih dahulu? Di demo Bundaran HI itu, misalnya, yang bermula dari aksi damai menjadi ricuh ketika ada anggota FPI yang merangsek dan melempar bogem mentah ke peserta demo.

    Menurut saya, mendiskreditkan gerakan Indonesia Tanpa FPI di Bundaran HI hanya karena sebagian pesertanya memiliki ideologi/identitas seksual/interpretasi kepercayaan yang berbeda dengan norma sosial yang ada tidak menjawab akar permasalahan sebenarnya: bagaimana setiap warga Indonesia, terlepas dari ideologi mereka, berhak hidup aman tanpa merasa terancam/diancam kekerasan yang sewaktu-waktu bisa dilakukan oleh ormas-ormas tertentu.

    Jujur saja, saya memang jarang mendengar tentang kiprah baik non-kekerasan FPI. Mungkin karena FPI memang lebih menitik beratkan aksi mereka pada yang bersifat destruktif, sweeping warung-warung yang buka bulan Ramadhan, dll. Tetap saja hal itu tidak menafikan bahwa jika mereka bertindak di luar koridor hukum dengan berbagai aksi kekerasan, mereka juga harus siap dihukum.

    • rinaldimunir berkata:

      Mas Hilmy harus lebih jeli dan kirits membaca media. Saya tidak terlalu percaya media, media suka memutarbalikkan fakta. Pelaku pemukulan di Bunderan HI tersebut bukanlah anggota FPI, tetapi simpatisan FPI. Hal ini sudah dijelaskan olej Polda Metro pada berita berikut:

      http://id.berita.yahoo.com/polda-metro-benarkan-simpatisan-fpi-terlibat-pemukulan-075412825.html

      http://www.analisadaily.com/news/read/2012/02/16/35774/polda_pelaku_pemukulan_demonstran_di_hi_simpatisan_fpi/#.T0HEmoHbOnA

      Simpatisan dan anggota adalah dua hal yang berbeda, bukan?

    • rinaldimunir berkata:

      Mas Rio, saya membaca banyak media, termasuk media mainstream dan media online. Setiap media mempunyai misi dan kepentingan masing-masing. Oleh karena itu suatu berita yang sama bisa berbeda antara suatu media dengan media lain, tergantung sudut pandangnya. Seringkali media-media tersebut memplintir dan menyembunyikan pernyatan narasumber karena tidak sesuai dengan misi media ybs. Oleh karena itu, kita harus berhati2 dan tabayyun membaca media, jangan langsung percaya begitu saja, termasuk terhadap media Islam sekalipun kita juga jangan langsung percaya.

      Saya bukan pembaca Arrahmah. Saya menyebutkan link media tersebut karena memuat tulisan yang telah dihapus di Kompasiana. Saya menemukan link tersebut d Fesbuk karena di Kompas tulisan tersebut telah dihapus. Mungkin penulisnya menerima ancaman atau tekanan dari media ybs atau orang lain.

      Media mainstream dan media lain (yang anda anggap penebar kebencian) menurut saya saling melengkapi dan mengimbangi. Kita memerlukan media semacam ini sebagai penyeimbang karena banyak informasi yang tidak kita ketahui sebab tidak dimuat di media mainstream namun kita peroleh pandangan berbeda di media lain. Yang penting: berhati2 dan cerdas memahami isi media (apapun).

  3. Irna berkata:

    salah satu link nya yg dari kompas error pak

  4. frehorenz berkata:

    Setuju Banget Gan ,Cuma orang Waras Lahir Batin dan Agama yg bisa melihat sisi positif FPI, Perjuangan Menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar tidak akan pernah padam dari mulai Pondasi Dibentuk oleh Nabi dan diteruskan Para Sahabatnya dan sampai akhir zaman,coba kalian bayangkan anak cucu kita kl negara ini di KUASAI KAUM SEPILIS (sekuler,pluralis,liberalis) yang Men-Tuhankan KEBEBASAN ,pelacuran, pornografi, perzinahan, minuman keras, perjudian, kaum gay dan lesbian yang terkutuk menuntut persamaan hak untuk menikah sejenis,dengan Dalih HAK ASASI MANUSIA, Waspada dengan Amerika Cs Zionist Laknatullah, Karena Bisnis Media mereka yang kuasai , “Shallahu alla Muhammad

  5. Yoel berkata:

    Terimakasih utnuk tulisannya Pak. Saya mantan murid Bapak dan salah satu pengunjung setia blog Pak Rin. Tapi saya ingin mengomentari untuk tulisan ini.

