Tidak Semua “Chinese Food Halal” itu Halal Lho…

Ketika melihat daftar menu cah kangkung di sebuah restoran chinese food yang berlabel HALAL, saya pun tergoda memesan untuk dibungkus pulang. Saya sangat suka kangkung dalam bentuk masakan cah, biasanya dicampur dengan seafood seperti udang atau cumi, pakai sambal pedas, wah nendang banget nih, bisa-bisa saya makan nambah lagi.

Karena ada tulisan HALAL di restoran itu maka saya berani untuk membelinya. Tapi tunggu dulu, saya belum yakin 100% apakah benar-benar halal, apakah memang semua bahan bakunya halal? Kebanyakan orang beranggapan chinese food yang halal berarti tidak menjual menu daging babi. Restoran cina biasanya identik dengan daging babi dalam menunya, sehingga kaum muslim enggan makan di sana. Untuk menjaring konsumen muslim, beberapa rumah makan chinese food tidak menghidangkan daging babi dan menuliskan label HALAL pada restorannya. Padahal halal tidak selalu berarti tidak ada daging babi.

Saya memesan seporsi cah kangkung di sebuah rumah makan chinese food halal di kawasan Arcamanik, Bandung. Sambil menunggu pesanan, iseng-iseng saya perhatikan cara memasaknya. Sang koki begitu piawai dalam memasak pesanan saya. Satu per satu bumbu dimasukkannya ke dalam wajan. Ketika dia menuangkan cairan berwarna hitam dari sebuah botol, saya bertanya-tanya dalam hati, itu apa? Kecap kah? Kayaknya bukan kecap karena ada tulisan aksara mandarin pada kemasan botol. Lagipula cah kangkung tidak pakai kecap (saya sudah minta agar tidak pakak kecap kepada pelayannya). Selain cairan yang berwarna hitam, dia juga menuangkan sedikit cairan lain yang warnanya agak merah dan cairan berwarna putih. Kemasan botolnya masih berlabel mandarin.

Saya tidak enak untuk bertanya kepada koki, namun naluri saya mengatakan salah satu cairan yang dituang ke dalam wajan adalah arak. Saya sering mendengar masakan cina biasanya ditambah sedikit arak (angciu) untuk membuat masakan menjadi enak. Arak adalah khamar (minuman yang memabukkan), dan khamar itu hukumnya jelas-jelas haram. Meskipun dalam jumlah sedikit atau banyak, bila khamar dicampur ke dalam makanan maka hukum makanannya tetap haram. Banyak orang mengangap sepele soal arak di dalam masakan cina/jepang, toh cuma sedikit kan tidak apa-apa. Biarpun sedikit tetap saja haram dikonsumsi. Agar lebih jelas tentang hukum arak dalam masakan cina/jepang silakan baca tulisan ini: Arak Dalam Berbagai Masakan dan tulisan tentang angciu: Ang Ciu.

Karena saya diliputi keraguan, meskipun dalam hati kecil saya yakin itu adalah arak, maka saya jadi ragu untuk memakannya. Dalam ajaran agama jika kita merasa ragu (syubhat) maka sebaiknya ditinggalkan. Setiba di rumah cah kangkung tadi saya buang ke tempat sampah. Saya takut dosa memakan makanan yang tercemar barang haram. Biarlah terbuang uang Rp15.000 daripada memakan yang tidak halal. Hidup tidak barokah karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang dilarang oleh Allah SWT. Lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi kalau membeli makanan di chinese food yang berlabel halal sekalipun.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Pengalamanku. Tandai permalink.

26 Balasan ke Tidak Semua “Chinese Food Halal” itu Halal Lho…

  1. Reisha berkata:

    Yang hitam bisa jadi saos tiram Pak. Kalau angciu saya ga tau wujudnya kayak apa, hehe. Selain arak, penggunaan rum atau gelatin yang tidak halal kadang kurang diperhatikan juga di Indonesia.

    • rinaldimunir berkata:

      Mungkin juga yang hitam itu saos tiram, namun dua yang lain (merah dan putih) kemungkina besar ang ciu. Kalau rum banyak digunakan pada kue black forest, kue sus, dan klappertaart. Rum juga harus dihindari karena termasuk khamar.

  2. katu berkata:

    Benar pak rum memang harus dihindari terutama kalau ditemani wanita cantik dan minum-minuman keras, walaupun cuma nyanyi-nyanyi.

  3. Asep tea tuh berkata:

    Tapi mungkin saja yg hitam ituh arak

  4. Dwi Raharjo berkata:

    Ah, ruwet amat jadinya beragama Islam kalo begini.

    yang penting jangan ragu-ragu, kalo ada tulisannya halal ya langsung aja nyam-nyam-nyam..

    -Satria Piningit-

  5. Lukman Khakim berkata:

    innamal angmalu binniat, tpi menurut saya berhati2 lebih baik,ibarat orang berjalan,kalu tau didepan ada lubang besar kenapa kita lewat situ kan akibat nya kita terprosok. yakin boleh ,tpi kta kan dikaruniai panca indra, untuk mempelajari sesuatu sebelum kita meyakini nya. smoga dosa kita yg tlah lalu di ampuni NYA.

  6. Joni berkata:

    Satu hal yang pasti, paling tidak kita kudu tetap ngejaga budaya “Mengecek LABEL HALAL sebelum makan” karena seringkali kita kurang memperhatikan ada atau tidaknya LABEL HALAL setiap mampir ke resto yang ada.

