Tidur Bareng Anak

Saya sering tidur bersama-sama dengan anak, kadang-kadang istri saya juga ikut nimbrung. Orang Jawa menyebutnya “mengeloni”. Sudah besar masih dikeloni? He..he, tidak apa-apa, bukan? Nanti deh akan saya jelaskan alasannya. Lagipula anak saya belum besar-besar amat. Anak saya semuanya (tiga orang) laki-laki, yang paling besar masih SMP, yang kecil masih TK nol besar. Meskipun bagi mereka sudah saya buatkan kamar masing-masing tetapi mereka lebih senang tidur bersama dalam satu kamar. Kadang-kadang mereka yang tidur bersama di kamar kami. Di rumah kami sudah beranjak tidur pukul 20.30 supaya bangun pagi tidak kesiangan karena anak-anak sekolah pagi.

Dua kasur besar dengan dua dipan, di sanalah mereka tidur bersama-sama, jejer berjejer. Nah, saya sering menemani tidur, bersempit-sempit dengan mereka, ditambah istri kalau ikutan maka bertambah sempit lagi. Biarlah sempit tetapi nyaman karena bersama anak sendiri. Tentu tidak hanya sekedar menemani tidur, tetapi saya mendongeng dulu atau bercerita pengantar tidur, atau sesekali bernyanyi dendang malam meskipun suara saya tidak bagus-bagus amat. Paling sering saya ikut tertidur bersama mereka sampai pagi, he..he.

Tidur bersama anak-anak itu ada nikmat batin, rasanya damai gitu. Secara batiniah tidur bersama anak dapat mendekatkan hubungan batin orangtua dengan anak. Akibatnya kalau pergi jauh saya pasti keingat dan kepikiran terus sama anak. Sedang apa ya mereka sekarang? Apakah sudah tidur? Sudah belajarkah tadi? Kalau pergi jauh (misal ada tugas dari kantor) saya kurang suka lama-lama, paling lama tiga hari saja karena terus kepikiran sama mereka.

Sambil menemani anak-anak tidur, mereka sering bercerita apa saja, misalnya kejadian tadi siang, pengalaman di sekolah. Saya menyimaknya dan sesekali memberi komentar. Kalau mereka sudah tertidur dan saya masih belum mengantuk, sering saya pandangi wajah-wajah mereka yang pulas itu. Inilah harta yang paling berharga dalam hidup yang dititipkan Tuhan kepada saya, yaitu anak-anak.

Cobalah sesekali tidur bareng anak Anda, sebelum dia nanti kalau sudah menikah tidur bareng orang lain dan sudah malu tidur dengan Anda.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tidur Bareng Anak

  1. Alris berkata:

    Saya ketika kecil juga tidur bareng orang tua, dan ortu biasanya mendongeng dulu sampai saya tertidur. Tapi sejak belajar mengaji di surau sudah tidak lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s