    “Menurut media massa, peserta aksi demo tersebut antara lain kaum transeksual (gay, lesbian, waria, dll), artis seperti Luna Maya, sutradara film Hanung Bramantyo, pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) seperti Ulil Abshar Abdalla, para aktivis perempuan, dan para pengusung kebebasan berekspresi (kaum liberal). ”

    wah kayaknya berita itu perlu diklarifikasi pak. karena gerakan anti-FPI itu awalnya dari twitter dan sangat jelas siapa saja yang memulai karena bisa dirunut dari lini masa mereka. Sangat mengeneralisir kalau mengatakan bahwa peserta aksi demo itu adalah kaum transeksual ataupun orang2 yang pernah mempunyai masalah pribadi dengan FPI. Kalau saya coba gunakan alat pencari dengan tagar #indonesiatanpaFPI yang merupakan cikal bakal gerakan ini, akan nampak jelas kalau orang2 yang memprakarsai gerakan ini banyak warga biasa juga koq. Warga yang tidak mempunyai masalah pribadi dengan FPI namun geram dengan perbuatan main hakim mereka di Indonesia.

    Link Berita yang bapak kutip menulis seperti ini “Fakta menunjukkan, beberapa kali gerakan yang paling menentang FPI banyak didominasi wajah-wajah preman, bencong, aktivis feminisme, pria/wanita bertato, wanita-wanita pengumbar aurat dan beberapa LSM gadungan yang tidak jelas.”

    Menurut saya kalimat itu sendiri cukup prentensius. Fakta yang mana? Preman, bencong, pria bertato, wanita pengumbar aurat yang mana? Gerakan yang mana? Saya belum pernah mendengar atau membacanya di berita.

    Sekali lagi cukup mudah koq melihat awal gerakan anti-FPI itu. Karena semua history nya bisa dirunut di twitter. Dan bisa dilacak bahwa itu sangat fitnah kalau dikatakan gerakan ini “didominasi” wajah-wajah preman, bencong, aktivis feminisme, dll.

    Dengan mengatakan bahwa yang kurang suka dengan keberadaan FPI hanyalah “kaum transeksual (gay, lesbian, waria, dll), artis seperti Luna Maya, sutradara film Hanung Bramantyo, pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) seperti Ulil Abshar Abdalla, para aktivis perempuan, dan para pengusung kebebasan berekspresi (kaum liberal). ” ataupun “wajah-wajah preman, bencong, aktivis feminisme, pria/wanita bertato, wanita-wanita pengumbar aurat dan beberapa LSM gadungan yang tidak jelas.” , Bapak sedang berusaha mendeskreditkan gerakan ini. Yang mungkin saja banyak warga negara Indonesia yang mempunya pendapat sama dengan gerakan anti-FPI mereka di bundaran HI.

    Menurut saya jelas ada slippery slope dalam argumen Bapak di tulisan ini.

    Terima kasih,

    • Rinaldi Munir berkata:

      Tidak masalah Yoel, saya hargai pendapatmu, kalau ada penilaian sepertimu di atas sah-sah saja. Saya mempunyai perspektif berbeda dengan yang dikesankan banyak orang terhadap FPI itu. Banyak orang dan media membenci FPI mungkin karena huruf I nya itu. Karena I itu menyangkut agama yang saya anut, maka saya tergerak menulis hal ini, terserah orang menilai apa.

      • belaga berkata:

        “Banyak orang dan media membenci FPI mungkin karena huruf I nya itu.”
        Wah, menurut saya ini asumsi yg menyimpang jauh, pak. Artinya sama saja bapak bilang kalau orang membenci Islam. Banyak sekali kok Muslim yg juga tidak suka dengan FPI. Saya sendiri Muslim dan sangat-sangat ingin FPI dibubarkan dan anggota-anggotanya yang melakukan tindakan anarkis ditindak secara hukum.

        Sejauh yg saya tau, FPI ditolak di banyak tempat karena tindakan anarkisnya yg meraja lela dimana-mana. Merasa gagah dan paling benar sendiri. Tindakannya mengarah ke praktek premanisme dan destruktif terhadap pihak lain yg bersebrangan dengan mereka. Mereka merasa dirinya diluar hukum. Dan justru karena huruf I yang dibawa-bawanya itu, membuat nama Islam tercoreng.

