Hampir Saja Tertipu

Kemarin siang waktu tengah hari maksuklah sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal ke ponsel saya. “Siapa ini?”, tanya saya. Di seberang seseorang menjawab, “Masak lupa?”. Tapi saya kenal suaranya, itu adalah suara Jack, teman baik saya dulu di ITB (tapi beda jurusan). Tahun lalu dia pernah menelpon juga dan ngobrol cukup lama, maklum kami sudah lama tidak ketemu.

“Oh, Jack ya?”, kata saya.

“Iya”, jawab orang di seberang sana.

Lalu kami ngobrol sebentar, ternyata dia lagi ada di Bandung. (Jack bukan nama sebenarnya, nama samaran saja dalam tulisan saya ini)

(kesalahan saya adalah, kenapa saya tidak meminta dia menyebutkan namanya terlebih dahulu, kenapa saya pakai nebak segala)

“Ini nomor saya yang baru, yang lama hapus saja”, katanya. Lalu setelah itu komunikasi berakhir, karena saya ada seminar Tugas Akhir mahasiswa bimbingan saya sebentar lagi.

Setengah jam ketika seminar TA berlangsung, orang yang bernama Jack menelpon lagi. Berhubung saya sedang seminar maka saya katakan agar menghubungi saya satu jam lagi. Tetapi, dia agak sedikit “memaksa” untuk berbicara, akhirnya saya menelpon lamat-lamat supaya tidak mengganggu seminar.

“Begini, bisa minta tolong nggak? Saya sedang dapat masalah nih, sekarang lagi di kantor polisi. Tadi saya menabrak orang, orangnya luka-luka. Dia minta “damai” saja, nggak akan menuntut. Kalau boleh saya pinjam uang, besok saya ganti”, kata Jack pula.

“Berapa?”, tanya saya.

“Tiga ada nggak? Tiga juta”, jawabanya.

Wah, tiga juta itu kan lumayan besar. Tetapi, saya mulai merasa nggak enak, kenapa dia pakai minjam-minjam segala. Masa sih dia tidak punya uang sebanyak itu, dia kan wiraswasta. Kalau pun tidak punya saat ini, tentu dia bisa minta istrinya mentransfer uang saat itu juga (saya kenal istrinya yang juga bekerja). Tapi ya sudahlah, saya buang pikiran negatif itu, sebagai teman saya berpikir nggak enak juga kalau nggak membantu teman yang dapat kesulitan

Namun, saya mencoba berkelit, karena tetap merasa ada yang kurang beres. Sesama teman pasti seganlah meminjam uang.

“Oh, saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang”, jawab saya.

“Berapa adanya”, tanya dia.

Saya periksa dompet saya. “Ada empat ratus”, lanjut saya.

“Satu juta ada nggak?”, tanya dia.

(dari tiga juta menjadi satu juta, kok cepat begitu turunnya, saya masih bertanya-tanya)

“Nanti ya, saya seminar dulu. Tapi kamu ambil saja ke kampus, saya tunggu di sini”, jawab saya mengulur waktu.

“Ditransfer saja bisa nggak? Saya tidak bisa keluar nih, sedang di Poltabes Bandung”, tanya dia lagi. Tapi dia belum meyebutkan nomor rekeningnya.

“Nanti ya Jack, akan saya hubungi lagi”, jawab saya.

Selama seminar TA berlangsung pikiran saya tidak konsen karena memikirkan telepon yang tadi. Tapi, saya yakin itu memang Jack, karena suaranya saya hafal. Nalar saya mulai bekerja, saya sering mendengar kasus-kasus penipuan. Jangan-jangan….

Ah, tetapi saya tetap saja ragu-ragu, suaranya persis seperti Jack. Tetapi, kenapa dia meminjam uang kepada saya ya?

Kemudian saya SMS dia, saya tanyakan apa masalahnya sebenarnya. Eh, dia menelpon kembali.

“Udah beres masalahnya. Tadi polisi itu yang memberi orang itu uang”, katanya.

“Jadi, uang tidak usah ditransfer?”, tanya saya.

Gini aja, polisi itu minta diganti dengan pulsa saja. Kalau uang, dia takut dilihat wartawan, disini banyak wartawan”, jawab dia.

Mendengar jawabannya itu saya langsung curiga, dari uang menjadi pulsa. Pulsa yang diminta adalah pulsa fisik yang kartunya digesek supaya nomor serinya kelihatan.

“Ntar ya”, jawab saya. Telepon saya putus saat itu juga.

Selesai seminar TA, saya cari-cari nomor Jack yang lama, tetapi tidak ada. Lalu saya tulis saja pesan ke akun fesbuknya sekedar menanyakan apakah benar dia menelpon saya tadi siang.

Sore hari pesan saya berbalas. Kata Jack (yanga sli) dia tidak menelpon saya tadi siang tuh. Ada apa, katanya? Lalu Jack memberikan nomornya.

Saya langsung hubungi nomor itu dan berbicara dengannya. Saya ceritakan kronologisnya dan seterusnya, saya katakan suaranya mirip dengan suara Jack. “Oh, tipu itu, Da!”, kata Jack menegaskan (dia memanggil saya “uda”). Akhirnya saya yakin memang Jack yang asli tidak menghubungi saya tadi siang.

Lalu, siapa yang menghubungi saya tadi siang? Siapapun dia, Jack palsu atau Jack asli, yang jelas saya hampir saja tertipu, hampir saja saya mentransfer uang tiga juta, minimal satu jutalah. Saya memang yakin ini penipuan, karena banyak yang janggal. Mungkin sudah banyak kasus yang terjadi seperti yang saya alami. Oleh karena itu berhati-hatilah, yang penting logika dan nalar harus tetap jalan supaya tidak masuk lubang perangkap orang yang menipu.

Tulisan ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Hampir Saja Tertipu

  1. Tomy Handaka berkata:

    Wah, untung tidak jadi tertipu. Btw, info yang sangat bermanfaat, Pak Rin…

  2. rezqialfian berkata:

    Saya suka caranya. :)

  3. Ashif09 berkata:

    wah sama tuh, saya juga mengalami dengan modus tertangkap polisi dan diganti dengan pulsa. saya kena 100 rb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s