Kantin Salman yang Tetap Lestari

Hampir semua mahasiswa ITB zaman dulu (1970-an) hingga sekarang tahu tempat makan yang bersih, murah, dan variatif di sekitar kampus, yaitu Kantin Salman. Kantin yang berada di lingkungan Masjid Salman ITB ini memang menjadi pilihan banyak mahasiswa ketika sarapan, makan siang, dan sekali-sekali makan malam. Kantin ini selalu ramai pada puncak jam makan siang (12.00 – 14.00).

Dulu ketika saya kuliah belum banyak kantin di dalam kampus. Hanya ada kantin Kokesma di gedung RSG yang sekarang telah dihancurkan dan bangun menjadi gedung Student Center, kemudian kantin GKU Barat dengan ibu kasir yang terkenal amat galak itu (he..he, saya masih ingat dulu pernah dibentak oleh ibu galak itu yang kemudian saya tahu dia adalah istri dosen Teknik Fisika. Gimana suaminya bisa tahan ya dengan perempuan galak itu, he..hee.). Kantin Borju di dasar LabTek V baru ada pada tahun 1996 (disebut borju karena dulu makanannya agak aneh dan mahal gitu). Kemudian bermunculan Kantin Gedung Bengkok dan kafe di Student Center sekarang. Di luar kampus juga muncul kantin pujasera yang berjejer di Jalan Gelapnyawang, kantin pujasera itu baru ada pada tahun 2000-an setelah para pedagang kaki lima di Jalan Ganesha direlokasikan ke sana. Ini belum termasuk kantin-kantin kaki lima di belakang kampus sekitar Jalan Tamansari dan Dayang Sumbi.

Untuk urusan makan memang ITB tidak menyediakan kantin yang cukup banyak, nyaman, murah dan sehat. Padahal setiap hari ada sekitar 15.000 orang lebih di dalam kampus yang perlu mencari makan siang. Kantin Salman adalah alternatif bagi mahasiswa yang ingin mencari makan siang yang murah, sehat, dan banyak variasinya, selain itu swalayan alias ambil sendiri menunya sesuai selera baru kemudian bayar. Memang perlu berjalan kaki ke luar kampus menuju Masjid Salman, tetapi sekalian shalat Dhuhur di masjid tentu tidak masalah.

Kantin Salman adalah tempat “pelarian” saya dulu untuk sarapan dan makan siang. Dengan uang kiriman yang pas-pasan dari orangtua, makan di kantin ini adalah alternatif yang tepat. Mulanya saya kurang sreg dengan menu masakan di sana, agak jawa dan nyunda gitu. Maklum selera makan saya agak payah bilamana tidak ketemu masakan Minang. Tapi, lama-kelamaan akhirnya bisa juga saya menyesuaikan asalkan masakannya tidak yang manis. Kalau di rumah makan Padang terus-terusan bisa tekor saya karena agak mahal untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya.

Bila saya mau kuliah dan tidak sempat sarapan di sekitar kosan, maka saya makan di kantin ini dengan menu favorit adalah telur dadar gulung. Saya sarapan sekitar jam 9 pagi gitu, seusai jam kuliah pertama. Kalau makan siang saya suka pecelnya, pecel khas Jawa yang enak dan pedas, sedangkan untuk lauknya favorit saya adalah ayam goreng tepung dan tempe goreng garing.

Meskipun saya masih tetap di ITB, saya sudah sangat jarang saya makan di kantin Salman. Apalagi sejak saya menikah, lebih banyak saya membawa bekal makan siang sendiri dari rumah. Kadang-kadang saya dapat makan karena ada rapat atau sidang tugas akhir di kampus, oleh karena itu saya jarang makan di luar. Kalau tidak dapat makan siang, biasanya saya menyuruh pramukantor membeli nasi kapau (masih Padang juga, he..he) atau mi goreng aceh di jalan Dago.

Sekali-sekali saja saya masih makan di Kantin Salman. Mbak-mbak pelayannya ada yang masih saya kenal bertahan hingga sekarang. Minggu lalu saya membeli makan siang di sana. Saya sempat foto-foto suasana dan menu masakannya seperti di bawah ini:

Pembeli memilih sendiri makanannya (self service). Jalur untuk pria dan wanita dipisah sesuai syariat agama.

