Selagi Masih Muda Sekolahlah Setinggi-tingginya

Kamarin saya ketemu alumni yang hendak melanjutkan S3. Saya katakan kepadanya, mumpung belum direpotkan dengan anak (dia sudah menikah tapi belum punya anak), segeralah mencari sekolah ke luar negeri. Kalau sudah punya keluarga atau punya anak cukup repot sekolah sembari mengurus keluarga. Pikiran harus dibagi-bagi untuk urusan sekolah, urusan anak, dan urusan istri. Kurang konsenlah, pokoknya.

Setiap tahun saya memberikan banyak surat rekomendasi bagi para mahasiswa saya yang melamar beasiswa/program S2/S3 di dalam maupun di luar negeri. Dengan usia yang masih 20 tahunan mereka mempunyai semangat tinggi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang pendidilkan lebih tinggi. Ada yang sudah bekerja dulu baru ambil S2, tapi sebagian besar mengambil S2 ketika baru lulus S1.

Saya bangga dengan para mahasiswa saya yang punya semangat tinggi melanjutkan sekolah itu. Kata saya kepada mereka, selagi masih muda ambil kesempatan sekolah setinggi-tingginya. Masa muda adalah masa menimba ilmu. Selagi belum direpotkan dengan tanggung jawab bila sudah punya keluarga, maka sekolah lagi adalah pilihan yang bagus. Kalau sudah berkeluarga, anda harus membagi waktu dan pikiran anda untuk istri/suami dan anak anda. Apalagi jika keluarga dibawa serta ke luar negeri, kerepotam pasti lebih besar daripada ditinggal di tanah air. Bila anak anda sakit terbayang repotnya, padahal besok anda ada ujian di kampus.

Maka, selagi belum menikah atau punya anak, jangan menunda waktu lebih lama lagi untuk sekolah. Segera apply program beasiswa S2 yang banyak bertebaran. Pilihan S2 ke luar negeri lebih menarik, namun S2 di dalam negeri juga tidak kalah baiknya. Ilmu di manapun sama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, semua bahan ilmu pengetahuan tersedia di Internet, tinggal gugling saja maka apa yang kita butuhkan tersedia. Di mana pun kita sekolah, yang terpenting adalah usaha dan kemauan kita sendiri. Sekolah di luar negeri dengan fasilitas super lengkap tetapi kita sendiri malas-malasan ya nggak ada gunanya. Kuliah S2 atau S3 berarti dituntut bisa belajar dan meneliti secara mandiri. Dosen pembimbing atau profesor di lab hanyalah penyelia, selebihnya diri kita sendirilah yang menentukan keberhasilans ekolah.

Saya sendiri adalah produk dalam negeri; S1, S2, dan S3 semuanya di ITB. Bukannya saya tidak mau ke luar negeri, saya sudah diterima di University of Leeds di Inggris, tetapi waktu itu saya tidak berhasil mendapat beasiswa. Dulu program beasiswa S2 tidak sebanyak sekarang. Setelah beberapa tahun tidak juga mendapat beasiswa ke luar negeri, sementara uang tidak punya, maka saya mulai berpikir realistis saja, yang pasti-pasti saja. Umur saya bertambah terus mendekati kepala tiga, tidak mungkin saya terus menunggu yang tidak pasti. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil program S2 (lalu S3) di ITB saja dengan beasiswa BPPS yang disediakan Dikti bagi dosen PT.

Karena sekolah di kampus sendiri, di tempat saya mengabdi, maka kewajiban mengajar dan membimbing tetap jalan terus. Teorinya sih seharusnya dibebastugaskan mengajar karena saya menjadi mahasiswa tugas belajar, tetapi Jurusan saya tetap memberi beban mengajar dan membimbing. Katanya sih supaya tunjangan fungsional PNS saya tetap jalan terus karena ada beban akademik, kalau tidak mengajar nanti tunjangan fungsional saya dihentikan; Lalu bagaimana nanti anda bisa survival, kata Ketua Jurusan saya kala itu. Ha..ha..ha, saya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kajur, ada benarnya juga sih, apalagi saya baru menikah dan punya anak waktu itu, tentu butuh biaya ekstra. Itu sudah menjadi rahasia umum di ITB atau di PT tempat anda bekerja di mana anda mengambil Pascasarjana di sana, anda tetap harus kuliah sambil bekerja.

