Dilema Pak Heryawan dan Balihonya

PilGub Jabar 2013 sudah semakin dekat. Petahana Gubernur Jabar, Pak Heryawan, yang akrab dipanggil kang Aher, akan maju kembali sebagai Cagub. Wakilnya, Kang Dede Yusuf, memilih jalan berpisah dengan maju sebagai Cagub dari Partai Demokrat. Hingga hari ini baru tiga Cagub yang terdengar akan maju dalam pertarungan Pilgub 2013, yaitu Pak Heryawan, Kang Dede Yusuf, dan Teh Rieke Dyah Pitaloka alias Oneng. Satu calon lagi dari jalur independen masih belum jelas apakah bisa lolos syarat jumlah dukungan.

Selain Rieke yang sudah memastikan Cawagubnya, yaitu Teten Masduki, dua calon lainnya belum jelas siapa pendampingnya. Pak Heryawan tentu tidak mungkin lagi mengandalkan Dede Yusuf, jadi dia harus mencari pasangan lain yang bisa mendongkrak raihan suara. Pengalaman Pilgub DKI baru-baru ini menjadi pelajaran bahwa rakyat memilih pemimpin berdasarkan figur yang populer. Partai pengusung tidak lagi menjadi penentu pilihan rakyat dalam pemilihan calon pemimpin.

Berkaca dari Pilgub Jabar 2008 yang lalu, pasangan Heryawan – Dede Yusuf bisa menang karena faktor Dede. Heryawan bukan siapa-siapa, dia tidak dikenal oleh orang Jawa Barat, dia hanya dikenal oleh segelintir ormas Islam dan kader partai pendukungnya saja. Dede Yusuflah yang menjadi lumbung suara kemenangan waktu itu.

Berdasarkan hasil survey LSN, tingkat kepopuleran Pak Heryawan jauh dibawah kepopuleran Dede Yusuf dan Rieke. Jadi, selama lima tahun berkuasa menjadi Gubernur ternyata rakyat Jabar masih tidak mengenal gubernurnya. Menurut teman-teman di PKS, Pak Heryawan ini sebenarnya mempunyai segudang prestasi, tetapi sayang prestasinya itu kurang diliput oleh media. Padahal saat ini media sangat berpengaruh dalam membentuk pencitraan dan menggalang opini.

Karena media tidak banyak memberitakan keberhasilan Heryawan, maka kalangan pendukungnya mencoba alternatif lain untuk “memasarkan ” Heryawan, yaitu dengan membuat baliho-baliho besar yang memasang foto sang Gubernur sedang tersenyum, sambil menyebutkan prestasi yang diraihnya. Baliho-baliho itu dipasang di sudut-sudut jalan, Jumlahnya banyak, bahkan di dekat Gedung Sate sendiri jumlah baliho Pak Heryawan bisa lebih dari satu. Saking banyaknya baliho Heryawan bertebaran di penjuru kota Bandung, yang terjadi adalah inflasi baliho. Rasanya jenuh melihat foto sang gubernur “mengotori” keindahan kota.

Lalu, apakah pemasangan baliho-baliho Pak Heryawan berkorelasi mendongkrak popularitasnya? Ternyata tidak. Hasil survey menunjukkan popularitasnya di bawah 50%, jauh dibawah Dede Yusuf dan Rieke. Entah bagaimana caranya lagi mendongkrak ketokohan sang petahana. Di sisi lain baliho dengan foto besar itu dapat menimbulkan rasa ujub (membanggakan diri) atau kultus individu, sesuatu yang selalu ditentang oleh partainya Pak Heryawan.

Rakyat punya cara sendiri menilai pemimpinnya. Entah siapa yang akan dipilih oleh rakyat Jabar tahun depan. Apakah Kang Aher bisa mempertankan kekuasaannya lima tahun lagi atau malah dikalahkan oleh wakilnya yang sekarang? Wallahualam.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dilema Pak Heryawan dan Balihonya

  1. Asep tea tuh berkata:

    Pasti rakyat jabaq bkl milih anu bener nu pentingmah hente korupsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s