Masalah Intoleransi Beragama di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu sebuah LSM di tanah Air melaporkan kepada sidang PBB di Jenewa tentang intoleransi beragama di Indonesia. LSM tersebut membawa kasus penyerangan Ahmadiyah, kasus GKI Yasmin, kasus penyerangan Syiah, dan lain-lain. Kesimpulan yang dibawa oleh LSM tersebut adalah Indonesia negara yang tidak toleran dalam kehidupan beragama warganegaranya.

Saya tidak habis pikir kenapa ukuran intoleransi tersebut disederhanakan dengan mengambil kasus-kasus semacam itu. Kasus Ahmadiyah, GKI Yasmin, dan lain-lain tidak mewakili kehidupan beragama di Indonesia. Masalah GKI Yasmin misalnya, terkait masalah perizinan, bukan pada kebebasan beragama atau menjalankan ibadah agama. Hingga saat ini titik temu masalah itu belum dicapai kesepakatan. Semoga kasus tersebut berakhir dengan win-win solution.

Secara umum saya menilai kehidupan toleransi beragama di tanah air baik-baik saja. Semua umat beragama bebas beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Warga Kristiani tidak dilarang beribadah di gereja, orang Hindu aman-aman saja melakukan Nyepi, kaum muslimin merasakan aura puasa ketika Ramadhan datang, dan lain-lain. Kalau anda pergi ke Aceh atau Sumatera Barat, gereja-gereja di sana berdiri dengan aman dan pada hari minggu warga kristiani melakukan ibadah di gereja tanpa perlu khawatir diganggu. Kalau anda pergi ke Manado (saya tiap tahun selalu bolak-balik ke sana), suara adzan bergema setiap waktu shalat tiba dan orang Islam shalat di masjid tanpa gangguan.

Kalau ada masalah dalam kehidupan umat beragama saya kira wajar saja, yang namanya gesekan antar umat beragama pasti tidak bisa dielakkan sebagai konsekuensi hidup berdampingan. Bangsa Indonesia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan warga yang berbeda agama, bahkan dalam satu keluarga bisa berbeda keyakinan.

Indonesia menurut saya sudah sangat toleran dalam kehidupan beragama, bahkan seharusnya menjadi model toleransi yang bagus bagi negara lain. Coba cari di negara mana yang hari besar semua agama dijadikan hari libur nasional selain Indonesia. Meskipun rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam, namun hari Jumat bukan hari libur, justru hari minggu yang merupakan hari libur sehingga saudara kita yang beragama Nasrani bisa beribadah ke gereja dengan tenang (ini sebaliknya di Arab Saudi dimana hari Jumat adalah hari libur dan hari minggu tetap hari kerja). Di Amerika sendiri sebagai negara kampiun demokrasi Hari Raya Idul Fitri bukan hari libur nasional, juga di Inggris, Jerman, dan Perancis yang banyak jumlah umat Islamnya. Di Swiss ada larangan pembangunan menara masjid, di Perancis ada larangan memakai burqa (tapi burqa atau cadar bukan ajaran Islam melainkan budaya bangsa Arab).

Para komprador LSM menyederhanakan masalah intoleransi beragama dengan masalah pendirian rumah ibadah, khususnya gereja. Saya menilai persoalan mendirikan rumah ibadah bukan masalah intoleransi beragama atau menjalankan ibadah agama, tetapi masalah perizinan warga sekitar serta Pemerintah Daerah. Kita harus membedakan kebebasan beragama dengan kebebasan mendirikan rumah ibadah. Mendirikan rumah ibadah tidak bisa bebas begitu saja, tetap ada aturan yang harus ditaati. Memang masalah mendirikan bangunan rumah ibadah ini selalu terjadi di mana-mana, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain. Di Amerika dan di Eropa yang dikenal sebagai negeri yang menjunjung demokrasi pun mendirikan masjid sangat sulit perizinannya, bahkan warganya tetap merasa tidak nyaman dengan pembangunan masjid di lingkungannya.

