Profesor yang Bersahaja

Saya kutip sebuah cerita yang saya peroleh dari sebuah milis. Cerita ini saya dapatkan dari Pak Dermawan Wibisono, dosen SBM ITB. Ini sebuah kisah tentang kerendah-hatian seorang dosen di Universitas Barkeley. Banyak hikmah yang terkandung di dalam cerita ini. Semoga bermanfaat bagi anda yang membacanya.

~~~~~~~~~~~~~

Dalam sebuah acara reuni di suatu masa, beberapa alumni University of Berkeley, California menjumpai seorang dosen di kampus mereka dulu. Melihat para alumni beramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, sang Profesor segera menuju ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda, motif, bahan dan ornamennya. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca melamin dan plastik biasa seperti kita jumpai di pasar kaget Gasibu Bandung.

Profesor tersebut menyuruh para alumninya untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi. Setelah masing-masing alumni mengisi cangkirnya dengan kopi, Profesor tsb berkata:”Perhatikan, bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus dan kini, yang tersisa hanyalah cangkir-cangkir yang murah dan tidak menarik. Memilih hal terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus itu, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkan dengan cangkir kalian. Pikiran kalian fokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya”.

Ia melanjutkan: “Hidup kita seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan dan harta benda yang kita miliki. Pesan moralnya adalah jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah hal yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagiaan. Itu konsep yang keliru, Kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya namun tidak pernah merasakan damai, suka cita, dan kebahagiaan dalam hidup kita? Itu sangat menyedihkan karena kita seperti menikmati kopi basi di dalam cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati kopi adalah bukan seberapa bagus cangkirnya, tetapi yang paling penting adalah kualitas kopinya?”.

Para alumni itu tercenung, dalam hati mengatakan, itulah mengapa mereka perlu jauh-jauh datang reuni dan menemui Profesor mereka yang bersahaja namun kaya makna itu”.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Hikmah. Tandai permalink.

17 Balasan ke Profesor yang Bersahaja

  1. ive berkata:

    analogi yg bagus pak….

  2. langitlembayung berkata:

    Inspiring, pak…
    Oke… saatnya kembali mengerjakan tugas…

  3. Sandra Irawana berkata:

    Pesan moral yang sangat bagus untuk pembelajaran & motivasi … Setuju Pak…

  4. Sandra Irawana berkata:

    Oh iya..😀.. ijin copas yah…

  5. PropertiQ berkata:

    Bagus sekali pak. Sangat inspirasi.

  6. sitii nurhayati berkata:

    motivasi yang sangat membangun pak

  7. codecarver berkata:

    ya, tidak dipungkiri bahwa sangat mungkin, seorang petani yg makan siang di pematang sawah, jauh lebih menikmati makannya daripada orang berjas dan berdasi yang makan di resto mewah

  8. Ping balik: Belajar dari Profesor | A. Famasya Lifestream

  9. Arifu's Blog berkata:

    wah, bagus banget analoginya pak ..
    memang orang-orang kebanyakan hanya melihat dari luar atau fisik, padahal yang diluar itu hanya sekedar pakaian yang kapan saja bisa hilang, tanpa pernah melihat sisi dalam dari manusia itu..

  10. bugis siak berkata:

    bagusnya cangkirnya cantik kopinya lebih cantik ..baru sempurna laksana seorang sulaiman….

  11. Auruma berkata:

    MUANTAB BGT NASEHATNYA!!!^_^

  12. Al-Mukarromah berkata:

    saya suka blog ini, hampir semua catatannya insipring… terima kasih telah bisa membuka mata saya

  13. Aal Mukarromah berkata:

    izin share boleh?

  14. hendra berkata:

    izin u share akhi
    perlu yang lain u membacanya sepertinya

  15. Ping balik: Profesor yang Bersahaja (Hakikat Kehidupan) | justsiwi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s