“Ngampar” di Lantai pun Bolehlah

Kalau anda jalan-jalan masuk kampus Ganesha ITB, jangan heran melihat pemandangan seperti foto di bawah ini. Mereka asyik mengerjakan tugas kuliah bersama-sama di lantai dengan cara ngampar (Bahasa Sunda) yang artinya duduk lesehan (Bahasa Jawa). Ada yang duduk dan ada yang telungkup. Beberapa laptop bergeletakan di sisi mereka.

Tetap asyik ngampar di lantai

Tetap asyik ngampar di lantai

Pemandangan seperti ini hampir kita temui di selasar dan lorong-lorong LabTek V, VI, VII, VIII, SC Timur, SC Barat, dan selasar GKU Timur depan Bank BNI. Terkadang kalau kita berjalan harus hati-hati melangkah karena kelompok mahasiswa yang sedang berdiskusi dan mengerjakan tugas kuliah hampir menyita lorong yang tidak terlalu lebar.

Mahasiswa Geologi dan Teknik Geofisika melantai di selasar GKU Timur (depan Bank BNI). Foto ini kiriman Pak Andri  Subandrio, dosen Geologi ITB

Mahasiswa Geologi dan Teknik Geofisika melantai di selasar GKU Timur (depan Bank BNI). Foto ini kiriman Pak Andri Subandrio, dosen Geologi ITB

Mengganggu? Ah tidak, saya sih suka saja melihat pemandangan seperti ini. Ini menunjukkan mereka bersemangat untuk belajar. Sepuluh tahun yang lalu dan sebelumnya kita tidak menemukan pemandangan seperti ini di kampus ITB. Dulu kalau mengerjakan tugas kuliah mahasiswa duduk manis di perpustakaan atau duduk di lab menggunakan komputer desktop.

Tetapi, sejak teknologi mobile dan portable menjadi booming, kebiasaan mengerjakan tugas kuliah dan belajar bisa dilakukan di mana saja. Komputer berbentuk laptop, netbook, tablet, dan aneka macam gadget telah membantu memudahkan mobilitas mahasiswa dalam belajar. Apalagi sudut-sudut kampus sudah terpasang wi-fi yang memudahkan akses internet untuk mencari bahan kuliah. Kalau pun di area tertentu tidak ada hot spot, toh bisa pakai flash modem untuk berinternet. Nah, dengan cara melantai atau ngampar begini mereka merasa lebih nyaman dan bebas. Sambil mengerjakan tugas, ketawa-ketiwi, sesekali ngerumpi, dan tidak lupa fesbukan atau twitteran. Memang mahasiswa zaman sekarang mahasiswa yang gaul.

Mahasiswa Prodi STI sedang ngampar di lorong Labtek V

Mahasiswa Prodi STI sedang ngampar di lorong Labtek V

Di satu sisi, pemandangan ngampar seperti itu juga berarti kampusku kurang banyak menyediakan meja dan bangku untuk belajar di luar kelas. Jumlah mahasiswa yang semakin bertambah tidak diimbangi dengan penyediaan sarana yang memadai, akhirnya mahasiswa memilih dengan caranya sendiri yang kira-kira membuatnya merasa nyaman, yaitu dengan cara melantai seperti foto-foto di atas. Di luar negeri mahasiswa belajar sambil rebahan di atas rumput taman, tetapi di Indonesia rumput umumnya basah jadi kurang nyaman untuk belajar, ditambah lagi sinar matahari yang terik, mana ada yang mau rebahan di atas rumput. Di ITB rumput hanya ada di depan lapangan Aula Timur dan Aula Barat. Tidak ada mahasiswa yang mau belajar atau ngampar di atas rumput itu.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

4 Balasan ke “Ngampar” di Lantai pun Bolehlah

  1. ismailsunni berkata:

    Di ITB kan dilarang menginjak rumput pak… apalagi ngampar di rumput.. tentu bisa kena semprit

  2. alrisblog berkata:

    Pak Rinaldi, sekarang masuk ITB makin susah bagi orang miskin kampung. Jaman saya smp dulu rata-rata pengen masuk ITB setelah tamat sma, bukan karena nama besarnya tapi lebih kepada melihat kiprah para tokoh jebolannya. Saya ingat betul waktu Gubernur Azwar Anas meresmikan gedung sma negeri pertama di Solok bagian selatan tahun 80-an, kami murid sd negeri yang dipilih untuk menyambut beliau sangat mengelu-elukannya. Guru kami bercerita betapa hebat beliau, dan beliau ini tamatan ITB. Sejak itulah banyak diantara kami pengen masuk ITB. Tapi karena tidak ada yang meng-guide; baik cara belajar untuk bisa diterima disana; menyiapkan biaya selama menempuh pendidikan; dan support lainnya, akhirnya masuk ITB cuma jadi mimpi yang tak kesampaian. Tahun 1982 ada teman kakak saya siswa undangan diterima di ITB hanya bertahan kuliah 2 tahun karena kemiskinan menjerat orang tuanya, padahal dia tinggal di asrama . Saat ini biaya kuliah mahal pisan, asrama (hampir) gratis sudah tak ada, informasi dan cara mendapatkan beasiswa ke anak kampung bisa dibilang nol, biaya untuk pendukung perkuliahan makin wajib, maka makin langkalah kesempatan orang kampung buat kuliah di ITB. Dulu betapa banyak lulusan ITB berasal dari orang kampung. Sekarang…?
    Jadi pepatah Jawa “Jer Basuki Mowo Beyo” (artinya: semua itu selalu memerlukan biaya) memang wajib hukumnya dijaman kini.
    Kata teman saya yang orang Jawa, “setiap orang kalau mau pintar ya harus bayar, lha wong mau pinter kok mintanya gratis. Saya aja yang sekolah pakai bayar gak pinter-pinter, apalagi yang sekolahnya gratis, tak jamin hasile bakalan benjut🙂🙂🙂 .”

    (usul ide Pak Rinaldi, kumpuakan urang awak dan bantuak jaringan untuak membiayai anak-anak kampuang nan bresprestasi untuak disakolahkan di ITB. Ambo taragak tanah Minang menghasilkan pemikir-pemikir nan brilian sarupo jaman saisuak. Ambo baru bisa berkontribusi sebatas ide, tarimo kasih)

  3. Ping balik: Suasana Kampus yang Menumbuhkan Iklim Belajar | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s