Bila Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha Jatuh pada Hari Jumat

Hari Raya Idul Adha 1433 H kemarin jatuh pada Hari Jumat. Sebelum melakukan shalat Ied, pengurus DKM masjid mengumumkan bahwa masjid di kompleks kami tidak menyelenggarakan shalat Jumat, bagi jamaah yang ingin shalat Jumat silakan mencari masjid lain yang menyelenggarakan shalat Jumat. Namun, rata-rata masjid sebelah juga tidak mengadakan shalat Jumat.

Shalat Jumat hukumnya wajib bagi laki-laki muslim, namun ketika Hari Raya Idul Adha seperti ini, secara logika masjid tidak menyelenggarakan shalat Jumat dapat dimaklumi. Seusai shalat Ied penyembelihan hewan kurban pun dilakukan. Halaman masjid penuh dengan darah dan kotoran kambing atau sapi. Sementara itu di teras masjid puluhan orang sibuk memotong-motong daging, menimbang dan membungkusnya. Selepas Dhuhur daging itu akan dibagikan kepada mustahik (fakir dan miskin). Halaman dan teras masjid kotor dan bau. Dengan kondisi masjid yang tidak memungkinkan seperti itu maka bisa dimengerti kalau shalat Jumat ditiadakan.

Kegiatan memotong hewan kurban di masjid Baitul Mu’min, Antapani, tahun yang lalu

Tetapi, itu kan baru alasan logis, tentu harus ada alasan syariat yang lebih kuat mengapa shalat Jumat ditiadakan. Ternyata ada rukhsah (keringanan) untuk tidak mengadakan shalat Jumat pada Hari Raya. Dikutip dari sini, ada empat pendapat (ijtihad) ulama berkaitan dengan shalat Jumat pada Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha:

Pertama, shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (ahlul badaawi / ahlul ‘aaliyah), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jumat, gugur kewajiban shalat Jumatnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz.

Kedua, shalat Jumat wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jumat maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya.

Ketiga, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jumat. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad.

Keempat, zhuhur dan Jumat gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. Jadi setelah shalat hari raya, tak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‘Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‘Ali.

Seorang muslim tentu boleh mengikuti pendapat mana yang diyakininya. Namun, di antara keempat pendapat di atas, pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, rahimahullah. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut (masih dikutip dari laman web tersebut):

Hukum Pertama, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya -yang jatuh bertepatan dengan hari Jumat- gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak.

Hukum Kedua, bagi mereka yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut, lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan shalat Jumat.

Hukum Ketiga, jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat, wajib melaksanakan shalat zhuhur, tidak boleh meninggalkan zhuhur.

Hukum Keempat, mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya, wajib atasnya untuk menunaikan shalat Jumat, tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat.

Kesimpulannya, masjid yang tidak menyelanggarakan shalat Jumat berarti mengikuti pendapat Imam Ahmad di atas, yaitu shalat Jumat pada Hari Raya hukumnya menjadi tidak wajib (sunnah jika diadakan), namun shalat Dhuhur tetap wajib dilakukan. Namun, saya dengar dari teman ada juga masjid yang tetap menyelenggarakan shalat Jumat. Di sebagian masjid pemotongan hewan kurban dilakukan pada Hari Sabtu atau pada 3 hari tasyrik yang lain sehingga shalat Jumat tetap tidak terhalang diselenggarakan.

Pos ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

3 Balasan ke Bila Hari Raya Idul Fitri/Idul Adha Jatuh pada Hari Jumat

  1. Zainum bin Hamad berkata:

    Assalamualaikum, Saya tidak ketinggalan membaca catatan anda.. Terimakasih kerana catatan anda banyak maklumat…Kalau di Malaysia kami masih mendirikannya sholat Jumaat selepas menunaikan sholat sunat eidul adha..

    • Rinaldi Munir berkata:

      Terima kasih Pak Zainum telah membaca catatan saya. Benar Pak, di sebagian masjid di Indonesia shalat Jumat tetap diselenggarakan, sebagian lagi tidak. Semua pendapat ada benarnya karena punya alasan yang kuat secara syar’i.

  2. Machmud berkata:

    Ada yang dilupakan, harus dibahas juga dari sisi DKM selaku pengelola mesjid, jangan sampai orang yang akan melaksanakan shalat jumat tetapi mesjidnya dipakai kegiatan lain.
    Arti kata, pilihan tersebut ditujukan kepada individu tetapi DKM harus menyiapkan mesjid bagi umat kita yang akan melaksanakan shalat jumat, sbb pilihan ada di masing masing individu mau shalat jumat atau tidak.

    Kalau semua DKM melakukan hal yang sama dengan menutup mesjid tidak dipakai shalat juamatan, berarti DKM sudah mengebiri (istilah politik) bagi mereka yang akan melaksanakan shalat jumat, sehingga pilihan hanya satu yaitu tidak melaksanakan shalat jumat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s