Mencari “Passion” Setelah D.O

Minggu lalu seorang mahasiswaku dari angkatan tertentu datang untuk pamitan. Dia harus mengundurkan diri dari ITB (istilah halus untuk “D.O” di ITB) karena telah melewati batas maksimal waktu studi (6 tahun). Ada perasaan sedih juga melepasnya, padahal saya bukan dosen walinya lho, tetapi saya mencoba memahami perasaan orang yang terpukul. Sejauh yang saya tahu dia orangnya cukup baik dan sopan, tidak nakal atau berbuat macam-macam. Hanya saja selama kuliah dia kurang memiliki motivasi dan merasa kurang minat kuliah di Informatika, akibatnya jarang masuk dan tidak mengerjakan kuliah atau ujian.

Dia merasa passion-nya bukan di Informatika. Dia juga tidak bisa menjawab minatnya tentang apa. Bingung. Menurut pendapat saya “passion” itu bisa diperoleh kalau kita mempunyai kemauan. Kunci keberhasilan belajar di mana pun adalah adanya kemauan, kalau tidak mempunyai kemauan (willing), jangan harap bisa menimba atau menguasai ilmu apapun.

Selain kemauan, faktor teman dan lingkungan juga berpengaruh. Teman yang sejalur dengan ilmu yang kita tekuni ikut andil menumbuhkan motivasi dan minat belajar. Banyak mahasiswa saya yang merasa kurang dalam ilmu Informatika, tetapi karena melihat teman-temannya bisa maka dia pun berpikir kalau orang lain bisa kenapa saya tidak? Oleh karena itu dia terpacu untuk bisa sejajar kemampuan dengan teman-temannya. Itulah pentingnya kita memilih teman dalam belajar dan bergaul.

Terlepas dari alasan di atas, saya percaya D.O bukanlah end of the world, bukanlah akhir kehidupan. Sudah banyak cerita dan kisah nyata orang-orang yang tidak tamat kuliah atau tidak bergelar sarjana sekalipun dapat lebih berhasil daripada orang yang bertitel. Ada mahasiswa saya yang D.O tetapi punya software house sendiri. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi juga pengalaman dan keahlian.

Cerita mahasiswa-mahasiswa yang pernah D.O dan melanjutkan kuliah di tempat lain juga banyak ragamnya. Malah mereka lebih berhasil di tempat barunya itu. Saya rasa dia menemukan “passion” nya di tempat yang baru. Mungkin dia tidak cocok kuliah di ITB, kalau dipaksakan di ITB mungkin tidak baik bagi hidupnya. Dia mungkin lebih cocok kuliah di tempat lain atau berkarya di tempat lain. Di ITB dia merasa buntu, tetapi di tempat lain dia merasa “hidup” dan menemukan harapannya. Itulah yang saya sebut dia menemukan “passion” di tempat yang baru.

Bumi Tuhan ini kan luas, dan keberhasilan itu bisa dicapai di mana saja, tidak mesti di kampus Ganesha ini saja. Selama kita masih punya harapan dan cita-cita dalam hidup, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Mencari “Passion” Setelah D.O

  1. mulyanto berkata:

    Nyari passion ngga mesti keluar/pindah dari ITB. Kalau happy gaul sama anak unpad, yah gaullah dgn mereka. Kalau happy gaul sama anak unpar, yah gaullah dgn mereka. Tetapi tetap kuliah di ITB. Itu pengalaman saya🙂 .

  2. Rully berkata:

    benar pak, kita harus menemukan passion kita, salam kenal pak saya mahasiswa elektro angkatan 2005, skrg jg bermimpi mengejar passion di karir

    • nadia323082 berkata:

      heem passion tuh penting bngt:) semangat jadi mahasiswa,, terkadang kliah d tempat yang terlalu bnyak orang pintar nya acap kali bikin ciut dn hilang passion,, btuh banyak motivasi lagi untk mnghlangkan rasa bimbang dn takut hingga akhirnya bsa mngembangkan diri di lingkungan.. salam kenal juga pak, sy mahasiswa kebidanan di semarang. sy penggemar baru😀 alhamdulillah posting2nya menginspirasi sy bngt:)
      terimakasih

  3. enos18 berkata:

    dan pada akhirnya, seseorang itu harus menjalani sisa hidupnya dan memulai hidupnya dengan PASSION nya pak,
    kalau tidak, pada akhirnya si tokoh utama harus memilih untuk menjalani sesuatu itu secara ikhlas namun terseret, atau tidak menjalaninya sama sekali namun tidak memiliki second option,

    dan hal itu yang sedang saya rasakan.
    its not easy to run your life without your passion,

    malah sekarang saya sedang mengejar passion itu dengan kata “terlambat” karena terhambat

  4. mr x berkata:

    inspiratif……..kelihatannya masalahnya sama dengan saya. hanya saja saya masih kuliah di sem 5

  5. ayu berkata:

    Nyari passion emang gampang-gampang susah. Kenali diri dan berdamai dengan diri sendiri bisa menjadi gerbang mengembangan profesi sesuai passion terbesar kita.

  6. akbar berkata:

    kalo sudah semester 4 terus kita di do, apakah bisa melanjutkan perkuliahan ditempat lain dari semester 4 juga? tolong infonya gan..

  7. Dipta berkata:

    Menurut saya mahasiswa mengundurkan diri tidak mesti karena tidak mampu untuk lulus di universitas tersebut. Saya selalu mengulang semua mata kuliah2 dengan nilai C selama di ITB karena saya ingin lulus dengan IPK tinggi agar dapat diterima atau bahkan mendapat beasiswa di program pascasarjana sekolah terbaik. Akibatnya sampai beberapa semester saya kuliah jumlah SKS yang saya kumpulkan masih sedikit. Apalagi Bapak saya dipenjara dan tabungan keluarga menipis sehingga saya semakin sulit mengejar target IPK dan waktu lulus saya. Akhirnya setelah Bapak saya keluar dari penjara saya meminta untuk melanjutkan kuliah saya di kota asal saya saja (UII) yang jauh lebih murah, yang penting sudah terakreditasi A juga. Alhasil IPK S1 saya bisa naik drastis dari semula 2,4 saat di ITB menjadi 3,4 setelah melanjutkan kuliah selama 2 tahun di universitas yang baru.

    Jika saya hanya mengejar lulus dari ITB tanpa mengejar IPK mungkin saya hampir mustahil mencari beasiswa S2 karena banyak program beasiswa mewajibkan calonnya memiliki IPK S1 di atas 3,25 tak peduli lulusan universitas mana dia.

    • Dipta berkata:

      Sekarang saya sudah lulus S2 Informatika dengan IPK 3,75 dan memiliki beberapa sertifikasi IT internasional. Rencana akan mencari beasiswa S3 atau S2 kedua dan mengumpulkan lebih banyak sertifikasi IT internasional. Jadi bagi yang merasa gagal saat berkuliah di Informatika ITB masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk menutupi kegagalan tersebut.

      Ada banyak alasan kenapa seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri. Bukan hanya karena tidak mampu atau malas saja, nasib juga sangat berperan penting bagi kesuksesan kuliah di ITB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s