“Saya Rasa” dan “Saya Pikir”

Dalam sebuah sidang Tugas Akhir, seorang dosen penguji mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa yang presentasi: “Bagaimana menurut anda jika salah satu parameter input diubah menjadi nol, apakah sistem yang anda buat akan deadlock?”.

Mahasiswa tersebut menjawab dengan ragu-ragu, “Saya rasa tidak berpengaruh, Pak. Sistem yang saya buat ini sudah menangangi kasus-kasus ekstrim seperti pengubahan input menjadi nol”.

“Mengapa anda menjawab memakai perasaan? Bukankah anda harus bisa memberikan argumentasi yang logis?”, cecar dosen penguji.

Sang mahasiswa terdiam dan tidak mengerti dengan bantahan dosen penguji. Apa yang salah?

Tentu saja jawaban mahasiswa tadi tidak sepenuhnya salah, tetapi dia membuat kesimpulan berdasarkan perasaan. Itu karena dia memulai argumennya dengan frase “Saya rasa”. Jelas jawaban tersebut memakai perasaan bukan? Padahal yang dia sajikan adalah karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan metodologis dan sistematikanya. Ada alur berpikir logis dalam melakukan penalaran. Perasaan tidak punya metodologi dan dasar logika, ia berasal dari sanubari manusia yang output-nya bergantung pada keadaan seseorang, mood, dan emosi.

Jadi, seharusnya mahasiswa tadi menjawab dengan memulai dengan frase “Saya pikir” atau “Saya kira”, bukan dengan “Saya rasa”. Frase “Saya pikir” berarti argumentasi tadi dihasilkan dengan penalaran logika. Dalam melakukan penalaran masukannya adalah sejumlah premis dan konsekuennya. Berdasarkan sekumpulan premis dan konsekuen tadi disusun sebuah argumen yang menghasilkan kesimpulan.

Menurut saya cara menjawab pertanyaan dengan frase “Saya rasa” dan “Saya pikir” tadi dipengaruhi oleh budaya. Orang Barat terbiasa berpikir secara logis dan kurang menempatkan perasaan dalam adu argumentasi. Dalam percakapan mereka sering memulai dengan frase “I think” dan bukan “I feel”. Sebaliknya orang Timur seperti bangsa kita sudah terbiasa mengedepankan perasaannya dalam bertindak sehingga frase “Saya rasa” sudah menjadi kebiasaan. Cobalah anda amati dan dengar percakapan dengan orang-orang di sekelling anda atau dialog/debat di televisi, maka sering kali kita mendengar pendapat yang dimulai dengan frase “Saya rasa”.

Oleh karena itu, seharusnya kita menggunakan kedua frase tersebut pada tempatnya. Kita menggunakan “Saya pikir” jika jawaban terhadap pertanyaan itu menyangkut proses berpikir terstruktur, dan kita gunakan “Saya rasa” jika jawaban itu adalah suatu intuisi yang melibatkan emosi dan perasaan.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

Satu Balasan ke “Saya Rasa” dan “Saya Pikir”

  1. Rizky berkata:

    Setuju pak, sejak seminar satu dulu, saya sekarang jadi lebih hati-hati dalam memilih kosa kata tidak hanya dalam rapat, tapi juga dalam berbicara di umum maupun dunia maya.

    Kosakata yang sering dipakai orang yang malas berpikir (istilah saya) menurut saya adalah “katanya” dimana partikel nya tidak merujuk pada siapapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s