Usia dan Kesadaran Agama

Setiap kali saya bertemu teman-teman semasa sekolah pada acara-acara reuni, saya suka mengamati perubahan pada teman saya. Kalau perubahan fisik jelas kasat mata, seperti rambut yang sudah mulai beruban, kulit yang sudah tidak sekencang dulu, kerut-kerut di wajah yang menyiratkan ketuaan, dan sebagainya. Namun perubahan yang menarik perhatian saya adalah perubahan pandangan hidup, khususnya yang terkait dengan kesadaran menjalankan agama.

Sebagian teman-teman saya yang dulu badung (maaf, apa ya istilah tepatnya?) sekarang tampak lebih alim, lebih sholeh, dan terlihat lebih tenang. Sebagian ada yang sudah naik haji. Sebagian teman yang perempuan banyak yang sudah memakai busana muslimah. Padahal dulu mereka mungkin jarang sholat, lebih senang main atau kumpul-kumpul, suka berpakaian yang terbuka. Mungkin pengaruh lingkungan dan jiwa muda yang bergejolak membuat teman-teman saya kurang begitu ngeh soal agama.

Namun perjalanan waktu dapat mengubah hidup seseorang. Dengan bertambahnya usia timbul kesadaran pada diri seseorang, hidup ini mau kemana? Ada kesadaran tentang hidup sesudah mati, bekal apa yang akan dibawa mati? Apakah mau begini-begini saja hidup ini tanpa ada perubahan? Hal ini ditambah lagi dengan tanggung jawab sebagai seorang suami/istri yang menjadi pemimpin di dalam rumah tangga dan tanggung jawab sebagai seorang ayah/ibu yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Tentu tidak pantas lagi bertingkah laku seperti anak muda yang menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang tanpa tujuan.

Semua pertanyaan di atas pasti menimbulkan kegelisahan, dan jawaban terhadap kegelisahan itu hanya ditemukan di dalam agama. Hanya agama yang dapat menjawab kegelisahan hidup. Kembali kepada ajaran agama adalah primordialitas setiap manusia yang paling hakiki. Dengan kembali kepada agama artinya kembali kepada Tuhan. Agama memberikan kedamaian dan kesadaran tentang Tuhan, tentang akhirat dan tentang hidup sesudah mati. Bahwa perjalanan hidup ini akan berakhir pada suatu titik, yaitu kematian, tetapi kematian bukanlah akhir segalnya, kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi.

Karena itu, bagi saya sangat mengesankan ketika teman-teman saya yang dulu terkesan cuek dengan agama sekarang malah sangat suka berbicara tentang ketuhanan. Namun yang namanya sifat asli yang sudah melekat pada diri seseorang memang tidak bisa hilang begitu saja karena kesadaran beragama, namun dibandingkan dengan waktu dulu memang telah jauh berubah.

Tidak semua memang teman-teman itu berubah menjadi lebih alim, ada juga yang tetap badung seperti waktu remaja dulu. Tidak begitu taat amat tetapi juga tidak peduli agama sama sekali, sedang-sedanglah. Untuk mereka saya berdoa semoga mendapat hidayah dari Allah SWT dan semoga menjadi orang yang lebih sholeh.

Begitulah hidup ini, bagi Allah SWT mudah saja membuka hati manusia. Orang yang dulu preman atau pernah berbuat jahat sekarang berubah menjadi da’i. Orang yang dulu suka mengejek orang lain karena ketaatannya beragama sekarang menjadi pak ustad yang suka mengajak orang berbuat kebajikan.

Saya pernah bertanya-tanya, apakah dalam perjalanan hidup seorang manusia perlu berliku-liku dulu menjadi orang yang buruk perangai sebelum akhirnya menjadi orang yang baik? Kalau anda tanyakan kepada mereka yang sudah berubah menjadi orang alim itu, jawabannya sungguh mengagetkan. Kata mereka, kalau dari dulu kami sadar bahwa perbuatan kami yang buruk itu adalah dosa, kami tidak akan mau menjadi orang pendosa sejak dulu. Sudah berapa banyak waktu kami yang terbuang sia-sia hanya berbuat kelalaian. Kalau jarum waktu bisa diputar mundur, kami ingin menjadi orang yang baik sejak dulu seperti orang-orang sholeh itu.

Oleh karena itu,janganlah kita berandai-andai menjalani fase orang sesat terlebih dahulu sebelum menjadi orang yang sholeh. Siapa yang tahu dengan kematian? Ketika kita sedang menjalani fase tersesat lalu maut datang menjemput, maka semuanya sudah terlambat. Kita pun menjadi orang yang menyesal dunia akhirat. Sebelum semuanya menajdi terlambat, maka sadarilah bahwa hidup ini harus diisi dengan amal sholeh sebagai bekal perjalanan hidup di akhirat nanti.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s