Sepeda “Barokah”

Suatu sore anak saya meraung-raung karena sepeda kesayangannya hilang. Ini sepeda yang selalu dipakainya ke sekolah dan bermain. Hilangnya ketika waktu Maghrib, ketika kami semua bersiap untuk shalat Maghrib. Dia yakin sepeda itu ditaruh di halaman dekat pintu dapur. Memang sepeda itu jarang dikunci, baru kalau sudah malam dimasukkan ke dalam rumah.

Saya tidak tahu sepeda itu hilang karena dicuri orang atau anak saya lupa membawa pulang sehabis bermain. Tapi dia ngotot bahwa sepeda itu sudah dibawa pulang dan ditaruh di depan pintu dapur.

Percaya atau tidak, rumah saya jarang kemalingan. Sepatu, sepeda dan motor ditaruh saja di luar di halaman rumah, nggak siang nggak malam. Alhamdulillah, aman-aman saja, padahal rumah saya dan rumah para tetangga lain menghadap lapangan terbuka. Sebenarnya mudah saja bagi orang lain untuk masuk dan mengambil barang di rumah kami, apalagi pintu pagar rumah selalu dalam keadan terbuka, tetapi ya itu, rumah saya seperti ada “Kekuatan” yang melindungi.

Anda boleh percaya atau tidak, saya yakin ini karena amalan sedekah yang kami lakukan dan saya ajarkan kepada anak-anak. Kalau ada barang kita hilang itu berarti teguran dari Tuhan karena kita tidak mengeluarkan hak orang lain dari harta kita, antara lain melalui amalan sedekah. Saya percaya bahwa sedekah dapat menghindari kita dari musibah, antara lain kecurian.

Bukan berarti karena telah bersedekah maka saya menjadi tidak hati-hati dan membiarkan barang milik kami tergeletak begitu saja sehingga rawan diambil orang lain. Bukan berarti setelah bersedekah saya tawakal begitu saja dan menyerahkan pengawasan kepada Allah semua barang milik saya. Tidak. Tentu saya tetap peduli dan hati-hati akan keselamatan dan keamanan, namun sedekah adalah cara spiritual yang sukar dipercaya dengan akal, tetapi hanya bia dipercaya dengan iman.

Saya ingat kisah sahabat Nabi yang datang ke mesjid dengan untanya. Setelah masuk masjid dan akan shalat, nabi bertanya di mana untanya? Sahabat itu menjawab bahwa unta dia taruh di luar tetapi tidak diikat. Kenapa tidak diikat, tanya Nabi. Jawab sahabat itu, saya bertawakal kepada Allah (maksudnya mungkin biar Allah saja yang menjaga untanya). Lalu Nabi bersabda: ikatkan dulu untamu baru kemudian bertawakal. Cerita dari hadis ini adalah pelajaran bahwa kita harus berikhtiar dulu baru kemudian bertawakal.

Lalu, bagaimana nasib sepeda anak saya itu. Dia tetap meraung-raung malam itu. Saya hanya bisa mengatakan kepadanya kalau memang sepeda itu milik dia (memang milik dia kok, he..he), maka sepeda itu akan kembali, tetapi kalau tidak ditemukan berarti sudah menjadi milik orang lain, tidak ada guna disesali lagi. Menangis sepanjang malam pun sepeda itu tidak akan datang.

Ah, itu hanya kata-kata menghibur saja. Kalau sudah hilang ya bagaimana lagi, susah untuk dicari malam-malam begitu. Kalau memang dicuri tentu malingnya sudah jauh. Sya sudah siap untuk membeli sepeda baru lagi esok harinya.

Keesokan harinya ketika saya di Jakarta anak saya menelpon bahwa sepedanya sudah ketemu. Kok bisa? Pak Satpam yang menemukannya di rumah yang sedang dibangun. Malam-malam dia melihat ada sepeda bersandar di depan tembok rumah yang belum selesai. Sepeda itu lalu dibawa Satpam ke rumah Pak RT, kebetulan Bu RT hafal sepeda saya karena dia pelanggan warung Bu RT. Singkat cerita sepeda itu sudah kembali ke rumah kami.

Ajaib, kenapa sepeda itu tiak jadi hilang. Kok pencurinya menaruh sepeda itu di halaman rumah kosong, bukan malah jauh-jauh membawanya pergi. Itu kalau memang benar dicuri, tetapi kalau anak saya yang lupa membawanya pulang setelah bermain tetap saja keajaiban sepeda itu tidak diambil orang, padahal harganya lumayan mahal lho.

Ah, versi mana yang benar, dicuri atau lupa dibawa pulang, yang penting sepeda itu telah kembali ke rumah kami. Benar, kalau memang milik anak saya, maka sepeda itu akan kembali lagi ke yang punya. Alhamdulillah, dalam hati saya yakin ini pasti ada “Kekuatan” yang menjaganya. “Kekuatan” itu adalah Allah SWT, dan saya yakin itu pasti karena amalan sedekah, anda boleh percaya atau tidak. Wallahualam. Mulai sekearang sepeda itu saya namakan “sepeda barokah”.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Sepeda “Barokah”

  1. Alris berkata:

    Saya juga percaya kekuatan sedekah. Rasanya juga setelah sedekah terasa lapang di dada.

  2. aji berkata:

    sayang sekali sepedanya hilang, pdhl sepedanya terlihat cukup mahal dan sepeda itu sendiri berharga sekali terutama ketika harga BBM sudah naik spt skrng.

  3. Citra Indah berkata:

    haha alhamdulillah sepedahnya kembali🙂 , kalo kita percaya sepedah itu akan balik lagi insyaallah pasti balik lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s