Apa yang terjadi pada kasus GKI Yasmin juga menimpa pembangunan masjid di kawasan yang minoritas Islam, misalnya di Bali, Kupang (NTT), Manokwari (Papua), dan lain-lain. Pembangunan masjid tidak mudah dan ditentang warga yang mayoritas beragama lain, bahkan ada yang dibakar seperti di Sumatera Utara. Hanya saja publik tidak mengetahui kasus-kasus ini karena media tidak pernah mempublikasikannya dan para LSM seperti SETARA, Elsam, YLBHI pun pura-pura tidak tahu dan tidak memasukkan kasus ini dalam statistik intoleransi yang selalu mereka eskpos. Dari sini memang terlihat ketidakfairann media dan para LSM tersebut, mungkin tergantung medianya milik siapa dan untuk kepentingan apa. Kalau ingin tahu datanya, tanyalah kepada KH Hasyim Muzadi sebagai ketua ICIS atau kepada Ketau PP Muhamadiyah, mereka punya datanya namun tidak pernah dipublikasikan karena tidak ingin membuat keruh suasana.

Saya kira masalah pendirian rumah ibadah ini memang harus diselesaikan sebagai PR bersama dengan tetap berpegang pada aturan. Komunitas beragama seharusnya tidak memaksakan kehendak membangun rumah ibadah apabila warga sekitar keberatan. Hal yang sama juga telah dimaklumi oleh kaum muslimin di daerah yang Islamnya minoritas dengan tidak “bernafsu” mendirikan masjid setelah ditolak oleh warga sekitar.

Sekarang sudah tidak tepat lagi menggunakan istilah mayoritas dan minoritas. Suatu agama mayoritas di suatu daerah tetapi minoritas di daerah lain. Ketika menjadi mayoritas maka hukum demokrasi berlaku yaitu mengikuti suara terbanyak. Di Papua atau Sulawesi Utara misalnya para pejabat Pemrintahan Daerah didominasi oleh orang yang beragama Nasrani, sebaliknya di Sumatera Barat pejabat Pemerintah Daerah mayoritas muslim. Yang penting asas proporsionalitas tetap terwakili dalam semua aspek. Keseimbangan itu perlu dijaga untuk menghasilkan harmoni kehidupan yang damai.

Membicarakan SARA (Suku, Ras, Agama, Antar golongan) tidak perlu ditakutkan lagi sepanjang tidak untuk menghasut atau saling menyerang. Yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman untuk menerima perbedaan itu tanpa perlu mengorbankan prinsip masing-masing. Istilah pluralisme kurang tepat jika dimaksudkan sebagai sikap menganggap sama terhadap semua perbedaan, istilah yang tepat adalah pluralitas. Pluralitas manusia itu suatu keniscayaan, sebab Tuhan menjadikan manusia ini bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan untuk saling bermusuhan tetapi untuk saling mengenal.

Tulisan ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

10 Balasan ke Masalah Intoleransi Beragama di Indonesia

  1. hamka berkata:

    sepakat pak, indonesia adalah negara paling toleran sekaligus masyarakatnya yg religius. Di indonesia, anak sd saja tahu bedanya islam, kristen, hindu, buddha (kitab, tempat ibadah, hari besar dll). Kalau di negara lain, mereka nggak peduli.

    • b1b2 berkata:

      indonesia sdh cukup toleran titik jgn banyak crita,walaupun mereka ngadu keluar sy minta bpk2 yg di pemerintahan jgn mau di atur, urusan dlm negeri cukup indonesia yg tuntaskan jgn takut pak,org ini mmg suka memaksakan kehendak,cari deking diluar supaya misinya tercapai,

  2. ree berkata:

    hmmm…. tapi yang saya lihat, anak- anak kecil terbiasa memangil anak2 yang berbeda agama dengannya dengan sebutan ‘kafir’, atau terjadi olok2an ttg agama2 tertentu; kemudian dibanyak situs, ketika ada bahasan ttg topik tertentu, sering membelot ke isu2 yang mendiskreditkan minoritas. seperti ‘Tuhanmu tidak berbaju dll’ yang kemudian berlanjut sampai bahasan benar2 melenceng dari topik awal. kemudian, sya pernah lewat dmasjid tertentu yang ulamanya sedang memberikan wejangan yang mana menyinggung ttg tata cara beribadah kaum minoritas.
    jd, saya kira sebutan Indonesia ‘kurang toleransi terhadap agama minoritas’ benar jg. tetapi hanya ‘kurang’ , karena dapat pula kita lihat banyak pribadi2 berhati mulia yang mau menghormati dan menghargai kaum minoritas. terimakasih

  3. i.effendi berkata:

    saya sangat setuju dengan ree,memang masih terjadi hingga kini intoleransi di negeri ini dikarenakan kurangnya kesadaran akal budi apalagi kesadaran ruhani pemeluk agama mayoritas yang masih mengutamakan kesadaran jasadi(wadah) ditambah pula ketidaktegasan pemerintah…maka terjadilah intoleransi.

