Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 1): Dimulai dari SNETE 2012

Ini Medan, Bung!

Saat ini saya sedang berada di kota Medan untuk mempresentasikan makalah penelitian saya pada konferensi nasional SNETE 2012 yang diadakan oleh Jurusan Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Lho, kok di Medan, bukan di Banda Aceh? Tahun lalu SNETE 2011 diadakan di Banda Aceh, tetapi tahun ini diadakan di Medan, barangkali untuk menarik minat pemakalah lebih banyak lagi, karena Medan adalah kota besar dengan kemudahan akses transportasi ke sana lebih banyak ketimbang Banda Aceh.

Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Saya belum pernah ke Medan, jadi ini adalah kali pertama saya ke kota Melayu Deli itu. Sekarang dari Bandung ke Medan makin gampang saja karena ada penerbangan langsung antara dua kota itu yang dilayani oleh dua maskapai (Lion dan Air Asia) empat kali sehari. Nggak perlu repot-repot ke Jakarta dulu kalau ke Medan, dari Bandung saja deh.

Bandara Polonia, Medan, di tengah kota. Tahun depan bandara pindah ke Kuala Namu.

Sore hari menjelang penutupan konferensi, saya “kabur” ke luar hotel (tempat konferensinya di Hotel Santika Dyandra) untuk keliling-keliling kota Medan. Besok saya sudah kembali ke Bandung, jadi waktu yang sempit ini harus dimanfaatkan untuk melihat-lihat kota.

Saya menyewa betor (becak motor) yang parkir di sebelah hotel. Betor adalah becak modifikasi dengan penarik sebuah motor. Becak ini kelihatan lebih “manusiwawi” karena ditarik dengan mesin, ketimbang ditarik manusia seperti di Jawa.

Betor sangat banyak di Medan. Supir (eh tukang) betor di sini nekat-nekat dalam memotong arus. Cuek aja tuh mesti sudah diklakson supir mobil yang kesal, sama seperti cuek bebeknya sopir angkot di Bandung yang menjadi “raja jalanan” di kota kembang.

Setelah tawar menawar harga, betor membawa saya keliling kota Medan dan mengunjungi tempat-tempat yang sudah menjadi keinginan saya sejak lama: Masjid Raya Medan dan Istana Maimun.

Jalan Kesawan yang terkenal. Dulu sepanjang jalan ini menjadi tempat wisata kuliner ketika malam menjelang, sekarang sudah dilarang oleh Pak Walikota. Sayang ya.

Saya akan ceritakan tempat-tempat yang saya kunjungi pada seri tulisan selanjutnya: Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 2): Masjid Raya Medan yang Anggun.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 1): Dimulai dari SNETE 2012

  1. Ping balik: Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 2): Masjid Raya Medan yang Anggun | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s