Pilihlah Kelahiran Anak pada Tengah Tahun, he..he..

Anak saya yang bungsu tidak dapat diterima di sekolah dasar pilihannya pada tahun ini karena umurnya masih kurang. Anak saya lahir pada bulan Desember sehingga pada tahun ajaran baru (Juli 2012) umurnya baru 5,5 tahun. Padahal kebanyakan SD swasta yang bagus mensyaratkan batas umur minimal siswa baru kelas 1 adalah 5 tahun 10 bulan (kalau masuk SD negeri syaratnya lebih tinggi lagi, diutamakan umur tujuh tahun, umur enam tahun belum bisa diterima). Ini berarti anak saya harus menambah TK satu tahun lagi agar bisa diterima masuk SD pada tahun depan. Jika dihitung Playgroup satu tahun, TK dua tahun (kelas nol kecil dan kelas nol besar) plus satu tahun lagi, maka anak saya menjalani pendidikan prasekolah selama empat tahun.

Alasan pihak sekolah bisa saya pahami. Anak seumur segitu (dibawah 5 tahun 10 bulan) dikhawatirkan belum “matang”, belum siap sekolah. Okelah sang anak sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi jika belum “matang” maka akan timbul persoalan di kemudian hari. Selama di kelas 1 dan 2 pelajarannya relatif mudah, namun kata Bu Guru — yang sudah berpengalaman menerima murid belum matang– persoalan akan muncul di kelas 3 dan selanjutnya. Si anak mulai terlihat bermasalah, tidak mau diatur, tidak mau mengerjakan PR, malas, cepat bosan, dan perilaku negatif lainnya.

Kata psikolog yang saya kunjungi, anak yang belum matang masuk SD — tetapi dipaksakan juga masuk SD — sebenarnya belum puas masa bermainnya, sehingga bisa timbul masalah ketika dia sudah bersekolah. Sekolah di TK dan di SD berbeda. Di SD sudah ada konsekuensi jika siswa tidak mengikuti aturan sekolah, sudah ada nilai terhadap pelajaran yang diberikan, sudah ada ujian, sudah ada PR yang harus dikerjakan, sudah ada hukuman jika tidak megerjakan tugas, dan sebagainya. Di SD anak tidak bisa bermain sekehendak hatinya lagi seperti di TK. Sebaliknya di TK tidak ada konsekuensi terhadap materi yang diberikan (reward and punnishment). Masa di Taman Kanak-kanak adalah masa-masa bermain yang menyenangkan. Anak-anak yang belum puas masa bermainnya dan langsung masuk SD (atas keinginan orangtua atau keinginan anak itu sendiri), maka biasanya timbul persoalan jika dia sudah mulai besar nanti.

Memang tidak semua anak yang belum cukup umur masuk SD akan bermasalah ketika sudah bersekolah, ada juga beberapa anak yang masih kecil usianya dapat melewati fase tersebut dengan baik. Beberapa anak yang masih kecil dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya yang lebih besar. Namun kata psikolog dan guru-guru SD yang sudah makan asam garam mendidik anak, kebanyakan anak yang belum matang cenderung bermasalah di kemudian hari. Itulah yang sering terjadi.

Mahasiswa-mahasiswa saya di ITB banyak yang berusia masih sangat muda ketika dia menjadi mahaisswa baru. Ada yang umurnya 16 tahun atau 17 tahun sudah menjadi mahasiswa, bahkan pada angkatan 2011 kemarin ada yang masih 14 tahun! Mereka yang masih muda-muda ini masuk SD pada waktu masih kecil, rata-rata umur 5 tahun, lalu ketika di SD hingga SMA menjalani program akselerasi atau loncat kelas sehingga SD hanya perlu 5 tahun, SMP 2 tahun, dan SMA 2 tahun. Pantaslah mereka mash muda-muda ketika menjadi mahasiswa. Rata-rata mereka itu mahasiswa yang otaknya cerdas. Umur masih muda, pintar lagi.

Kalau saya amati, mahasiswa yang masih muda-muda itu ada yang yang terlihat belum dewasa dan matang dalam berpikir. Terhadap lawan jenis (terutama jika yang masih muda itu mahasiswa laki-laki) mereka masih diperlakukan seperti anak kecil. Sifat kekanak-kanakan mereka kadang masih terlihat, padahal mereka bergaul dengan mahasiswa yang seharusnya menjadi kakak kelas mereka. Tapi itulah resiko yang harus dhadapi dari pilihan usia dini bersekolah.

Orangtua teman anak saya pernah bercerita tentang keponakannya yang dulu masuk SD pada usia dini. Sekarang keponakannya itu sudah berusia di atas kepala dua, tetapi secara tingkah laku dan emosi terlihat belum dewasa. Memang ini hanya satu kasus yang tidak bisa dgeneralisir, namun sebagai orangtua kita perlu juga berkaca pada kasus yang sudah-sudah sebagai bahan evaluasi.

Pada prinsipnya kita sebagai orangtau jangan memaksakan kehendak. Jika anak belum matang untuk masuk SD ya jangan dipaksa. Puaskan dulu masa bermainnya agar dia siap menjalani kehidupan yang lebih serius ketika masuk SD. Saya juga begitu, tidak memaksakan anak saya masuk SD karena saya merasa masa bermainnya belum terpuaskan dan saya nilai anak saya belum matang masuk SD. Biarlah telat setengah tahun masuk SD daripada nanti timbul masalah yang merugikan masa depan anak itu sendiri. Dia yang menjalani hidupnya sendiri kelak, bukan kita orangtuanya.

