Tidak (Jadi) Naik dan Ditunda, Sama Saja

Drama kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mencapai antiklimaksnya pada hari Jumat 30 Maret 2012. Melalui drama sidang paripurna DPR yang alot — sementara di luar Gedung DPR demonstasi mahasiswa dan kaum buruh berlangsung panas dan hampir saja menduduki gedung — akhirnya rapat memutuskan kenaikan BBM tidak jadi pada tanggal 1 April 2012, tetapi ditunda hingga maksimal 6 bulan mendatang. Rapat paripurna menyetujui penambahan ayat tambahan pada pasal 7 yang memberi keleluasaan pada Pemerintah untuk menentukan harga BBM 6 bulan nanti tanpa perlu lagi disetujui DPR.

Pasal 7 Ayat (6a) yang telah disepakati dalam Sidang Paripurna DPR RI, Sabtu dini hari berbunyi: ‘Dalam hal harga rata-rata minyak Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata sebesar 15 persen dalam enam bulan terakhir dari harga minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012, maka pemerintah berwenang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya”.

Apa artinya semua ini? Apakah rakyat desa yang lugu dan rakyat kecil yang awam bisa dengan cerdas membaca keputusan DPR itu? Bahwa sebenarnya BBM tetap naik, hanya tinggal masalah waktu saja, ditunda hingga 6 bulan ke depan.

Menyedihkan, rakyat Indonesia telah “dibodohi” oleh politisi di Senayan. Para politisi di partai-partai di Senayan mendukung BBM tidak naik pada 1 Arpil nanti. Padahal secara ekplisit, mereka mendukung pemerintah untuk menaikkan harga BBM dalam waktu 6 bulan ke depan. Partai-partai itu telah menujukkan wajah bermuka dua, disatu sisi mereka seolah-olah pro rakyat dengan menolak kenaikan BBM, tetapi di sisi lain — karena takut kehilangan menteri (yang berarti kehilangan logistik untuk Pemilu 2014) — mereka menyetujui kenaikan harga BBM itu ditunda.

Ada pula sebuah partai (P*S) peserta koalisi yang sejak awal menolak kenaikan harag BBM dan berani berseberangan dengan kesepakatan koalisinya, seolah-olah partai itu bersama rayat atau mebela rakyat. Namun, publik dapat menilai bahwa sebenarnya sikap partai tersebut tidaklah tulus, tetapi ingin merebut simpati rakyat disebabkan citranya akhir-akhir ini terus merosot disebabkan perilaku petingginya yang tidak simpatik. Oleh karena itu, isu kenaikan BBM adalah momen yang tepat untuk meraih kembali simpati. Pencitraan, sekali lagi pencitraan. Kita dapat melihat semua partai — tidak hanya P*S — memanfaatkan isu kenaikan BBM ini untuk mengangkat popularitasnya.

Terlepas dari pencitraan tersebut, penundaan kenaikan harga BBM itu sudah menyusahkan kehidupan rakyat kecil. BBM tidak (jadi) naik, tetapi harga-harga barang kebutuhan — terutama barang kebutuhan pokok — sudah terlanjur naik ketika isu kenaikan BBM berhembus kencang. Harga-harga tersebut sulit untuk turun lagi. Ketika harga BBM benar-benar dinaikkan beberapa bulan yang akan datang, maka harga-harga barang kebutuhan yang sudah naik itu akan naik sekali lagi. Jadi, ada dua kali kenaikan harga barang kebutuhan pokok karena penundaan tersebut.

Jika melihat perkembangan harga minyak dunia yang terus menaik (dipicu krisis Iran – Amerika), maka mustahil harga BBM Indonesia tidak akan naik pada enam bulan yang akan datang. Menariknya, jika nanti harga BBM benar-benar dinaikkan, maka Pemerintah tidak perlu lagi meminta persetujuan DPR sesuai dengan ayat tambahan pada Pasal 7 tadi. Maka, yang akan terjadi nanti adalah Presiden SBY akan menjadi sasaran kemarahan rakyat, sementara anggota DPR lepas tangan dan ongkang-ongkang kaki dan merasa tidak ikut bertanggung jawab.

