Berkunjung ke Korea (Bagian 3): Susah Makan di Korea

Saya tidak terlalu menikmati makan di Korea. Apa pasal? Selama makan di luar (setiap hari makan di berbagai restoran, kecuali sarapan pagi di penginapan) pemandu kami selalu mengajak makan dengan menu ala table manner. Jadi, dengan ala table manner itu, makanan dikeluarkan satu per satu, mulai dari makanan pembuka, utama, dan penutup. Nah, kami sering makan di restoran Jepang atau Korea dengan menu daging ikan mentah atau seafood mentah lainnya. Ikannya kelas ikan mahal sih, ada ikan salmon, kerang dalam, gurita, tuna, dan lain-lain.

Saya tidak suka makan ikan mentah, sejak dulu tidak mau, tidak cocok saja dengan lidah saya. Teman saya enak saja tuh makan sayatan ikan mentah, tetapi saya hanya bisa melihat saja. Selain ikan mentah, menu hidangan lainnya juga tidak cocok selera, alhasil saya hanya makan lalap sayur mentah atau nasi saja. Sayang ya, payah benar selera saya ini, padang minded, he..he.

Untunglah tidak selalu makan ikan mentah, ada satu menu masakan yang menjadi favorit saya di sini, yaitu bibimbap. Bibimbap adalah semacam nasi campur yang dihidangkan dalam mangkuk panas. Di dalam mangkuk ada nasi, lalu di atasnya diletakkan sejumlah sayur kukus, ikan, telur setengah matang, dan bumbu-bumbu.

Bibimbap (sebelum diaduk)

Bibimbap (sebelum diaduk)

Cara memakannya, semua nasi dan bahan-bahan di atasnya diaduk rata kira-kira tiga menit. Panas dari mangkuk membuat smeua bahan menjadi matang dan ada kerak nasi yang terbentuk. Setelah itu baru dimakan dalam keadaan panas. Bunyi krenyes-krenyes dari kerak nasi menghasilkan sensasi tersendiri. Rasanya krispi dan gurih.

Bibimbap setelah diaduk-aduk

Bibimbap setelah diaduk-aduk

Selama di Korea, hampir setiap hari saya makan kimchi sampai bosan rasanya. Setiap menu makan di manapun di Korea selalu dihidangkan kimchi sebagai hidangan pembuka. Mernurut saya kimchi itu hampir sama dengan asinanbogor, he..he.

Kimchi

Kimchi

Orang Korea banyak yang sudah tidak tahu lagi cara membuat kimchi (begitu kata pemandu kami). Sekarang imchi juga bisa dibuat secara instan dengan menggunakan peralatan elektronik. Ketiak berjalan-jalan ke toko elektronik, saya menemukan mesin bermerek Samsung sebesar mesin cuci yang rupanya khusus untuk membuat kimchi.

Mesin pembuat kimchi

Mesin pembuat kimchi

Ketika mengunjungi kota Daejeon dalam rangka ke KAIST, kami makan di restoran yang menghidangkan sup ayam ginseng bernama Samgyetang. Sup ayam ini dicampu dengan bubur nasi sehingga makan satu mangkuk saja sudah kenyang. Ayamnya besar sekali bo, saya tidak habis memakannya.

Samgyetang

Samgyetang

Selain ketiga macam makanan di atas, saya juga mencoba bulgogi, yaitu semacam yakiniku pada masakan Jepang. Terakhir, di bawah ini semacam martabak telur kalau di Aceh, tapi dicampur dengan sayuran. Apa namanya ya, lupa, tetapi agak asin.

Martabak telur

Martabak telur

Karena tidak terlalu menikmati makan di Korea, tiba di penginapan saya mengeluarkan makanan pamungkas yang saya bawa dari Indonesia, apalagi kalau bukan pop mie dan bubur ayam instan. Kayaknya ke mana saja ke seluruh dunia orang Indonesia banyak yang membawa mie instan jika patah selera di negeri orang, termasuk saya, he..he.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Berkunjung ke Korea (Bagian 3): Susah Makan di Korea

  1. nate berkata:

    kayaknya saya juga akan mengalami kejadian yg sama Pak.
    dulu pernah kluar negri bareng teman malah bawa rice cooker. hehe.
    *foto pembuat kimcinya menarik😀

  2. dianeaninditya berkata:

    wah ternyata kimchi bisa dibuat secara instant juga ya, kira-kira malah pastinya ya tuh mesinnya.. oh ia kalo suka sama kuliner Korea ngak ada salahnya jika berkunjung ke fanpage : Korea Tourism Organization Indonesia aja soalnya setiap minggu tuh suka posting makanan. & satu lagi di Korea juga sekarang udah banyak restoran khusus buta umat muslim kok ^^

  3. helenvalent berkata:

    oiya…sedikit ralat…untuk foto yg disebut mesin/barang elektronik pembuat kimchi, itu kurang tepat. Krn itu adalah lemari es khusus menyimpan kimchi (Hanya menyimpan..). Biasanya warga asli korea mempunyai 2 lemari es…satu untuk menyimpan macam2 makanan..satunya lagi hanya untuk menyimpan kimchi (zaman dulu disimpan di kuali2 besar tanah liat…). Kimchi disimpan dalam keadaan dingin…bila ditaruh suhu ruang/hangat…rasanya makin asam.

  4. denik berkata:

    wah enaknya bisa jalan jalan ke sana..

  5. chenmut berkata:

    unnie mau tanya,waktu disana unnie makan nya 3 kali sehari alias teratur gak? hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s