        Saya rasa tidak ada alasan untuk tidak membubarkan FPI

    • rinaldimunir berkata:

      @Belaga: ada dasarnya saya menyatakan kemungkinan demikian. Cobalah baca komentar orang di media online tentang FPI. Mereka tidak hanya menumpahkan kebenciannya kepada FPI, tetapi melebar dengan penistaan terjadap agama Islam dan Rasulullah SAW. Anda mungkin bisa menyimpulkan siapa orang2 itu. Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah saya tidak rela agama dan nabi saya dihina dan dinista hanya karena kebencian kepada suatu kelompok. Saya tidak tahu kalau anda rela. Menurut saya, hal ini tidak akan terjadi jika tidak ada I di dalam FPI itu. Jika FPI itu berganti menjadi FPA, FPU, FPO, mungkin ceritanya akan lain.

      Di Jakarta banyak kelompok preman dari Indonesia Timur yang sering melakukan penyerangan. Aksi mereka lebih mengerikan daripada FPI karena sampai ada yang terbunuh:

      http://news.detik.com/read/2012/02/24/053524/1850412/10/motif-penyerangan-di-rspad-diduga-dendam-lama?nd992203605

      Tidak ada orang yang mengutuk kelompok preman itu dengan mengaitkannya dengan faktor kesukuan. Resikonya besar jika nama-nama suku dibawa-bawa. Anehnya pula, media tidak antusias memberitakan kasus ini dan lebih suka memberitakan pembubaran FPI. Inilah standard ganda yang dilakukan kaum pencaci dan media.

      Apa yang terjadi sekarang adalah usaha-usaha untuk membenturkan umat Islam satu sama lain, misalnya antara FPI dengan Banser NU, antara FPI dengan JIL, dll.

  6. Pistoleros berkata:

    Anti FPI itu didukung para hedonis seperti luna maya, maho, lesbong, waria, dan pemuja kebebasan tanpa batas semacam JIL (intern Islam). Juga umat agama lain yang merasa tak cocok dengan Islam atau Islamophobia penyebar Paham Kebencian.

    Jadi kalo ente mau pake otak, pasti bisa maklum kenapa FPI begitu dibenci oleh mereka itu.

  7. petra berkata:

    saya sih nungguin FPI main hakim sendiri ke koruptor-koruptor.
    toh uang-uangnya para koruptor kebanyakan dihabiskan ke perjudian, miras, dan prostitusi.

    ah, tapi khan FPI ini peliharaannya koruptor buat mengalihkan isu.

  8. hawun berkata:

    kenapa FPI gak membela TKI2 kita ya diperlakukan tidak adil baik oleh pemerintah Arab maupun pemerintah Indonesia sendiri. seharusnya mereka demo dong di kedubes Arab. saya rasa masyarakat bukan anti dengan I pada FPI itu sendiri, tapi karena tindakan anarkis dan main hakim (yang juga sebenarnya tidak adil, krn tidak semua di main hakimi sama mereka)

  9. sigundul berkata:

    Indonesia damai tanpa JIL

  10. Nadya berkata:

    .
    Saya tetap setuju dengan FPI sebagai penyeimbang aparat yg suka tidak adil.
    Media suka menjelekkan ormas Islam yg berusaha menegakkan kebenaran dibanding ormas agama lain yg lebih parah daripada FPI.
    Contoh : media sering menjelekkan FPI tapi keributan dan pembunuhan oleh warga Ambon Kristen di RSPAD sebagai contoh, mana aparat TNI AD yg bertindak? ini kan terjadi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. berita di koranpun/TV tidak menyebut agama apa yg terlibat dan suku apa yg terlibat.
    apa ini adil untuk media atau takut dengan mereka???
    Dasar media banci neh.

