Gabut (= Gaji Buta)

Foto yang saya peroleh dari Fesbuk di bawah ini adalah sebuah anekdot. Seorang programmer tampak bekerja keras sendirian, sementara teman-temanya yang lain hanya duduk dan berdiri sambil menonton. Dia mungkin seorang poor programmer.😦

Di kalangan mahasiswa saya di Informatika ITB ada istilah “gabut” (makan gaji buta) untuk menggambarkan perilaku mahasiswa yang hanya numpang nama dalam laporan tugas kuliah, tetapi tidak ikut berkeringat. Mereka yang gabut ini mendapat nilai yang sama dengan temannya yang sudah susah payah mengerjakan tugas siang dan malam. Istilahnya yang tidak berkeringat itu makan gaji buta alias gabut alias dapat nilai tapi tidak ikut bekerja. Perlaku gabut itu mirip dengan foto para pekerja yang hanya duduk dan berdiri pada foto di atas.

Di kalangan anggota DPR juga banyak yang gabut, mereka jarang hadir rapat tetapi tetap dapat gaji setiap bulan. Jelas ini perlaku tercela sebab gaji mereka bersumber dari uang rakyat (dari pajak misalnya), tetapi mereka lebih menyibukkan diri dengan urusannya sendiri dan malas mengerjakan tugas yang semestinya sebagai anggota DPR.

Kembali ke cerita gabut di kalangan mahasiswa saya. Gabut timbul karena dua hal: pertama karena memang dasarnya mahasiswa pemalas, tidak mau kerja keras, dan mencari berbagai alasan untuk menghindar. Kedua, gabut timbul karena keadan yang terpaksa. Tugas-tugas kuliah yang datang secara paralel (dan umumnya tugas kelompok) dan dikumpulkan dalam waktu hampir bersamaan memaksa mahasiswa mengatur strategi dengan berbagi tugas. Satu orang fokus mengerjakan tugas kuliah A, satu orang megerjakan tugas kuliah B, dan satu orang lagi mengerjakan tugas kuliah C. Setiap orang dalam anggota kelompok saling gabut terhadap tugas kuliah yang lain. Meskipun tidak seratus persen gabut, karena sekali-sekali mereka saling diskusi dan membantu, tetapi porsi gabut tetap lebih besar.

Bagaimanapun juga fenomena gabut itu tidak baik. Solusinya kembali bagaimana memenej waktu yang terbatas serta merasa malu memperoleh sesuatu tanpa berkeringat.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Gabut (= Gaji Buta)

  1. Alris berkata:

    Yah kalo yang gabut itu mungkin nanti juga gak bakalan sesukses temannya yang rajin.

  2. agung berkata:

    Lebih banyak lagi perusahaan “gabut” pak, cari project sana-sini, begitu dapat di-subkon ke orang lain/perusahaan lain dan mengambil margin saja. Parahnya, perusahaan sub-kon ini juga men-sub lagi ke perusahaan / team / orang lain. Jarang sekali ada perusahaan yg bener2 kompeten, memiliki team secara internal dan “mau bekerja”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s