Anda bisa membayangkan betapa repotnya S2 dan S3 di kampus sendiri. Pikiran harus dibagi-bagi untuk urusan kuliah S2/S3, urusan mengajar dan membimbing TA, membimbing kemahasiswaan, mengurus anak yang masih kecil-kecil, membagi waktu untuk istri, memikirkan orangtua, dan sebagainya. Semuanya harus multitasking. Walah, kok saya jadi curhat ya…, hi..hi.. Setelah semuanya selesai (S2 dan S3 beres), saya masih tetap tidak percaya kok saya bisa lolos juga menyelesaikan semua kerumitan hidup itu, he..he. Pastilah ini ada campur tangan Tuhan di dalamnya, saya makin menyadari bahwa kalau kita tekun dan ikhlas menjalani, pasti Allah SWT akan memberi ridho-Nya. Jangan lupa pula ada restu orangtua, doa yang mereka panjatkan, doa anak dan istri, dan doa orang-orang sholeh yang baik kepada kita. Duh, saya jadi curhat lagi.

Tapi intinya saya ingin mengatakan bahwa selama anda belum dipusingkan dengan segala kerepotan hidup, selagi masih bebas, jangan buang-buang kesempatan untuk mengambil sekolah lagi setamat S1 atau S2. Kalau sudah berumur dan sudah makin tua maka akan lebih sulit untuk sekolah lagi, sebab daya ingat sudah berkurang, sudah mulai pelupa, dan lamban berpikir. Jika anda masih muda maka berbahagialah, raihlah ilmu setingi-tingginya dan beramal shalehlah sebanyak-banyaknya. Iman itu bertambah dengan ilmu dan amal.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan, Pengalamanku. Tandai permalink.

16 Balasan ke Selagi Masih Muda Sekolahlah Setinggi-tingginya

  1. ridhwan berkata:

    Ilmu nggak mesti di dapat dr bangku sekolah atau kuliah kan pak??
    apalagi jika orientasi sekolah untuk jd PNS.
    lebih-lebih skrg udah ada Prof Google.

  2. budi berkata:

    Makasih banyak Pak Rin, udah berbagi cerita, sangat bermanfaat. Semakin bertambah umur, semakin bisa ikut merasakan aroma “multi tasking” di atas.

  3. ikhwanalim berkata:

    jadi, pak rin, kalau saya mengambil S3 setelah lulus S2, saya menikahnya kapan dan dengan biaya darimana ya? harus sambil bekerja dong yaa.. :d

  4. yanti berkata:

    Buat yang otaknya encer memang perlu kuliah setinggi2nya. Tapi kalo pas-pasan kayak saya gini, kuliah sampe S1 aja udah cukuplah. Selanjutnya tinggal menuntut ilmu agama dan ikut kursus2 untuk menambah ketrampilan untuk menunjang pekerjaan.

  5. rianp berkata:

    Subhanallah, Kereeen, tambah semangat!!
    Izin Reblog pak :D

  6. rianp berkata:

    Reblogged this on Sepanjang Perjalanan and commented:
    Saya Masih Muda dan Berbahaya.Hahahhaah :D Semangat Untuk Lanjut Kuliah….

  7. chuckedan berkata:

    Menuntut ilmu itu hukumnya wajib sampai ke liang lahat, dan itu bisa didapat dari mana saja, justru pendidikan formal akan menggiring seseorang untuk bersikap ujub dan jumawa, wuih jebolan ini, lulusan itu, dan sebagainya, untuk apaaa?????
    Untuk mencari harta tentunya, tidak jauh dari itu….

    Orang yg paling menyesal pada hari kiamat adalah orang yg dikaruniai ilmu oleh Allah tetapi tidak bermanfaat apa-apa.

    Apa gunanya kita mengetahui rute perjalanan dari Surabaya ke Jakarta misalnya, tetapi kita tidak pernah sampai ke Jakarta??? Buang-buang waktu saja, lebih baik digunakan untuk hal lain yang lebih menyenangkan, misalnya tidur atau makan, hehehe..

    Kurikulum di Indonesia harus dirombak total, agar tidak ada pengetahuan yang terbuang percuma, sia-sia, tak bermanfaat, karena pemahamannya cuman separuh-separuh, tidak mendalam apalagi sampai aplikatif.