  11. Nadya berkata:

    .
    bagi saya, TKW tidak perlu dibela karena mereka pergi bekerja keluar negeri karena kemauan mereka sendiri dan resiko mereka sendiri.
    tahukah anda, bahwa 99 persen TKW yg bekerja diluar negeri itu pergi dengan niat yg dibilang untuk memperbaiki nasib padahal jauh di lubuk hatinya karena iri dengan tetangga yg berhasil punya kemewahan hidup atau karena disakiti oleh laki2 baik mantan pacarnya, pacarnya, suaminya, mantan suaminya atau laki2 lain.
    ingat, jika anda pergi bekerja diawali dengan hati yg iri atau marah atau dendam, maka pekerjaan anda dijamin tidak akan berhasil baik. Nah majikan yg menggaji mereka akan marah atau tidak mau rugi kalau pekerjaan mereka jelek makanya terjadilah tindakan2 yg kita dengar.
    Wanita yg bekerja diluar rumah tanpa pengawasan muhrimnya apalagi jauh tanpa bisa pulang ketemu muhrimnya minimal setahun sekali, akan melanggar perintah agama yg tertulis di Al-Qur’an. Silahkan anda cari sendiri ayatnya dan tafsirannya.

    • Agus Saputro berkata:

      Saya tanggapi ya Nadya.
      1. Pendapat Anda yg mengatakan para TKW itu bekerja krna dilandasi sifat iri itu terlalu tendensius. Mereka bekerja untuk menafkahi keluarga mereka. Sama dengan wanita karier di negeri ini. Jadi mereka tetap perlu perlindungan baik dari siksa majikan, pemerasan oknum bea cukai maupun dari PJTKI yg sewenang-wenang
      2. Banyak juga koq yg non muslim sbg TKW jdi jgan terlalu membawa2 Al’quran bila tak tahu ilmunya.
      Bahkan jika Anda kuliah atw bekerja kalo sendirian jga ga bleh krna ga ada muhrimnya.

  12. Dave Mustaine berkata:

    Mencoba mengurangi perbuatan yg dikutuk Tuhan dengan cara yg juga terkutuk, dimana letak benarnya?

    Rasulullah pernah berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, mereka suka mencuri, menjelek-jelekkan orang lain, suka memakan harta orang lain (korupsi), menumpahkan darah, dan memukul orang lain tanpa hak.”

    Apalagi FPI jelas2 membawa nama Islam yg harusnya adalah agama yg damai alias Rahmatan Lil Alamin.

    Jangan karena kita disini Mayoritas, kita jadi arogan & seenaknya sendiri.

    Saya sebagai orang Muslim tak menganggap FPI itu pembela Islam, yg ada malah penghancur Islam.

    Kalau masalah sosial, apa kalau sudah membantu korban bencana terus boleh gitu mukulin orang lain, merusak dll? tuh Superman Is Dead yg badannya dipenuhi tattoo juga sering melakukan tindakan sosial.

  13. rosa berkata:

    Saya sependapat dengan tulisan di atas. Selama hukum di Indonesia mandul, maka kelompok-kelompok seperti FPI yang terkesan main hakim sendiri akan terus bermunculan. Kelompok-kelompok yang sama sifat dan tujuannya tapi muncul dengan “kostum” yang berbeda-beda.

    Saya tidak tinggal di Indonesia tapi setiap tahun pulang kampung, setiap tahun pula saya terkaget-kaget dengan makin menurunnya moral masyarakat Indonesia yang mengaku beragama tsb. Negeri ini semakin kotor padahal setiap agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia mengajarkan kebersihan pada umatnya. Masyarakat di negri ini makin tidak peduli dengan sesamanya dan tidak mengenal arti saling menghormati. Tidak ada lagi toleransi antar agama; di bulan puasa misalnya, orang makan dan merokok di mana-mana. Tidak ada lagi modesty dalam berbusana, belahan dada dan paha sengaja dipertontonkan bahkan di acara masak-memasak sekalipun.

    Moral adalah hak mutlak yang harus dimiliki oleh manusia jika ingin dihormati oleh manusia lainnnya. Mengharapkan ormas yang bermoral di tengah-tengah masyarakat yang amoral bagaikan pungguk merindukan bulan. Jangan hanya bisa mengutuk FPI, hai para umat yang beragama, tanyakan pada diri sendiri, ‘apa yang sudah saya perbuat selama ini?’

  14. Ping-balik: Berterimakasihlah Kepada FPI | Catatanku

  15. Ping-balik: Bingung Mau Pro atau Kontra FPI | Welcome To My Realm

  16. hafidh al afif berkata:

    halo pak rinaldi dan pembaca sekalian, disini saya ingin share link dari detik.com, headlinenya “FPI, Batman atau Badman”, sepertinya masih relevan dengan tulisan ini.
    http://majalah.detik.com/read/2013/07/20/124624/2308779/1314/fpi-batman-atau-badman , Semoga dapat menambah wawasan kita :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s