Anak Meniru Kelakuan Orangtua di Rumah

Seringkali kita temukan remaja yang suka merokok di tempat umum. Selain karena pengaruh temannya, ternyata penyebab mereka merokok itu adalah karena kebiasaan ayahnya yang suka merokok di rumah. Seorang ayah yang suka memamerkan kebiasaan merokoknya di depan anak maka percayalah bahwa nanti suatu hari anaknya juga akan merokok. Sang anak merasa bahwa perbuatan merokok itu adalah hal yang biasa, maka dia pun merasa tidak “bersalah” jika mencobanya dan akhirnya menjadi terbiasa pula seperti ayahnya. Jika anda sebagai ayahnya marah memergoki anak anda merokok, maka anda harus introspeksi bahwa andalah yang menyebabkan anak demikian.

Apakah anda — para ibu — juga suka memamerkan merokok di depan anak perempuan anda? Anda tidak perlu menyesali diri jika nanti anak perempuan anda juga menjadi perokok.

Apakah anda — para ayah — suka bertelanjang dada di dalam rumah, memakai hanya celana pendek saja dengan alasan gerah? Anak anda yang melihat itu hal yang biasa dan kelak dia pun tidak sungkan bertelanjang dada di depan tamu yang datang ke rumah.

Anak yang suka berkata kasar, berisi kata-kata sumpah serapah, atau suka mengabsen nama-nama penghuni kebun binatang, maka patut diduga kebiasaan berkata kasar itu diperoleh dari rumah. Tidak sadarkah anda sebagai orangtua yang sering berkata kasar di dalam rumah tangga, maka anak akan meniru pula kebiasaan itu. Saya pernah menemukan kasus ini, teman anak saya yang kata-katanya cenderung kasar ternyata setelah saya amati orangtuanya juga begitu terhadap anaknya. Tak ada kasih sayang lemah lembut sama sekali dalam berbicara.

Sebaliknya saya juga sering menemukan anak yang sopan dan santun dalam berbicara, sikapnya juga ramah. Ternyata orangtuanya juga ramah dan dalam bertutur kata lemah lembut dan sopan. Pantesan. Bagaimana anda sebagai orangtua bersikap di rumah maka anak juga akan melihat dan menirunnya. Bagaimana anda di depan anak, maka begitulah anak anda nanti. Dia belajar dari ayah dan ibunya. Dia belajar dari apa yang dia lihat di sekelilingnya. Dia belajar dari perlakuan yang diterimanya.

Mendidik anak itu tidak mudah. Teladan pertama datang dari anda, para orangtua. Maka, jika anda memberikan contoh yang baik, anak anda tumbuh menjadi anak yang baik, tetapi jika anda memberikan contoh yang buruk, maka anda jangan kaget jika anak anda meniru keburukan itu.

Dalam ajaran Islam, contoh dari orangtua adalah yang nomor satu. Bagaimana anak anda mau shalat lima waktu jika anda sendiri tidak menegakkan shalat berjamaah di rumah. Bagaimana anak anda mau membaca al-Quran jika anda sendiri tidak pernah mengaji setiap waktu Maghrib.

Dengarlah sebuah kutipan puisi tentang mendidik anak dari Dorothy Law Nolte (saya kutip dari sini):

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s