Tak Apalah Mahal Sedikit

Setiap kali pulang dari kantor ke rumah, saya selalu melewati kedai buah-buahan yang dimiliki oleh orangtua teman anak saya (dulu waktu di TK). Sebut saja namanya Mas Hamim, dia mengontrak sebuah rumah pinggir jalan sekaligus tempat usahanya berjualan buah-buahan.

Kadang-kadang saya berhenti untuk membeli buah-buahan di kedainya itu, misalnya mau membeli pisang, terkadang pepaya, melon, atau lengkeng. Harganya sedikit agak mahal dibandingkan harga buah-buahan di supermarket yang tidak jauh dari situ, tetapi saya tetap membeli buah-buahannya. Karena Mas Hamim kenal dengan saya (anak kami dulu satu sekolah di TK), maka dia memperlakukan saya agak “istimewa”. Harga untuk saya dikuranginya dikit, misalnya seharusnya Rp12.000 maka menjadi Rp10.000.

Namun saya tidak suka diperlakukan “istimewa”, saya tetap membayar sesuai label harga. Meskipun dicegah sama dia, saya tetap membayar utuh, tidak mau dikurangi. Saya mengerti Mas Hamim membutuhkan uang untuk biaya kontrakan dan biaya sekolah anaknya. Nggak tega rasanya saya membayar dengan harga yang ia kurangi.

Meskipun harga buah-buahan Mas Hamim sedikit lebih mahal, saya tidak memikirkan mahalnya. Kalau niat kita ikhlas membantu orang kecil, jangan pikirkan beda harga dua ribu hingga lima ribu rupiah. Memang di supermarket harganya lebih murah karena pengusaha supermarket bisa memotong jalur distribusi yang panjang sehingga ongkos barang bisa ditekan. Pengusaha supermarket bisa membeli barang langsung dari distributor atau bahkan langsung dari pabrik, sedangkan pedagang kecil perlu melewati rantai distribusi yang panjang untuk mendapatkan barang (produsen –> distributor –> agen –> sub-agen –> pengecer) sehingga harga barang jatuhnya lebih mahal.

Ada ribuan atau jutaan pedagang kecil seperti Mas Hamim di sekeliling kita yang kalah bersaing dengan pasar modern (Toko Swalayan/supermarket/hypermarket). Ayolah sering-sering membeli dagangan mereka, sebab begitulah cara untuk membantu kelangsungan usahanya.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tak Apalah Mahal Sedikit

  1. 2persen berkata:

    Mungkin ini jg alasan di beberapa daerah pembangunan mini market franchise tidak diizinkan, hmm.. tapi entah sampai kapan juga tahan dengan aturan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s