Korupsi vs Pornografi

Setiap kali ada masalah yang berkaitan dengan asusila di negeri ini –mulai dari video porno, film mesum, artis pengumbar syahwat, goyangan erotis penyanyi dangdut, kemunculan artis porno dari luar ngeri, dsb– maka dipastikan ada sekelompok orang yang melakukan demo penolakan atau protes. Tidak jarang aksi protes tersebut berujung kegaduhan. Masih ingat dalam benak kita kasus video mesum Ariel yang menyita perhatian dan menimbulkan aksi demo kelompok ormas dan elemen rakyat lainnya. Juga masih belum lepas dari ingatan demo penolakan terhadap Miyabi dan artis asusila lainnya, atau aksi demo FPI menentang film murahan yang mengumbar syahwat. Bahkan kasus rok mini di DPR pun mencuat menjadi kasus nasional. Yang terbaru sekarang ini adalah aksi demo penolakan kedatangan Lady Gaga.

Dalam sekejap aksi-aksi demo itu mendapat banyak komentar di dunia maya, ada yang pro dan ada yang kontra. Media pun ikut meramaikan suasana dengan memuat opini serta komentar yang mengkritik demo tersebut. Sebagai negara demoktratis pro kontra itu tentu sah-sah saja. Tetapi, yang menarik adalah komentar yang membandingkan pornografi dengan korupsi. Bunyi komentar tersebut kira-kira nadanya begini:” mengapa yang diurusin masalah pornografi, urus tuh korupsi”, atau “mengapa ormas-ormas itu tidak mendemo pejabat yang korupsi, mengapa hanya mengurusi goyangan Inul” atau “korupsi lebih penting didemo daripada rok mini”, “ormas sok suci, giliran pejabat yang korupsi diam saja, tapi giliran goyang pinggul langsung bereaksi”.

Pertanyaannya adalah apakah pornografi itu tidak lebih penting diurusi daripada korupsi? Apakah korupsi lebih prioritas dipikirkan bangsa ini ketimbang masalah asusila? Baik korupsi maupun pornografi sama-sama buruknya, sama-sama berbahaya. Korupsi memiskinkan negara, sedangkan pornografi merusak akhlak generasi muda harapan bangsa.

Saya berpendapat masalah pornografi jauh lebih berat daripada korupsi. Korupsi tidak memberi efek langsung kepada orang lain, yang dirugikan adalah keuangan negara. Memang jika negara miskin karena korupsi ada pengaruhnya terhadap kesejahteraan rakyat, tetapi itu persoalan lain lagi. Namun kalau masalah asusila seperti pornografi dan pornoaksi dampaknya membekas pada banyak orang, terutama anak-anak dan remaja. Ketika video Ariel dulu merebak, penyebarannya sangat masif. Yang menonton mulai dari anak SD hingga aki-aki. Otak anak-anak dan remaja belum mampu memfilter adegan porno itu. Adegan seperti itu bisa membekas lama dan menimbulkan keingintahuan lebih lanjut. Mulai mencoba-coba dan bereksperimen. Ketika nafsu tidak bisa dikontrol, pelampiasannya mungkin lebih buruk yaitu perkosaan. Sudah banyak kasus perkosaan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja disebabkan karena sering menonton video porno.

Yang saya khawatirkan dari pornografi pada anak dan remaja adalah budaya hidup permisif. Segala apa boleh dilakukan tanpa takut pada norma-norma lagi. Budaya permisif ini arahnya adalah pergaulan bebas yang tanpa aturan, termasuk di dalamnya seks bebas, kumpul kebo, minum minuman keras, homoseksualitas, dan narkotika.

Bagi orang yang meremehkan pornografi dibandingkan korupsi, coba tanya bagaimana perasaannya bila pornografi itu terjadi pada anaknya sendiri? Bagaimana reaksinya bila anaknya yang masih kecil sudah mengakses situs porno atau menonton video mesum? Apakah dia bisa terima jika anaknya yang remaja sudah melakukan seks pra nikah dengan pacarnya atau teman wanitanya? Saya yakin dia akan shock, dan akan bertambah shock ketika tahu pacar anaknya hamil dan meminta pertanggungjawaban. Apakah hal itu yang dia inginkan? Saya yakin orangtua yang waras tidak mau anaknya terjerumus dalam kemaksiatan, sekecil apapun perhatian orangtua kepada anaknya tetaplah mereka menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik dan berakhlah mulia.

Karena itu, janganlah bangsa ini mengabaikan moralitas. Korupsi dan pronografi adalah musuh bersama yang harus kita berantas. Didiklah anak-anak kita menjadi orang yang baik dan sholeh.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

7 Balasan ke Korupsi vs Pornografi

  1. Iwan BK berkata:

    Mungkin, bagi yang lapar, efek korupsi *langsung* terasa bagi mereka.

  2. Mas Kur berkata:

    Maaf, Bapak pernah melihat praktek korupsi secara jelas? Korupsi banyak macamnya.
    Adik saya yang PNS cerita, bagaimana ada pimpinan yang korupsi dengan memotong hak anak buahnya. Jelas ini efeknya terasa.
    Mengapa subsidi BBM harus dikurangi? Karena pemerintah gagal mengatasi korupsi.

    Saya setuju, pornografi tidak boleh dianggap sepele. Tapi harusnya konsisten donk. Jangan cuma berani sama pornografi (udah gitu yang dilawan cuma WANITA), tapi terkesan diam saja dengan praktek korupsi dan pelanggaran lalu lintas (contohnya).

    Salam damai!

  3. tanpanama berkata:

    enak yg ud jd dosen, byk wkt luang bwt obyekan, aplg jd dosen pns di univ besar spt itb. wah, ud terjamin hidupny. gk ush kerja cpk2 sana-sini, jd smpt ngurusin anak2ny biar gk nntn porno,,

    coba jd org kecil di kmpng ini, ud gaji kecil, turunny berbulan2 gr2 dikorup sama atasan2ny,, masih harus kerja sampingan utk biayain anak sekolah,, biar gk nongkrong di warnet ntn porno…

    salam dr rakyat kecil

  4. Habib berkata:

    @tanpanama: komentarnya diarahkan ke siapa? Sepertinya salah sasaran… Kalau memang tidak tahu sebaiknya tidak usah berkomentar saja.

  5. chuckedan berkata:

    Jadi, bagi para laki-laki yang sedang melakukan pendekatan, tolong hati-hati, jangan obral janji.

    -Satria Piningit-

  6. chuckedan berkata:

    hehehehehe… kenapa tulisanku disensor boss? hehehehehe….

    -Satria Piningit-

  7. chuckedan berkata:

    Bener juga ramalan Ugo Wangsit Siliwangi, heheheheh…

    “mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa tanpa memperdulikan larangan”.

    xaxaxxaxaxa… lha wong memang tidak sesuai dengan hati nurani.

    -Satria Piningit-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s