  7. zubair ubenk berkata:

    mulai sekarang kita mesti berhati hati ya..lebih baik makan dirumah aja dari pada dijalan…kalau di kampung sih smuanya halal insya alloh

  8. blossomind berkata:

    hmm…emang kadang aq juga suka tergoda beli cah kangkung di resto Cina yg ada label halalnya tp ya itu tdi.. halal buat yg punya resto kayaknya hnya sekedar gak pake bhan/lemak babi pdhal lebih dri itu.. sampe sekarang saya kesulitan nyari resto cina yg halal 100% yg harganya terjangkau soalnya ada yg halal 100% tp msh kelas hotel

  9. kata mbah kyai kl sudah berdoa sbelum makan,smua jd halal,ciu pun serasa air putih sahaja,daging babi serasa daging kambing sahaja, namun karna ciu sm babi dilarang oeh syareat dalam bentuknya yg bermacam,mending jangan dimakan sahaja…

  10. Tania berkata:

    Sebagai etnis tionghoa, saya coba beri masukan untuk masakan Chinese Food sbb:

    Bumbu dasar untuk masakan cina adalah bawang putih dengan bumbu botolan yg lain.
    Yang berwarna hitam itu bisa berupa Saus Tiram, Kecap Ikan, Kecap Manis
    Yang lainnya berwarna bening atau kemerahan sebagai penyedap adalah Minyak Wijen dan Angciu (Arak Beras/Tapai).

    Jika anda menganggap Angciu ini masuk katagori khamar, maka bisa ditiadakan karena dapat digantikan dengan saus tiram saja, tapi sudah bukan Chinese Food lagi namanya.

    Penjual nasi goreng Dok-dok juga memakai angciu dalam masakannya.

    Semoga berguna.

  11. ferry berkata:

    Assallammualaikum wr. wb.
    Saya pernah bekerja sebagai manager salah satu outlet
    Penangbistro di
    Central Park Mall, sekitar 2 tahun bekerja di sana. Sebagai
    manager,
    saya bahkan tidak diperkenankan untuk tahu resep, bumbu
    dan bahkan
    proses memasaknya, hanya chef dan koki yang tahu. Saya
    pernah bertanya
    ke salah seorang chef dan tidak mau menjelaskan apakah
    menggunakan
    bahan-bahan yg haram atau tidak. Tidak pasti juga apakah
    karena
    kendala bahasa atau bagaimana, karena memang semua
    chef yg dikontrak
    beretnis tionghoa (non muslim) dan berasal dari singapura
    dan
    malaysia.
    Permintaan maupun pengadaan bahan makanan pun
    ditangani oleh chef dan
    bagian logistik secara langsung yang juga beretnis
    tionghoa non
    muslim. Bahkan pemilik usaha restoran ini beretnis sama
    dan juga non
    muslim.
    Baru pada pesta tahun baru 2015 kemarin saya mendapat
    pengakuan dari
    rekan saya bagian kitchen yg bertugas membantu chef,
    bahwa ada
    penggunaan di hampir semua menu, sejenis margarine
    berwarna putih
    dengan kemasan berbahasa tionghoa dan menurut rekan
    saya pernah
    mendengar mereka (chef) menyebutnya “lard”.
    Sepengetahuan saya lard
    berarti lemak babi. Memang rekan saya dan hampir semua
    yg bekerja di
    bagian kitchen berasal dari daerah Cianjur dan tidak paham
    bahasa
    inggris.
    Seingat saya ada lebel halal di berbagai promosi tetapi saya
    tidak
    yakin itu dari MUI karena yg saya lihat logo halal MUI
    berbeda. Dari
    rekan di kantor pusat saya mendapat info bahwa tidak
    pernah ada
    inspeksi dari MUI baik di gudang logistik maupun outlet-
    outlet selama
    3 tahun belakangan ini.
    Hal inilah yg menyebabkan saya memilih untuk berhenti dan
    berkarier di
    bidang lain, selain karena bertentangan dengan akidah saya
    juga merasa
    dibohongi.

  12. hshdjddnsnsj berkata:

    Untung yg dpesen cuma cah kangkung

  13. icunk berkata:

    Nih gan ane kasih rekomen kalo mau chinesse food yg halal rasa sekelas restoran, coba didaerah cicadas, ahmad yani, bandung, ada chinesse food namanya 499. Coba aja google pasti ada. Ane liat ada sertifikat halal dan denger2 ownernya walau chinesse tapi haji. Ane sering makan disana.

  14. Ronald berkata:

    Makanya sadar diri sendiri aja.., sudah tentu yg namanya chinese food itu halal bagi umat kristiani ataupun budha bukan halal untuk umat muslim.. Dan klo bicara arak pada makanan cina dan jepang, lalu bagaimana dgn daun ganja pada makanan nasional seperti makanan padang?? Coba anda jelaskan..

    • Ciung berkata:

      Mana ada masakan padang pake daun ganja??? Ngawur dan sok tahu kamu.

    • Taufik Dirwanto berkata:

      Masakan padang jenis apa yang mengandung daun Ganja? Hati2 anda berkata. Orang minang beradat berlandaskan Kitabullah Al Quranul Karim. Tidak ada orang Minang yang tidak Islam.
      Jangan biarkan kebodohan anda menyebabkan anda menyebar fitnah akan etnis tertentu.

  15. amin kurniadi berkata:

    Kalo gitu tape juga haram dong…..

  16. Engkong Seafood berkata:

    Bodoh kali, yang haram kan kalau sampai mabuk. Kalau untuk keperluan masak apa salahnya? Kalau gitu kau ke rumah sakit gausah pakai obat bius. Obat bius itu narkoba dan sifatnya pun lebih parah daripada bahan masakan chinese food. Punya otak dipakai dong.

    • Kokoh Sipud berkata:

      Setuju engkong, kalau pemahaman sama agama sifatnya selalu literal ya begini jadinya, awas di bom ngkong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s