  4. Firmansyah berkata:

    bagaimana mungkin bisa dikatakan masih toleran ketika penolakan pembangunan rumah ibadah berlangsung hampir di seluruh propinsi yang ada di Indonesia… dan bagi saya penulis tidak mempunyai landasan yang jelas dalam mendefinisikan toleransi dan intoleransi. kiranya penulis perlu memperjelas dikotomi itu. baru kemudian mengasumsikannya dengan berlandaskan data real. terima kasih..

  5. petraindo berkata:

    kalau mau disebut toleransi,tapi program kristenisasi sangat menganggu,.orang sudah punya agama masih saja didatangi dari rumah ke rumah.diberi selebaran dengan judul menuju keluarga bahagia,.maksudnya apa ya?
    kami sudah beragama,benar-benar nekat.
    Keluarga kami yang terkena bencana,selain makanan diberi juga ceramah agama tentang yesus,mula-mula memang tidak mengerti,tapi dgn ketekkunan untuk mengejar target tetap terus dilakukan..ternyata kristen/katolik memakai sistem gerilya…

  6. kugie Sembiring berkata:

    Saya kekahiran sumatera, nama keluarga Sembiring. Silakan tebak agama saya apa. Waktu saya kecil (SD) teman-teman saya dengan santai memanggil saya kafir. Mungkin ajaran dari orang tua mereka pasti. Selidik punya selidik ternyata karena kulit saya terlalu putih untuk seorang keluarga Sembiring, jadi mereka anggap saya keturunan Cina. Jadi tenan-teman kecil saya berpikir Cina itu Kafir. Sekarang, tiga puluh tahun berlalu dan saya masih bisa mendengar anak-anak kecil mengejek temannya dengn istilah kafir. Cuma kali ini mereka ga cukup belajar dari orang tua. Fpi, hti, dan konco-konconya turut memberikan pelajaran ini lewat kebiasaan mereka menghujat orang lain. Saya memutuskan tidak memeluk agama apapun, jadi saya tidak peduli tempat ibadah apa yang bayak di bangun di indonesia, so far menurut saya, cuma di Bali saya merasa bebas tanpa intimidasi agama. Dan di Bali saya tidak takut dipanggil kafir cuma gara-gara saya berkulit putih. Indonesia toleran?Kalau dibandingkan banglades, pakistan, mesir, arab, iran, betul. Tapi coba bandingkan dengan Korea, Jepang, Kanada, Cina, Rusia dll.

  7. semar berkata:

    Kesabaran atau ketakutan minoritas yg tertindas dinegara kita yg menjadikan kasus2 intoleransi tidak meledak menjadi perang saudara seperti di-timur tengah ..
    Pembiaran oleh pemerintah selama ini membuat makin banyaknya populasi kaum fanatik , perlu pemimpin baru yg nasionalis sejati seperti Soekarno _ Hatta untuk membentuk kembali karakter bangsa yg plural ini.

  8. nadiafslayer berkata:

    menurut saya tulisan bapak mengenai intoleransi di indonesia sudah cukup bagus, mengenai toleransi agama di indo memang cukup tinggi, paling tidak untiluk generasi mudanya.mengenai komentar2 diatas, saya adalah seorang warga muslim yang dibesarkan ditengah masyarakat beragama homogen yaitu islam, selama 12 tahun saya hidup di pedesaan kecil yang mayoritas islam, di desa tempatsaya tinggal ada beberapa anak non islam dan tidak sekalipun ada anak yang mengejek mereka, saya tau karena saya kenal dekat dengan salah satu anaknya, kami malah berteman baik. setelah lulus sd say melanjutkan smp di daerah kota , disini rumah tempat tinggal saya dekat dgn gereja dan kuil (dekat pecinan) teman main saya pun banyk anak yang beragama lain dan jujur 3 tahun itu tidak ada masalah apa2 (mengenai rasisme) bahkan saat perayaan imlek banyak anak2 islam yang ikut sekedar menghias kereta pawai. ketika sma pun saya pindah daerah lagi dan keadaan yang sama terjadi, di sma kami ,non-islam pun berbaur dengan mudah. sampai detik ini 18 tahun hidup saya belum pernah mendengar hinaan terhadap teman2saya. ungkapan di belakang muka pasti ada, seperti kita memanggil chinese, tapi itu tidak dianggap hinaan hanya mempermudah deskripsi dan dianggap sama seperti mengatakn wajah bule, korea, njawa, maluku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s