Selamat Hari Guru

Kemarin, 23 November 2012, mantan mahasiswa saya mengirim SMS ucapan yang bunyinya begini: “Assalaamualaikum Pak. Selamat Hari Guru, terima kasih atas semua bimbingannya selama saya menjadi mahasiswa”.

Terharu sekali… (tak terasa mata ini seperti mau basah)

Saya sendiri tidak tahu kalau 25 November adalah Hari Guru, tapi mantan mahasiswaku tersebut mengingatkan saya tentang hari itu. Barangkali dia telah merasakan arti guru karena dia sendiri pernah menjadi guru SD di daerah terpencil di Indonesia Timur dalam program “Indonesia Mengajar” yang digagas oleh Anies Baswedan.

Guru adalah orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Tanpa guru kita bukan siapa-siapa. Gurulah yang mengajarkan kita menulis, membaca, dan beraneka ilmu. Ketika zaman TVRI masih berjaya, ada sebuah lagu tentang guru yang sangat berkesan bagi saya. Judulnya “Jasamu Guru”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh paduan suara anak SD dan klip videonya diputar berulang-ulang setiap malam. Bunyi syairnya sebegai berikut:

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tau beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dididik pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…….

Setiap kali mendengarkan lagu itu saya jadi “merinding”, terbayang jasa para guru yang telah mendidik saya hingga dewasa seperti ini. Saya tidak menemukan lagu aslinya yang di TVRI itu, namun anda dapat mendengarkan versi lagu tersebut pada video di Youtube berikut (klik videonya):

Secara kebetulan, tanggal 25 November 2012 kemarin saya bertemu dengan guru saya waktu SMP dulu (SMP Negeri 8 Padang), yaitu Pak Abdul Lenen. Dia guru matematika kami yang selalu menjadi kenangan para murid karena gaya mengajarnya yang khas dan kocak. Pak Lenen datang dari Padang mengunjungi anaknya yang tinggal di Bandung. Umurnya sekarang 71 tahun tetapi terlihat masih kuat. Saya sempat berfoto ketika mengunjunginya di rumah anaknya di Bandung.

Pak Abdul Lenen (guru SMPN 8 Padang) dan saya

Terima kasih kepada guru-guruku, baik guru TK, SD, SMP, SMA, dan dosen-dosenku di ITB, baik yang masih hidup maupun yang sudah dipanggil oleh Sang Khalik. Sekarang saya juga menjadi Pak Guru tetapi pada aras perguruan tinggi. Namun saya sendiri merasa masih banyak kekurangan menjadi seorang pendidik. Masih banyak harus belajar dari para “suhu” untuk menjadi seorang “guru”.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s