Inilah Indonesia, negara pengekspor minyak, tetapi harus membeli minyak dari luar. Kita hanya dapat memproduksi minyak mentah, lalu minyak mentah itu diespor ke luar untuk diproses, kemudian kita beli kembali dalam bentuk jadi. Dengan kata lain, harga minyak di negara kita bergantung pada harga minyak dunia. Bila harga minyak dunia naik, maka kita harus membelinya dengan mahal, dan akibatnya harga BBM di dalam negeri naik juga. Sungguh tidak efisien. Apakah negara ini tidak mampu memproses minyak mentahnya sendiri tanpa perlu membeli lagi dari luar?

Mengapa kenaikan harga BBM merupakan isu yang sensitif rakyat Indonesia sehingga aksi demo dan unjuk rasa terjadi di mana-mana? Ini tidak lain karena kenaikan harga BBM memiliki efek domino. Jika harga BBM naik, maka dipastikan ongkos transportasi akan naik. Karena bahan-bahan produksi diangkut dengan alat transportasi, maka efek berikutnya harga barang yang diproduksi juga akan naik. Harga barang produksi naik akan merembet kepada harga barang kebutuhan lain, seperti sembako, bahan bangunan, jasa, dan lain-lain. Dapat anda bayangkan bagi rakyat kecil kenaikan harga BBM itu akan membuat mereka makin menderita. Harga BBM naik sementara penghasilan tetap, maka yang terjadi adalah pemiskinan. Rakyat kita yang sebagian besar hidup miskin akan semakin dimiskinkan lagi.

Tidak hanya harga barang dan jasa yang naik, efek domino dari kenaikan BBM ini juga bisa membuat tekanan darah naik. Percaya atau tidak. Itulah nasib bangsaku, alangkah malangnya rakyat negeriku ini.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Tidak (Jadi) Naik dan Ditunda, Sama Saja

  1. ikhwanalim berkata:

    konsep bulog sebagai “lumbung” beras, yang juga secara tidak langsung, dapat berperan mengatur harga beras, (mungkin) seharusnya bisa diterapkan dalam pengelolaan minyak mentah kita, pak.

    entah tidak kreatif, entah tidak feasible dilakukan, saya tidak tahu🙂

  2. aespe berkata:

    “Namun, publik dapat menilai bahwa sebenarnya sikap partai tersebut tidaklah tulus, tetapi ingin merebut simpati rakyat”

    guru… digugu ditiru, guru kencing berdiri, murid kencing berlari, pa dosen udah suudhon, mahasiswa boleh dong bakar2an… hehehe

    cape aah, saling berprasangka termakan media, 1-2 orang butut, apa iya se organisasi rusak?

    kapan negeri ini mau bener, kalau yang jelek di cela, yang bagus di nafikan, dan kemudian.. anarki jadi tanya… wajar2 aja anarki dong, dosen aja hopeless ama pengurus negeri ini apalagi mahasiswa

    oh iya, saya bukan kader partai itu, cuma simpatisan yang kasihan sama mereka, urusan di padang mahsyar mereka bakal ribet, ga perlu lah kita ikut2an mencela, bantu doa dan berharap saja …🙂

    • Rinaldi Munir berkata:

      Kalau disebut suudhon ya tidak apa-apa, ini sudah merupakan hasil renungan yang mendalam setelah melihat sepak terjang dan perilaku politisinya. Secara pribadi saya memang sudah enek melihat partai tersebut. Dua kali saya pilih dan sekarang kecewa. Kecewa dengan petinggi-petingginya yang mempunyai akhlak politik tidak baik. Saya lebih kasihan kepada kader-kadernya di akar rumput yang bekerja keras dengan ikhlas tetapi dirusak oleh petingi-petingginya. Toh partai tersebut sekarang sudah menanggalkan azas Islamnya menjadi partai plural yang pragmatis, yang berarti sama saja dengan partai-partai lainnya.

