Peraturan Untuk Dilanggar (Potret Calon pemimpin Bangsa)

Di kampus saya, di ITB, mobil mahasiswa berderet-deret di tempat parkir di depan lapangan Aula Barat dan Aula Timur. Mahasiswa memang tidak boleh membawa masuk kendaraannya ke dalam kampus sebab kampus ITB itu sempit, mereka harus memarkir kendaraan di tempat parkir yang disediakan.

Namun kapasitas parkir di sana juga sangat terbatas, sedangkan mahasiswa yang membawa mobil semakin banyak saja jumlahnya (efek booming kaum kelas menengah atas di Indonesia). Akibatnya, mobil mereka terpaksa diparkir di seputaran Jalan Ganesha. Sayangnya mereka abai dengan aturan dan bersikap masa bodoh dengan memarkir mobil di jalan yang ada rambu-rambu larangan parkirnya.

Ada lima rambu larangan parkir di sisi barat Jalan Ganesha, tetapi di sepanjang jalan itu deretan mobil mahasiswa diparkir oleh pemiliknya tanpa merasa bersalah. Yang paling senang tentu tukang parkir liar karena kawasan jalan itu adalah sumber penghasilan bagi mereka.

Ah, bagaimana mengharapkan para mahasiswa ini sebagai calon pemimpin bangsa, jika peraturan lalu lintas saja sudah dilanggar. Kesannya seolah-olah pendidikan karakter kepada mahasiswa kami selama ini tidak begitu berhasil.

Jangan terlalu berharap pada penegakan hukum, toh oknum polisi pun bagian dari masalah ini. Seorang teman melihat dengan kepala sendiri bagaimana oknum polisi mendapat upeti dari tukang parkir liar di situ. Simbiosis mutualisma yang menguntungkan. Mahasiswa mendapat tempat untuk memarkirkan mobilnya, tukang parkir liar mendapat penghasilan, dan oknum polisi mendapat uang tambahan. Peraturan tinggal peraturan, karena peraturan dibuat untuk dilanggar. Rambu-rambu larangan parkir itu mungkin hanya sekedar asesori saja.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

5 Balasan ke Peraturan Untuk Dilanggar (Potret Calon pemimpin Bangsa)

  1. Daniel berkata:

    Akhirnya, ada yang menulis tentang ini. Saya sangat senang ada orang ITB yang memperhatikan “pelanggaran ringan” yang terjadi setiap hari tersebut. Mudah-mudahan urat malu “putra-putri terbaik bangsa” itu masih ada. ITB dibangun dan dibiayai oleh negara untuk membawa nilai positif bagi seluruh negara. Harusnya nilai kebaikan ITB tidak hanya berlaku di dalam pagar ITB. Mudah-mudahan para pemimpin di ITB menyadari hal itu.

  2. arifrahmat berkata:

    Mungkin dengan niat mengurangi kepadatan lalu lintas, telah dipasang tanda dilarang masuk (khusus angkot) di jalan Ganesha, dari 2 arah. Tapi sama saja, rambu ini juga dilanggar angkot, demi mendapatkan penumpang. Rambu dilarang parkir membela kepentingan umum, rambu dilarang masuk, mengorbankan kepentingan (angkutan) umum.

  3. rema berkata:

    kok parkir, putra-putri yang katanya “terbaik” di bangsa ini saja masih belum bisa memilah dan membuang sampah pada tempatnya.
    heran ya, masak putra-putri terbaik tidak bisa membedakan antara sampah organik dan sampah anorganik? -_-“

  4. Ping balik: Tidak Ada Lagi Mobil yang Parkir di Sini | Catatanku

  5. irfan berkata:

    yg saya heran itu mobil keluarnya gimana ya? depan belakang mentok haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s