    Sementara Jepang, Perancis, Amerika Serikat, Jerman, udah bisa bikin kereta super cepat, kita Indonesia masih pakai kereta diesel, yang jalannya klutak-klutok… payah…lalu mana hasilnya pendidikan di Indonesia?

    -Satria Piningit-

  8. chuckedan berkata:

    Einstein bukan apa-apa, dia hanya makhluk Allah.

    Lalu Allah yang Maha Pencipta ada di mana gerangan? kok gak pernah disebut?

    Pantas korupsi jalan terus, karena Allah selalu tidak diperhitungkan, jadi pada saat gak ada orang, ‘gak ada yang melihat’, sikat terusss!!!

    Einstein mengatakan :
    Tidak dibutuhkan agama untuk berbuat sesuatu yang baik dan bermoral.
    Tapi, dibutuhkan agama untuk membuat seseorang berubah menjadi Monster.

    Ini pendapatku:

    Justru orang komunis itulah yang menjadi Monster bagi orang beragama.
    Mereka akan membantai semua orang beragama, tak perduli agama apapun.
    Dan mereka akan membantainya denga senyuman di mulut dan darah dingin.
    Kenapa? Apa mereka salah?
    Tidak.
    Kok bisa?

    Revolusi Budaya di China (1949-1976)

    Hampir mustahil memberikan jumlah tepat mengenai berapa banyak orang yang tewas di tangan kaum komunis China. Diperkirakan sekitar 45-70 juta orang menjadi korban selama masa kepemimpinan Mao Zedong. Penyebab utama genosida adalah karena revolusi kebudayaan pada tahun 1966-1976 yang membuat Zedong melakukan upaya ‘pembersihan’ kaum anti pemerintah. Apapun itu, rezim komunis memang paling mengerikan mengenai upaya genosida.

    Karena orang komunis menghitung: Mereka kaum komunis tidak merasa memiliki kehidupan setelah kematian, sedangkan orang beragama mempunyai kehidupan setelah mati, karena itu mereka (kaum komunis) tidak merasa membantai orang beragama (seperti yang dilakukan oleh Mao Zedong), tetapi hanya bermaksud “mengungsikan orang-orang beragama ke alam kehidupan setelah mati sesuai dengan keyakinan orang-orang beragama, yaitu adanya kehidupan setelah mati”.
    Mereka malah merasa telah berjasa, karena telah mau ‘bersusah payah’ mengantarkan para agamawan ke alam kehidupan setelah mati, sesuai dengan keyakinan mereka.

    Nah, dengan penjelasan ini, aku telah mematahkan teori Einstin, bahwa dibutuhkan agama untuk mengubah seseorang menjadi sebuah Monster.
    Justru Komunis itulah Monster sebenar Monster.

    Bukan agamanya yang tidak sempurna, tetapi pemahaman dan pelaksanaanyalah yang tidak sempurna, setengah-setengah, tidak menyeluruh atau kaffah.

    Sedikit pengetahuan (tidak lengkap) adalah sesuatu yang sangat berbahaya.
    Tiadalah otak manusia itu bekerja, melainkan semuanya atas ijin dan kuasa Allah semata, tidak ada yang hebat, hanya Allah yang berhak untuk dipuji dan dibesarkan nama-Nya.

    -Satria Piningit-

  9. chuckedan berkata:

    Pemikiran ini hebat, itu tidak hebat, ini besar itu kecil, ini kaya itu miskin, menggiring seseorang untuk berperilaku rendah diri atau sebaliknya, sombong gak ketulungan.

    Dan Allah, seperti biasa, tidak diperhitungkan.

    -Satria Piningit-

  10. chuckedan berkata:

    Tapi, berhadapan dengan Islam, komunis tidak bisa seenaknya maen bunuh, karena dalam Islam ada hukum Khisas, kata-kata dibalas dengan kata-kata, nyawa bayar nyawa, perempuan bayar perempuan, dan sebagainya.

    Islam tidak pernah mengajarkan untuk bertindak agresif.
    Kalau ada peperangan, itupun karena kaum kafir yang mendahului, cari gara-gara.

    iSLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘AALAMIIN, bukan perusak.

