“Hukum” Membuatkan Program TA Orang Lain

Mahasiswa saya pernah bertanya bagaimana “hukum” membuatkan program Tugas Akhir mahasiswa lain? Mahasiswa-mahasiswa saya sejak tingkat 2 sudah mahir membuat program aplikasi dari skala menengah hingga skala besar. Mereka sudah menguasai banyak kakas (tool) pemrograman sebagai efek manfaat dari pengerjaan tugas besar yang bejibun di Informatika ITB. Programming merupakan ketrampilan yang harus dimiliki mahasiswa kami, sama seperti ketrampilan menggambar bagi mahasiswa senirupa. Tanpa memprogram kuliah di Informatika itu rasanya hambar.

Nah, karena sudah mahir memprogram, mereka banyak yang bekerja nyambi sebagai pekerja part time di beberapa perusahaan, bahkan banyak pula yang merintis membuat start up company bersama teman-teman sekelompoknya. Saya memandang positif kegiatan mereka itu, kuliah di Informatika kalau dipraktekkan langsung terasa lebih bermakna dan bernas.

Selain bekerja part time atau start up company, sebagian lagi ada yang menerima order pembuatan program dari instansi atau lembaga yang membutuhkan, ada juga dari orang/pribadi. Untuk yang terakhir ini biasanya program yang berkaitan dengan skripsi, atau tugas akhir/thesis. Tidak hanya skripsi S1, tetapi juga S2,bahkan S3. Pada mulanya jasa pembuatan program tersebut murni menolong karena sesama teman, tetapi lama kelamaan ada yang menjadikannya sebagai bisnis.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Bagaimana hukum membuatkan program TA mahasiswa lain? Saya tidak menemukan aturan tertulis tentang ini di kampus, karena hal ini memang aspek normatif, tetapi saya menganggapnya sebagai sebuah persoalan etika yang serius dan perlu mendapat perhatian, karena hal ini menyangkut karya ilmiah yang harus jelas sumber dan sistematika pengerjaannya.

Membuatkan program TA mahasiswa yang core-nya bukan belajar komputer/informatika, atau tidak ada kuliah programming di dalam kurikulumnya, saya kira masih wajar dan bisa ditoleransi. Misalnya mahasiswa biologi, ilmu-ilmu sosial, kedokteran, dan sebagainya. Di dalam kurikulum mereka tidak ada kuliah programming, tetapi di dalam penelitian TA mereka memerlukan aplikasi pengolahan data untuk mendukung hipotesis atau tujuan penelitian. Jika kebutuhan pengolahan data tersebut bisa diselesaikan dengan aplikasi office, saya kira tidak perlu membuat program khusus. Toh tidak diperlukan antarmuka yang bagus, bukan? Mengolah data dengan aplikasi office seperti Microsot Excel, Microsoft Access, dll seharusnya sudah dapat dilakukan mahasiswa jurusan program studi apapun. Menggunakan komputer di dalam perkuliahan sudah menjadi keharusan saat ini, karena tugas-tugas kuliah minimal sudah mengharuskan menulis laporan, mencari bahan di internet, atau sekedar perhitungan sederhana. Sebagian besar kurikulum program studi sudah memasukkan kuliah Pengenalan Komputer atau Pengenalan Teknologi Informasi sebagai salah satu mata kuliah awal.

Namun, jika terpaksa harus dibuat program karena spesifikasinya yang unik, biasanya mereka yang bukan berasal dari core komputer ini meminta bantuan teman-teman mahasiswa dari Informatika/Ilmu Komputer/Sistem Informasi untuk membuatkan program. Biasanya ada “jasa” dalam bentuk uang setelah transaksi pembuatan program tersebut selesai. Masalah esensial di sini bukan uang tetapi etika. Karena laporan TA dan program adalah kesatuan yang terintegrasi, maka pembuatannya harus disebutkan dengan jelas. Menurut pendapat saya, mahasiswa pemberi order pembuatan program harus menyebutkan di dalam laporan skripsinya bahwa program pendukung penelitiannya dikerjakan oleh X. Penyebutan tersebut minimal ditulis di dalam Bab Kata Pengantar, sehingga orang yang membaca laporan skripsinya bisa memahami bahwa program komputer bukan buatan si penulis. Jika ditutupi atau tidak ditulis pembuat program tersebut maka dapat timbul kesan bahwa program buatan mahasiswa TA.

