Kekerasan dan Irshad Manji

Baru-baru ini kedatangan seorang wanita yang disebut tokoh feminis menimbulkan kontroversi di negara kita. Dialah Irshad Manji. Dia ditolak di beberapa tempat, beberapa acara diskusinya dibatalkan, termasuk di Kantor Muhammadiyah dan yang terakhir di UGM. Tragisnya lagi acara diskusi dengan Irshad Manji di LKIS Yogyakarta diserbu sebuah Ormas dan beberapa orang peserta diskusi luka-luka.

Saya tidak terlalu tahu Irshad Manji, yang saya tahu dia seorang lesbian atau penyuka sesama jenis. Dia menjadi populer di kalangan liberal (kalau di Indonesia namanya JIL) karena pemikirannya dianggap sebuah ijtihad atau membawa “pembaruan” tentang beberapa ajaran Islam. Pemikiran Manji begitu disanjung dan dibela oleh orang-orang JIL, Manji dianggap sebagai seorang mujtahid atau pembaru yang membawa ide pencerahan.

Jujur saya tidak pernah membaca buku-buku Manji itu, tetapi berdasarkan yang saya baca dari beberapa sumber di Internet, buku Manji seperti The Trouble with Islam berisi curhat dan perjalanan hidupnya yang pahit, termasuk tentang masa kecilnya yang pernah mendapat kekerasan dari ayahnya, plus interaksinya dengan beberapa orang pernah dizalimi atas nama Islam. Satu bukunya lagi, Allah, Liberty and Love berisi korespondensinya dengan orang-orang di berbagai belahan dunia yang ingin mendapat dukungan semangat dari Manji (baca tulisan ini: Transformasi Akademik Seperti Apa yang Diharapkan dari Irshad Manji? dan yang ini: Poor Irshad Manji).

Isi buku Manji juga banyak berisi kata-kata yang kasar dan tidak pantas. Secara tidak langsung pada buku yang terakhir dia mempromosikan tentang gagasan lesbian dan pemahamannya tentang Nabi Luth. Dikutip dari sini: “Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar. Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kaupun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”

Dari sini saya bisa menilai bahwa penafsiran Irshad Manji tentang ajaran Islam dan Al-Quran sangat keterlaluan. Beberapa pemikirannya lainnya yang kebablasan dapat anda baca pada tulisan ini: http://filsafat.kompasiana.com/2012/05/12/irshad-manji-hasil-kebebasan-pemikiran-yang-kebablasan/.

Apakah pantas pula dia disebut sebagai seorang pemikir atau pembaru Islam sementara dia melakukan maksiat dengan menjadi seorang lesbian yang melakukan hubungan sesama jenis. Larangan homoseksual sudah ditegaskan di dalam Surat Al-A’raaf ayat 80-81:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka:` Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al A’raaf Ayat 80).

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.(QS. Al A’raaf Ayat 81).

Saya tidak setuju kekerasan, tetapi saya bisa mengerti mengapa ada sekelompok orang yang marah dengan isi buku Manji lalu ingin mengusir Manji bahkan sampai melakukan kekerasan kepadanya. Itu karena Irshad Manji memutarbalikkan penafsiran Al-Quran, menghina Rasul, dan menghina ajaran agama. Orang Islam pasti akan marah jika hal itu dilakukan Manji, karena yang disebarkannya adalah pemikiran yang kebablasan yang dan merusak iman. Bukan berarti berbeda pendapat tidak boleh, orang boleh berbeda pendapat tetapi jangan memutarbalik atau mengacaukan tafsir. Itu pulalah yang dilakukan oleh orang-orang JIL yang menafsirkan ajaran agama berdasarkan hawa nafsunya.

Seorang rekan di sebuah milis menulis:

Kekerasan itu memang memprihatinkan. Ketika Salman Rushdie akan ceramah disuatu tempat di Montreal, juga hampir terjadi kekerasan, bahkan batal, tetapi ada juga yang bisa berjalan ditempat lain.

Disisi lain, banyak dialog antar agama, bahkan dengan pandangan yang sangat ekstrim tapi bisa berjalan dg lancar. Kenapa?
Yang bisa saya tangkap adalah, orang boleh beda pendapat, tetapi jangan memutar balik, mengacaukan tafsir, apalagi meng-asor-kan. Orang akan marah kalau itu yang dilakukan, apalagi jika dilakukan oleh orang yang dianggap punya pengaruh (oleh presenter, bukan oleh audien).

Bahkan tafsir (Al Quran) pun boleh beda. Cuma perbedaannya, pemuka yang menawarkan perbedaan tafsir tanpa mengakibatkan ada rasa permusuhan bagi lawan pendengar, adalah yang disampaikan dengan dalih-dalih kuat, ada dasarnya (misalnya dari berbagai hadist dsb).

Saya tidak mendukung kekerasan, tetapi bisa mengerti kenapa orang bisa marah kalau membaca buku The Trouble with Islam nya Irshad Manji. Karena cara tafsirnya tidak memenuhi kriteria yg saya sampaikan tadi.

Ya itulah Irshad dan Salman, siapa menabur angin, menuai badai.

Maka, kontroversi dan riuh rendah media mainstream yang mengekspos berita reaksi penolakan atas Manji mungkin sangat dinikmati oleh pengusung Manji, yaitu orang-orang JIL. Itu berarti donor dari luar negeri untuk LSM mereka akan semakin deras mengalir sebab pendonor melihat orang-orang JIL telah “berkeringat” melawan kaum fundamentalis yang menolak Manji.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kekerasan dan Irshad Manji

  1. honeylizious berkata:

    Siapa pun yang menabur benci, akan menuai perang.

    Saya sempat bingung kemarin dengan banyaknya twit yang membahas tentang Irshad Manji. Makasih udah nulis tentang ini. Jadi nggak buta informasi.

  2. Mas Kur berkata:

    Di toko buku, bahkan toko buku terkemuka, banyak buku yang menyudutkan agama Nasrani (Injil Barnabas, Jesus Family Tomb, bahkan novel Dan Brown). Apakah saya bisa dimaklumi (baca:diijinkan) kalau saya membakar penerjemah dan toko buku yang memajang itu tanpa mencantumkan tulisan “untuk kalangan sendiri”?

    (tenang, cuma tanya, andaipun boleh pun gak akan saya bakar hehehe).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s