Secara bercanda saya pernah berpikir, kalau boleh memilih maka aturlah program mempunyai anak sehingga lahirnya di pertengahan tahun, agar nanti masuk SD pas umur 6 tahun lebih, he..he. Tetapi itu hanya joke, siapa pula yang bisa memilih bulan dan hari. Tuhan sudah menentukan hidup setiap manusia, kita tidak bisa memilih lagi.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

11 Balasan ke Pilihlah Kelahiran Anak pada Tengah Tahun, he..he..

  1. astrid berkata:

    Menarik, pak:) kebetulan kemarin saya dan teman-teman sempat berdiskusi tentang pendidikan. Dan kami berpendapat, seharusnya di SD belum perlu adanya rangking, atau ujian tulis yang menjadi dasar segala penilaian. Agar anak-anak masih diberi kesempatan berekspresi dan puas menghabiskan masa kanak-kanaknya. Klo masa senang-senang hanya sampai TK ko kayanya kasihan banget ya:)
    Berharap ada perbaikan konsep pendidikan. Tapi.. kalo kurikulum indonesia berubah-ubah terus tiap taun, itu lebih buruk sih:P

  2. langitlembayung berkata:

    Angkatan saya (2008) termasuk angkatan yang sering kena imbas karena pergantian kurikulum dan kebijakan pendidikan. Misalnya waktu SD tiba-tiba tidak pakai NEM lagi untuk masuk SMP. Pergantian Catur wulan menjadi semester. Masuknya kurikulum KBK. Ujian SNMPTN baru. Kemudian yang baru-baru ini, kebijakan jurnal ilmiah untuk kelulusan Sarjana.

  3. www.th1979.wordpress.com berkata:

    waduh,salut mbak, menulis catatannya banyak…

  4. ismailsunni berkata:

    nambahin lagi pak, kalau anak lahir tengah tahun itu enak. Pas ultah, lagi liburan, jadi jauh dari ancama diguyur air… Dan, ada kemungkinan diwisuda pas ultah…. *true story…

  5. Mirdayanti Amir berkata:

    Anak pertama saya lahir 25 Juni.Menjelang dia berulang tahun ke-4 adiknya lahir. Karena engga punya pembantu saya masukin TK. Dia tamat TK menjelang ulang tahun ke-5,karena di desa, dan kenal Kepsek SDnya, saya bisa bermohon agar beliau menerima anak saya yang berumur 5 tahun dikelas 1.

    Selanjutnya dia masuk SMP pada usia 11, masuk SMA usia 14, dan sebulan sebelum ultah ke-17 dia sudah terdaftar sebagai mahasiswa yang berasal dari program PMDK . Kini dia berumur 18 tahun kuliah di semester 4.

    Secara umum anak saya baik-baik saja,cuma dia sering dipanggil adik oleh teman sekelasnya.

    Jadi kekawatiran anak nanti bosan sekolah karena masih pengen main, rasanya juga enggalah

  6. julia berkata:

    Artikelnya cukup mencerahkan pikiran… memang benar secara rata-rata jika anak yang masuk sekolah belum cukup umur secara kalender, maka bisa saja akan mengalami efek efek negatif yang disebutkan dalam artikel. tapi tidak juga bisa dipukul rata untuk keseluruhan anak-anak. ada beeberapa anak yang memiliki telent yang baik maka si anak bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekolah yang mungkin teman-temannya lebih besar dari dia.

  7. haifa berkata:

    saya kira hal di atas tidak bisa digeneralisir untuk semua anak, kita harus lihat anak per anak karena setiap anak itu unik dan membawa kelebihan masing-masing.. jadi ketika melihat apakah anak kita sudah siap masuk SD atau belum tidak hanya faktor usia saja yang dilihat tapi juga faktor kesiapan emosi, intelegensi dan kemandirian anak tersebut. orangtua dan guru lah yang lebih bisa menilai faktor-faktor diatas.. kalau hanya dilihat dari usia, ada anak yang usia 7 tahun tapi dinilai belum “siap” masuk sd tapi ada juga anak yang 5 tahun lebih dinilai secara obyektif lebih “siap” masuk SD.. ini hanya pengalaman saya sekeluarga yang masuk SD nya usia 5 tahun dan Alhamdulillah berjalan lancar tanpa ada masalah yang berarti..

    • dianti berkata:

      di usia 3 thn anak sy sdh bs membaca dan kemampuan membacanya trs meningkat tajam karena 3,9bln lancar membaca buku cerita/huruf kecil tanpa eja dan sdh menjadi kutu buku.kemampuan mengarangnya dan menulispun baik sekali, di ttmpt les baca modul sd pun sudah bs dikerjakan sdr&sempoanya sudah level 2 F1.tp sy kwatir dia kurang masa bermainya, di usia ke 4 th juni 2012 sy ttp masukan dia ke TK A,krn kecerdasan emosi nya blm berkembang sebaik kecerdasan intelektualnya.tp sy msh punya beberapa bln lg untuk mempertimbangkan sampai bln mei, apakah mmg dia sdh cukup matang secara emosi/mmg menunggu samapi usia 6thn untuk msk sd.Jd perkembangan emosi dan kepuasan anak untuk menikmati masa balitanya/berrmain pun harus ttp jd perhatian para org tua yg punya anak balita cerdas.

  8. yudi berkata:

    artikel dan pembahasanan yg bagus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s