Bapak Penjual Tahu Sumedang yang Gigih

Setiap pagi di depan rumah saya sering lewat seorang bapak penjual tahu sumedang. Dengan menyandang pikulan yang berisi dua keranjang tahu, dia berjalan sambil meneriakkan dagangannya dengan suaranya yang khas. “Tahuuuuu… tahu sumedaaang… tahuuuu. Pak, tahu sumedangnya pak…”, begitulah setiap kali dia lewat di depan rumah. Saya pun tersentuh mendengar suaranya. Segera saya panggil dia dan menyodorkan sebuah mangkuk untuk diisi dengan 10 buah tahu. Harga per biji tahu adalah Rp500.

Karena sering membeli, saya pun tergerak sekedar untuk bertanya. Jiwa civil jurnalism saya pun tergelitik untuk mengetahui tentang dirinya. Namanya Pak Asep, dia berasal dari Tanjungsari, sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang. Sumedang identik dengan tahu, anda belum ke Sumedang jika tidak makan atau membawa oleh-oleh tahunya yang khas.

Tahu yang dijual Pak Asep bukan dia yang membuat. Tahu yang sudah digoreng itu diambil dari bandar tahu. Setiap pagi Pak Asep mengambil 400 buah tahu dari bandar, lalu dia membawanya ke Bandung dengan menumpang bus umum yang setiap hari selalu melintasi jalan raya Sumedang. Jarak dari Tanjungsari ke Bandung sekitar 40 km. Di Bandung bus berhenti di terminal Cicaheum. Dari terminal Pak Asep berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di pemukiman di kawasan Bandung Timur, seperti Antapani, Arcamanik, Sukamiskin, dan sebagainya.

Satu buah tahu dijual seharga Rp500. Dua keranjang di pikulannya itu berisi 400 buah tahu. Jadi, jika 400 buah tahu itu semuanya habis maka terkumpul uang sebanyak Rp200.000. Jika harga satu buah tahu dari bandar Rp250, berarti Pak Asep mendapat untung Rp100.000. Dikurangi ongkos bus dan makan siang, maka uang yang dibawa pulang per hari tidak mencapai Rp100.000. Segitulah rezeki yang diperoleh Pak Asep setiap hari, tidak banyak memang tetapi riil rezekinya dan yang penting halal. Jika dibandingkan dengan pegawai pajak seperti Gayus dan Dhana yang mengkorupsi uang negara milyaran rupiah, penghasilan Pak Asep tidak ada apa-apanya, meskipun begitu biar sedikit tetapi yang paling penting halal dan barokah.

Untunglah setiap hari dagangan Pak Asep habis terjual. Jam dua siang semua tahunya sudah habis dan Pak Asep bersiap kembali ke rumahnya di Tanjungsari dari terminal Cicaheum. Setiap hari selalu begitu, rutin dari Senin sampai Ahad. Tidak ada waktu untuk libur atau istirahat. Jika libur berarti Pak Asep tidak mendapat uang pada hari itu.

Setelah selesai membayar tahu yang saya beli, Pak Asep minta permisi kemudian berjalan kembali sambil memikul dagangan tahunya. Tahuuuuuu… tahu sumedaaaang… tahunya pak, begitu suaranya yang khas menawarkan tahunya.

Saya memandang lelaki gigih itu pergi. Perjuangannya mencari nafkah sangat mulia. Saya terharu dengan kerja keras Pak Asep untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Anak istrinya tentu telah menunggunya di rumah, berharap keuntungan menjual tahu yang tidak seberapa itu.

Saya kembali masuk ke dalam rumah. Anak-anak saya sangat suka dengan tahu sumedang Pak Asep. Ini saya beli untuk mereka makan. Dibalik semangkuk tahu goreng itu tersimpan kisah perjuangan seorang lelaki asal Tanjungsari, Sumedang. Semoga Allah SWT memberkahimu, Pak.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

16 Balasan ke Bapak Penjual Tahu Sumedang yang Gigih

  1. aespe berkata:

    membaca ini, saya cuma rendah hati berdoa pada yang punya langit dan bumi, “Ya Rabb, mudahkan urusan umat mu ini yang menjaga diri dari kehinaan meminta minta dan mencuri, lariskan dagangannya, jauhkan dia dari bahaya, penyakit dan gangguan orang jahat”.. aaamiiiin, semoga doa antara sesama muslim tanpa yang didoakan tahu ini di kabulkan…

  2. abahe berkata:

    terharu T_T

  3. Abdi Irsyad berkata:

    ijin share pak…..
    Tulisan yang menyentuh
    Sebagai pengingat untuk selalu bersyukur atas Rahmat ALLAH SWT yang selalu mengalir deras bagai air
    Barakallah…….

  4. Herman Bzn berkata:

    ngiringan saaalit mani…!
    buat paasep mksh udah ngingetin kami yg tipis’ imannya….!

  5. aissgreyz berkata:

    Saya orang tanjungsari pak🙂
    kisahnya menyentuh sekali, izin share ya pak🙂

  6. Viandari Maretty berkata:

    aamiin ya Allah , merinding bacanya ..

  7. semangat45 berkata:

    ijin share ya pakkk..ceritanya menyetuh banget

  8. Amy Fap berkata:

    Betapa bodohnya kita yg menyia-nyiakan pekerjaan yg kita dpt. Disinilah betapa pentingnya rasa syukur tsb :’)
    izin share ya mas

  9. indi berkata:

    Sangat bermanfaat infonya, ditunggu artikel selanjutnya ya

  10. alfi berkata:

    Sungguh sajian yang sangat berguna, terimakasih banyak sukses untuk Anda

  11. risni berkata:

    Bagus, menarik, dan sangat elegan apa yang Anda sajikan ini

  12. irna monalika berkata:

    I think your article is very nice😉

  13. jackline berkata:

    Your article is very excited, i like it🙂

  14. eris berkata:

    i really interest for your topic

  15. Good information, thank for your share boy🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s