Bagaimana dengan mahasiwa dari program studi “abu-abu”, yaitu program studi yang memasukkan mata kuliah pemrograman dalam kurikulumnya? Di ITB beberapa program studi memiliki kuliah pemgrograman, misalnya Teknik Perminyakan, Teknik Industri, Teknik Pertambangan, Teknik Elektro, Fisika, Matematika, dan lain-lain. Mata kuliah pemrograman dimasukkan karena dalam studi lebih lanjut mereka perlu mengembangkan program sendiri sesuai kebutuhan bidang studinya. Nah, bagi kelompok mahasiswa dari program studi abu-abu ini, sebaiknya mereka membuat sendiri program untuk TA-nya, bukankah mereka sudah memiliki kemampuan dasar pemrograman. Pada kasus-kasus dimana dibutuhkan kemampuan programming in advance, misalnya adanya kebutuhan visualisasi/penggambaran grafis/animasi, interfacing dengan peralatan lain, sinkronisasasi, dan sebagainya, yang mana kemampuan memprogram seperti ini tidak dimiliki mahasiswa yang bersangkutan, maka bantuan pembuatan program dari mahasiswa komputer/informatika masih bisa dimaklumi. Namun, seperti pada kasus mahasiswa yang core-nya bukan komputer, maka penyebutan nama orang lain yang membantu membuat program aplikasi harus disebutkan di dalam laporan.

Bagi mahasiswa S2 dan S3 pendapat saya sama seperti mahasiswa S1. Khusus mahasiswa S3, topik penelitian biasanya dibagi menjadi beberapa sub-topik, setiap sub-topik dapat dijadikan Tugas Akhir mahasiswa S1 atau S2. Di dalam kurikulum S3 di manapun ada kewajiban menulis makalah untuk dipublikasikan di dalam prosiding konferensi atau jurnal ilmiah. Maka, nama-nama mahasiswa yang terlibat di dalam penelitian –termasuk mahasiswa yang membantu membuat program penelitian– harus dimasukkan namanya di dalam makalah tersebut.

Bagaimana jika mahasiswa komputer/informatika dibuatkan programnya oleh orang lain? Kata salah seorang mahasiswa saya, dia mendengar cerita –bahkan pernah ditawari– membuat program TA mahasiswa Informatika dari perguruan tinggi lain. What? Mahasiswa Informatika dibuatkan program TA-nya oleh mahasiswa lain? Apa kata anak negeri kalau sudah begini? Menurut saya kasus ini sungguh sangat tidak etis dan termasuk pelanggaran fatal. Perlu dipertanyakan kemana saja dia selama kuliah?

Yang terbaik tentu membuat program aplikasi sendiri untuk kebutuhan penelitian di dalam skripsi/thesis/disertasi, sebab yang lebih memahami “ruh” penelitian adalah mahasiswa yang bersangkutan. Selain lebih bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, secara etis juga lebih baik daripada dibuatkan orang lain. Namun, jika terpaksa pembuatan program dikerjakan pihak lain, maka etikanya seperti yang saya sebutkan di atas yaitu harus disebutkan nama penulis program di dalam laporan, tulisan, atau makalah. Di zaman era teknolologi informasi yang serba komputer sekarang ini, saya kira kuliah pemrograman sudah menjadi mata kuliah wajib pada hampir sebagin besar program studi, terutama program studi eksakta. Membuat program sendiri sesuai kebutuhan bidang studi sudah tidak bisa dielakkan lagi.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

6 Balasan ke “Hukum” Membuatkan Program TA Orang Lain

  1. rotyyu berkata:

    Kalau di kampus sebesar ITB, saya percaya kalau mahasiswa Informatika pasti mahir bhs pemrograman. Namun masih banyak kampus lain di negeri ini yg jurusan Informatika msh salah urus atau mungkin mahasiswanya yg salah jurusan. Sehingga TA harus dibuatkan org lain.

    • nothing berkata:

      ato jurusanny yg salah ngambil mahasiswa.. ๐Ÿ˜›

      • ikhwanalim berkata:

        setahu saya, di ITB belum ada aturan tertulis tentang “hukum” tersebut. tetapi di UI ada, sbagaimana saya lihat di program televisi Mata Najwa (mudah2an tidak salah kampus). yang ada di UI, dinyatakan bahwa keseluruhan proses penelitian tugas akhir mesti dikerjakan SEORANG diri๐Ÿ™‚

  2. Al-ayyubi berkata:

    mudah2an pendidikan kita merata ya.ga hanya di dominasi satu atau beberapa kampus saja.๐Ÿ™‚

  3. rosa berkata:

    iya beberapa yang orang komputer gak bisa coding sama sekali karena salah asuhan, karena sebenarnya dosennya yang ngajar sebenarnya juga gak mengerti logika pemrograman.

  4. Ahmad Arif berkata:

    Dikampus saya hanya beberapa dosen yang mahir dalam pemrograman, dan diantaranya ada yang tidak terlalu bisa untuk menjelaskan kepada orang lain sehingga beberapa teman saya masih ada yang tidak terlalu paham terhadap pemrograman padahal sekarang sudah menginjak semester 5 yang harusnya sudah mengerti dan mahir dalam memprogram..
    Mohon solusi dari pak rinaldi yang buku Algoritmanya dan Pemrogramannya selalu saya baca๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s