Aneka ragam masakan yang bisa dipilih sendiri sesuka hati

Aneka minuman mulai dari yoghurt, cendol, kacang hijau, teh manis, dll. Silakan tambahkan es batunya sendiri.

Puluhan jenis kue basah yang menggoda selera

Silakan ambil nasi sendiri, banyak atau sedikit. Jika anda punya perut dengan porsi besar, anda bisa mengambil nasi dengan porsi banyak. Harganya dianggap satu porsi.

Ruang makan. Tidak terlalu ramai, maklum saya ke sana jam 10 pagi.

Kantin Salman tampak dari luar

Sampai sekarang menu-menu favorit saya masih ada di sana yaitu telur dadar gulung, ayam goreng tepung, pecel, tempe goreng tepung, soto ayam, dan lain-lain. Tentu sudah banyak menu-menu baru yang mengindonesia sehingga rasanya tidak lagi dominan Jawa.

Agar anda bisa menilai seberapa murah makan di Kantin Salman, menu makan siang yang saya pilih untuk dibungkus adalah nasi satu porsi, satu potong ayam goreng tepung (dada), sayur tahu, sambal, buah pisang dan buah semangka, semuanya hanya Rp8.500 rupiah saja. Relatif murah untuk ukuran makan di seputaran kampus dengan menu sejenis itu.

Meskipun berada di lingkungan Masjid Salman, namun mahasiswa yang makan di sana siapa saja, baik yang muslim atau bukan, baik suku jawa, sunda, minang, batak atau etnis cina. Alasan mengapa banyak orang makan di sana tak lain karena hal-hal yang saya sebutkan di atas: murah, sehat, dan variatif. Hingga kini kantin Salman tetap eksis dan menjadi andalan mahasiswa perantauan.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

10 Balasan ke Kantin Salman yang Tetap Lestari

  1. ikhwanalim berkata:

    sepengamatan saya ya, pak. yang mendominasi makan di kantin salman kini adalah mahasiswa TPB. tapi begitu mereka bosan makan di sana terus-terusan, mereka lalu berpindah ke gelap nyawang atau gerbang belakang ITB. atau, bila tidak punya waktu yang cukup, mereka akan makan di kantin dekat jurusan saja🙂

  2. zakkafauzan berkata:

    sama seperti komen pertama… saya juga rajin ke kantin salman ini waktu masih TPB aja😀

  3. rotyyu berkata:

    Emang agak repot berurusan dengan masakan Jawa kalau baru datang dari Sumatera, hampir semua serba manis.

  4. fathiiiii berkata:

    Saya masih ingat bentuk kantin ini ketika masih di bangunan kayu yang sekarang sudah digusur dan berubah menjadi gedung permanen 4 tingkat. Waktu masih SD, tiap hari Ahad saya ikutan Perisai Diri di lapangan sipil, setelah itu makan siang di kantin Salman🙂

  5. Rizky berkata:

    saya ke kantin salman hanya dua tahun pertama di ITB saja setelahnya saya prefer ke tempat lain. Kalau boleh kritik soal rasa, kantin Salman rasanya agak sedikit hambar. Tapi ada menu favorit saya yang cuma ada di tempat ini : Susu Sapi di pagi hari

  6. imanuddina berkata:

    Kantin yg amat berjasa bagi perantau berkantong pas-pasan🙂
    Mgkn hampir 4 tahun saya di sana, paling sering ke sini. Menu nya bervariasi dan di zaman itu boleh dikata enak🙂 Rp. 500 hingga Rp. 1000 (mewah dgn kue dan segelas jus) mantap tenan.

  7. Falah berkata:

    Kesan tidak sedap di kantin salman puluhan tahun yang lalu.

  8. asambackpacker01 berkata:

    Murah tapi enak. Sambal goreng hati sapinya otentik (mirip yg di nasi begana nya sate khas Senayan). Sayur dan lauk lainnya juga enak. Jus nya enak. Kue dan snack nya bervariasi dan murah. Dengan kenyang yang sama, harganya 1/3-1/2 harga fast food.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s