Menjadi Mitra Bestari

Wah..wah..wah, saya sungguh merasa repot akhir-akhir ini. Permintaan menjadi Mitra Bestari dari beberapa jurnal ilmiah d tanah air semakin banyak. Mitra Bestari adalah istilah yang diberikan kepada reviewer makalah (paper) ilmiah. Sebuah jurnal atau prosiding konferensi ilmiah yang barkualitas memang harus melakukan proses peer review terhadap setiap makalah yang dikirim (submit) redaksi jurnal (panitia konferensi). Me-review artinya menilai kelayakan makalah tersebut apakah pantas untuk dimuat atau ditolak, apakah original (bukan plagiarisme), bagaimana kualitasnya, dan sebagainya. Biasanya redaksi jurnal/panitia konferensi sudah memberikan formulir penilaian untuk kita isi.

Sebuah makalah di-review oleh orang yang berkompeten dibidang ilmunya, sesuai dengan subjek makalah tersebut. Yang menggembirakan adalah saat ini di Indonesia jurnal ilmiah bidang keilmuan Teknologi Informasi (Informatika/Ilmu Komputer/Sistem Informasi/Elektro/Telekomunikasi) tumbuh dengan pesat, terlepas dari kualitasnya. Jumlahnya cukup banyak. Ada ghirah (semangat) dari Perguruan Tinggi untuk menerbitkan jurnal imiah secara berkala. Ini fenomena yang menggembirakan, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang berpendidikan tinggi dan membutuhkan tempat untuk mengaktualisasikan ilmunya melalui tulisan di dalam jurnal atau prosiding.

Yang lebih mencengangkan adalah pertumbuhan konferensi ilmiah dalam bidang TI yang luar biasa. Hampir setiap perguruan tinggi yang punya jurusan komputer, baik PTN maupun PTS, rajin menyelenggarakan konferensi ilmiah tahunan. Dari Sabang sampai Merauke ada belasan konferensi ilmiah yang diselenggarakan oleh PT. Ada yang berhasil mendapatkan ratusan makalah, tetapi ada yang hanya mendapatkan kurang dari tiga puluh makalah saja. Ada yang proses review-nya ketat, ada pula yang sangat longgar sehingga semua makalah yang masuk diterima begitu saja tanpa kritis. Di sebuah konferensi nasional yang saya ikuti saya menemukan makalah yang sangat tidak layak. Isinya membahas tentang perhitungan rumus-rumus fisika dalam membuat gasing. Saya sampai bolak-balik membacanya dan tidak menemukan apa hubungannya dengan bidang TI. Tidak ada bahasan tentang program aplikasi atau bidang ilmu lain di Informatika. Makalah kayak gitu kok bisa lolos dalam sebauh konferensi ilmiah bidang TI? Berarti proses peer review nya asal-asalan tuh.

Dibandingkan proses review makalah untuk prosiding konferensi ilmiah, review makalah untuk jurnal ilmiah jauh lebih ketat, karena jumlah makalah yang akan diterbitkan relatif sedikit (biasanya tidak sampai 10 makalah, bandingkan dengan prosidng konferensi yang bisa memuat puluhan hingga ratusan makalah). Bagi jurnal ilmiah yang berkualitas, tidak sembarang makalah bisa lolos. Ada proses bolak-balik antara penulis dengan reviewer. Jika sebuah makalah dapat diterima tetapi harus diperbaiki, maka penulis memperbaikinya lalu mengirim ulang untuk di-review kembali, begitu seterusnya bisa sampai dua atau tiga kali iterasi.

Bagi jurnal bergengsi seperti jurnal-jurnal internasional milik IEEE (saya belum berhasil menembusnya :-(), proses review makalah mulai dari submit hingga penerbitan (jika diterima atau accepted) bisa memakan waktu satu hingga dua tahun. Ketika dulu S3 saya pernah mengirim makalah ke sebuah jurnal bergengsi di Kanada, hingga 6 bulan lebih belum juga ada kabar apakah ditolak atau diterima. Setiap kali saya menengok status review di web mereka, tidak ada update status. Akhirnya karena saya punya keterbatasan waktu studi yang tidak mungkin menunggu terlalu lama, saya mengirim makalagh tersebut ke jurnal lain yang proses review-nya lebih cepat (memang tidak sebagus jurnal di Kanada itu) dan alhamdulillah diterima.

Untuk jurnal TI di ITB, proses review biasanya memakan waktu berbulan-bulan (pengalaman pribadi). Proses review yang lama memang sering menjadi keluhan para peneliti atau akademisi. Mungkin sang mitra bestari sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk me-review makalah yang dipercayakan kepadanya. Apakah semakin lama waktu review menunjukkan ukuran kualitas jurnal, wallahu alam.

Saat ini saya menjadi mitra bestari untuk jurnal ilmiah di sebuah perguruan tinggi di Aceh, jurnal sebuah PTS di Jakarta, jurnal sebuah PTN di Yogya, jurnal sebuah PTN di Jawa Timur, dan tentu saja jurnal di ITB sendiri. Mudah-mudahan saya mampu mengemban amanat sebagai mitra bestari yang baik. Ini semua demi kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Insya Allah.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

4 Balasan ke Menjadi Mitra Bestari

  1. arfive gandhi berkata:

    subhanaALLah…amanat yg berat itu pak…perlu ketekunan mengingat tanggung jawab dan risikonya

  2. sri mulyani berkata:

    Assalamu’alaikum pak
    Salam kenal…
    saya memerlukan bantuan dari bapak, mengenai bentuk dari suatu jurnal sebelum dan setelah di review jurnal (apakah boleh/layak) diketahui, untuk kepentingan menuntut ilmu?
    Satu lagi pak, apakah boleh saya meminta tulisan bapak mengenai cara terbaik untuk memilih suatu masalah menjadi suatu thesis dan cara penulisannya?
    Seandainya bapak berkenan, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
    wassalam…

  3. Pedri Haryadi berkata:

    Terima kasih atas sharingnya, bermanfaat sekali. Saat ini saya sedang ada amanah untuk mengawal akreditasi di sebuah Litbang. Sedang mencari informasi, apa bedanya Mitra Bestari dengan Penyunting ya? Soalnya masih bias dlm saya memahaminya ^_^

  4. alhakiki berkata:

    “Proses review yang lama memang sering menjadi keluhan para peneliti atau akademisi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s