      Saya membaca banyak media, dan saya pastikan saya tidak termakan berita oleh satu dua media.

      Soal sikap BBM itu, tidaklah patut dia menelikung dari kesepakatan bersama. Kalau memang ingin berseberangan dengan Pemerintah, dan bersama-sama dengan rakyat, dia harus keluar dari koalisi, lebih gentle dan bertanggung jawab, jangan seperti sekarang, menggunting di dalam lipatan.

      Saya akan respek kepada partai tersebut jika menolak kenaikan BBM dalam posisinya sebagai oposisi. Tetapi, jika menyuarakan penolakan namun satu kakinya berada sebagai pihak Pemerintah, jelas tidak etis dan kacau.

      Kalau partai tersebut selalu dianggap baik karena membawa simbol-simbol agama, hilanglah daya nalar dan daya kritis kita. Justru dia harus dihukum dengan cara tidak dipilih lagi dalam Pemilu mendatang. Anda boleh suka atau tidak suka dengan pandangan saya ini.

      .

      • shareperience berkata:

        Setuju Pak. Saya jg berpendapat sikap P*S itu tidak terpuji (bermuka dua-nya maksud saya bukan yg menolaK naiknya BBM). Kalau saya pribadi memang cenderung kurang suka dengan parpol yg membawa-bawa agama karena menurut saya agama itu baik dan suci sedangkan parpol itu sangat mungkin disusupi oleh orang-orang yg punya kepentingan tidak baik. Sangat susah (ato bisa dibilang tidak mungkin, kecuali kalau emang yg menyeleksi bisa membaca pikiran orang dan benar2 mengerti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang) mengambil kader parpol yg dijamin 100% tidak akan berbuat tidak terpuji dimasa yang akan datang. Terutama jika partai itu mulai terkenal (baca: banyak simpatisan dan pemilihnya). Ini menurut saya yang terjadi pada P*S. Saat terlihat banyak simpatisan/pemilihnya mulailah orang2 yg seperti itu masuk. Kalau kader parpol berbuat jelek, partainya juga akan kena getahnya dan kalo parpol itu membawa simbol2 agama atau dikenal berasaskan suatu agama, maka agama itu bisa sedikit banyak kena juga.

  3. Sandra Irawan berkata:

    Ya itulah para petinggi yg sdh enak menikmati keindahan dunia diindonesia, mereka semua tdk akan puas & akan trus menguras kekayaan harta indonesia. Tidak akan pernah berfikir bagaimana mereka diberi gajih dari hasil jerih payah seluruh rakyat. Tidak peduli dengan naik atau turunya harga, toh mereka sudah senang dengan segala fasilitas kemewahan jabatannya yang serba gratis.
    Benar kata sebuah lagu, “Dunia ini (khususnya indonesia) panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah”… dan seterusnya… itu lagu yg menyuarakan indonesia sekarang yg sebenarnya. Silahkan dan terserah mereka yg menjadi para petinggi mengatur semuanya “Mau dibawa kemana…” negara kita tercinta indonesia.

  4. fun bali trip berkata:

    ika melihat perkembangan harga minyak dunia yang terus menaik (dipicu krisis Iran – Amerika), maka mustahil harga BBM Indonesia tidak akan naik pada enam bulan yang akan datang.

  5. long berkata:

    begitulah anggota DPR yang selalu menikmati fasilitas rakyat tapi tidak pro rakyat pemerintah saat ini lagi gencar-gencarnya mengurangi kemiskinan sekarang harga sembako udah naik padahal bbm di tunda kenaikannya secara otomatis hal ini menjadi bom waktu buat rakyat kecil yan 6 bulan kedepan bisa naik dan harga sembako naik lagi untik kedua kalinya, mohon buat anggota DPR bener2 mementingkan rakyatnya seorang pemimpin besar tanggung jawabnya apabila seorang pemimpin menyengsarakan rakyatnta maka balasanya diakherat api neraka akan menunggu diakherat nanti kesenangan dunia hanya sementara pak ingatttttttt……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s