Panggilan Itu Adalah Doa

Waktu SMA dulu saya sering dipanggil “dotor” oleh teman-teman. “Dotor” dalam dialek Minang artinya “dokter”, sebab orang Minang sering memanggil dokter dengan sebutan pak dotor.Panggilan dotor itu mungkin karena penampilan saya yang memakai kacamata agak besar, badan kurus, rambut kurang tertata rapi, dan karena saya “jago” pelajaran kimia di sekolah, ha..ha..ha. Salah satu guru kimia saya (almarhum Azhar) adalah alumni Fakultas Kedokteran. Penampilannya sama seperti saya juga, berkacamata dan kurus, sehingga saya diidentikkan dengan tipikal guru kimia itu. Hingga saya menjadi dosen di ITB teman-teman SMA tetap memangil “dotor” seperti itu. Penampilan saya di ITB dan di SMA tidak jauh berubah.

Ternyata dua puluh lima tahun kemudian saya memang menjadi “dotor” betulan, tetapi bukan dokter, melainkan “Doktor” atau “Dr”. Ini adalah gelar akademik setelah saya menyelesakan S3 beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, ini semua karena semangat juang, pertolongan Allah, dan doa banyak orang.

Doa? Ya, saya menganggap panggilan teman-teman dengan gelar “dotor” itu bukan panggilan iseng, melainkan adalah doa dan pengharapan mereka agar kelak saya menjadi dotor betulan. Ternyata doa itu benar-benar dikabulkan oleh Tuhan. Seorang teman SMP saya dulu sering dipanggil “profesor” karena dia jago matematika, ternyata dikemudian hari dia memang menjadi profesor betulan di Universitas Negeri Padang. Sekarang saya tidak dipanggil “dotor” lagi oleh teman-teman, tetapi berganti dengan “prof”. Amiin (padahal untuk menjadi profesor di ITB sangat sulit dibandingkan dengan di PT lain, seleksinya luar biasa ketat).

Kalau anda memanggil orang lain sebutan atau gelar-gelar, percayalah panggilan itu kelak akan menjadi kenyataan. Apa yang anda panggil itu adalah harapan dalam bentuk lain kepada orang itu. Dia akan mempersonifikasikan dirinya seperti yang disebut dalam panggilan. Kalau panggilan itu sebutan yang baik tentu tidak masalah, akan diijabah oleh Allah SWT. Bagaimana dengan panggilan yang buruk seperti “penipu”, “pengicuh, “nakal”, “bandel”, “pemarah”, “maling”, “gila”, dan lain-lain. Saya rasa panggilan yang buruk akan berbekas pada diri seseorang, dia merasa tidak bisa keluar dari stereotip yang dilekatkan orang kepadanya. Dia sudah terlanjur dicap buruk seperti yang sebutan yang buruk itu, dia merasa gagal menjadi orang baik karena orang-orang yang mengenalnya tetap menyimpan memori yang buruk tentang dirinya. Kelak di kemudian hari dia memang menjadi seperti sebutan itu. Anak kecil yang dulu dipanggil “pencuri” karena dia suka mencuri barang teman-temannya, ketika sudah besar dia menjadi penjahat kambuhan yang keluar masuk penjara karena mencuri.

Oleh karrena itu, Al-Quran melarang kita memanggil orang lain dengan gelar yang buruk, sebagaimana disebutkan di dalam Surat Al-Hujuraat ayat 11:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 49:11).

Jelaslah Allah melarang kita memanggil orang lain dengan gelar yang buruk, sebab gelar buruk itu akan terwujud di kemudian hari.

Bagi orangtua, sangat penting untuk tidak berucap kata yang buruk-buruk kepada anaknya. Apa yang diucapkan orangtua akan diijabah oleh Allah, karena doa orangtua kepada anaknya itu lebih makbul. Misalnya jika anak anda pemalas sehingga membuat anda sangat kesal maka janganlah sampai terlanjur anda mengucapkan “dasar pemalas” berulang-ulang kepadanya setiap kali anda marah dengan ulahnya. Kelak dia akan menjadi pemalas betulan di kemudian hari. Kalau anak anda pernah berdusta, janganlah anda terlanjur memanggilnya dengan sebutan “pembohong” berulang-ulang, kelak dia akan menjadi politisi yang suka berbohong kepada rakyat. Jika anak anda nakal, janganlah cap dia dengan sebutan “nakal”, karena nakal pada anak-anak itu hal yang biasa. Berhentilah mengucapkan kata yang buruk kepada anak, sebab Allah akan mengabulkan apa yang anda katakan, sebelum anda akan menyesal di kemudian hari.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Panggilan Itu Adalah Doa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s