    Tetapi, karena hukum Khisas ini belum dimasukkan dalam Undang-Undang Hukum di Indonesia, maka banyaklah terjadi kekacauan di Indonesia ini, dan di seluruh dunia.

    Bukan berarti memakai hukum Khisas lalu membuat negara ini menjadi negara Islam. Justru negara Islam seperti Arab Saudi telah menjalankan hukum Islam ini sedikit melenceng.
    Di mana melencengnya?
    Banyak, diantaranya hukum rajam, sedangkan dalam Qur’an sendiri disebutkan tidak ada paksaan dalam agama, tetapi mereka telah menjalankan hukum rajam tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada yang terhukum, mereka telah menjalankan hukum Allah tanpa melibatkan Allah dalam pelaksanaan hukuman-Nya, ini konyol sekali, seperti orang mabuk atau ngelindur.

    Allah tidak butuh bantuan manusia untuk menegakkan agama-Nya, karenanya tidak ada paksaan dalam agama. (Al-Baqarah 256).

    Islam tidaklah sesempit yang diduga banyak orang. Islam adalah agama yang sempurna, karena dalam Qur’an disebutkan tidak ada paksaan dalam agama, ini bentuk kemandirian, dan memang harus demikian, kalau Tuhan membutuhkan bantuan manusia, wah bukan Tuhan lagi namanya kalao begitu, karena Tuhan menjadi lemah, tak berdaya, butuh bantuan manusia, mana ada Tuhan lemah?? hahaha….

    Hukum yang dipakai di Indonesia kebanyakannya adalah peninggalan Belanda, hukum buatan manusia, karenanya tidak heran kalao hasilnya juga kacau balau gak karuan.

    Sedangkan Qur’an adalah berasal dari Allah, bukan buatan Muhammad saw, bukan buatan manusia.

    Jadi, sah-sah saja kalao kita mengambil hukum Khisas kalau memang itu yang terbaik bagi kita. Tidak ada lagi terorisme, pembunuhan semena-mena, anarkisme, karena orang akan mikir-mikir ribuan kali dengan adanya hukum khisas.

    Dan Allah Maha Perkasa, Maha Adil, lagi Maha Bijaksana, dan sebaik-baik Hakim.

    -Satria Piningit-

  11. chuckedan berkata:

    Jadi, ilmu itu bisa didapat darimana saja, termasuk baca-baca Blog, hehehehe…

    Contoh lagi soal pelacuran:

    Pelacur itu tidak pernah ada yang menodongkan pistol ke kepala para lelaki untuk membeli tubuhnya, lhoh kok ada Ormas Islam yang merusak tempat pelacuran?

    Ironis sekali, bukannya membesarkan nama Islam, justru mengkerdilkan Islam itu sendiri, gak tau malu! Idiiiiiihhhh…. malu deh, kelihatan sekali kemunafikannya.

    Kecuali kalau pelacur itu bawa-bawa senjata tajam, bawa-bawa pistol, keliling kesana-kemari untuk memaksa para lelaki agar membeli tubuhnya, menodongkan senjata, barulah mereka wajib untuk diperangi.

    Lha wong mereka itu duduk manis, kok ya dianiaya? wah wah wah….

    -Satria Piningit-

  12. chuckedan berkata:

    Ayo, sampai kapan pelanggaran HAM ini dibiarkan berlarut-larut?

    -Satria Piningit-

  13. Eri berkata:

    Wah, pak, cerita ‘curhat’ anda menyemangati saya lagi. Menyemangati untuk memilih mengambil ‘kerumitan’ hidup. Mau s3 atau fokus ngurus anak. Kalau fokus ngurus anak brarti pisah suami yg lg s3. Kalau s3 brarti (kalau diterima tentunya) urus sekolah, suami dan anak dan biaya (bpps kan kecil bgt utk bidang eksak). Dua2nya sama2 rumit. Tinggal kemauan saya mengandalkan kuasa Tuhan. Mempercayakan 100 persen atas semuanya, termasuk urusan biaya. Thanks ya pak. Cerita yang super.

  14. yudha nur angga wijanarno berkata:

    Dear Bapak Dosen,
    Mohon saya diberi surat rekomendasi untuk kuliah lagi pak, saya S1 ITN malang dan plan akan ambil S2 di ITS, mohon bapak berkenan memberikan surat rekomendasi tersebut pak, terima kasih banyak Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s