Dari Bakso Tikus Hingga Bakso Babi

Pada tahun 2006 yang lalu masyarakat di negara kita pernah dihebohkan dengan bakso tikus (baca tulisan saya terdahulu: Formalin dan Baso Tikus). Sebegitu hebohnya kala itu sehingga selama beberapa waktu penyuka bakso berhenti makan bakso karena merasa jijik dengan bakso dari daging tikus. Efeknya ternyata berantai, para pedagang bakso mengalami masa suram karena dagangan mereka tidak laku. Padahal yang menjual bakso dari daging tikus itu hanya segelintir pedagang, tetapi semua pedagang bakso terkena efeknya.

Kejadian yang serupa terulang lagi, tetapi sekarang baksonya dari daging babi atau campuran daging sapi dengan daging babi. Menyiasati harga daging sapi yang melambung tinggi, produsen bakso berbuat nakal dengan memproduksi bakso yang menggunakan campuran daging babi.

Kata “babi” sangat sensitif bagi orang Islam, sebab daging babi hukumnya haram dimakan. Karena mayoritas orang Indonesia beragama Islam, yang berarti mayoritas penikmat bakso adalah orang Islam, maka tak pelak berita bakso yang terbuat dari daging babi membuat masyarakat resah. Seperti efek bakso tikus, maka dagangan bakso kembali dijauhi orang karena khawatir baksonya terbuat dari daging babi.

Saya tidak akan membahas tentang bakso babi ini. Saya pikir ini tidak hanya kesalahan segelintir produsen bakso, tetapi juga kelalaian Pemerintah dalam menjaga pasokan daging sapi sehingga ada produsen yang tega mencari untung dengan menghalalkan segala cara.

Saya akan membahas mengapa daging babi itu diharamkan di dalam Islam. Al-Quran dengan sangat jelas menyebutkan larangan memakan daging babi. Ayat yang mengharamkan memakan daging babi antara lain terdapat di dalam Surat Al Baqarah ayat 173:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, darah, daging babi dan binatang-binatang yang disembelih tidak kerana Allah, maka sesiapa yang terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (Q.S.2:173)

Ayat-ayat lain yang mengharamkan daging babi dapat dibaca di dalam Surat Al Maa’idah (5) : 3, Al An `Aam (6) : 145, dan An Nahl (16) : 115.

Tidak ada penjelasan lebih rinci di dalam Al-Quran mengapa Allah mengharankan daging babi. Ketika saya kecil, guru agama saya menjelaskan mengapa daging babi diharamkan, dan semua alasan ditinjau dari sudut medis. Antara lain dikatakan oleh guru saya karena babi itu hewan yang kotor, di dalam tubuhnya terdapat cacing pita yang jika termakan oleh manusia dapat menimbulkan penyakit pada liver. Lebih lanjut tinjauan babi diharamkan dari sudut medis dapat dibaca pada tulisan ini dan ini.

Tetapi, argumentasi tentang kebersihan dan cacing pita itu saya pikir tidak cukup kuat dan kurang relevan lagi pada zaman modern ini. Kenyataannya saat ini babi sudah diternakkan secara modern, makanan dan kebersihannya terjaga, sehingga citra babi sebagai hewan kotor tentu bisa dipatahkan oleh kelompok yang menghalalkan daging babi. Begitu juga teknologi pengolahan makanan dari daging babi, teknik memasaknya sudah maju sedemikan rupa sehingga telur dan cacing pita di dalamnya dagingnya (kalau ada) pasti akan mati. Nyatanya banyak orang non-muslim yang biasa makan babi toh tetap sehat-sehat saja.

Kita manusia hanya dapat menduga-duga saja dengan menalar menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberi argumentasi logis (terutama dari sudut medis) mengapa daging babi haram dikonsumsi. Tentu saja cara menalar kita seperti itu sah-sah saja dan saya pikir tidak salah, sebab manusia memang diberi akal dan pikiran untuk menerjemahkan ayat-ayat qauniyah, termasuk untuk memahami mengapa Allah mengharamkan daging babi. Namun, ilmu manusia itu sangat terbatas dalam menerjemahkan Firman Tuhan. Hanya Allah sendiri yang tahu persis alasan mengapa daging babi Dia haramkan.

Saya punya pandangan agak berbeda mengapa memakan daging babi diharamkan, tetapi tidak dari sudut pandang medis. Saya mengambil analogi babi dengan buah khuldi pada kisah Adam dan Hawa yang melanggar larangan Tuhan. Ingatkah anda dengan kisah Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa yang terusir dari syurga gara-gara memakan buah khuldi? Allah membolehkan Adam dan Hawa memakan buah apa saja di dalam surga, kecuali satu, yaitu buah khuldi.

“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini (khuldi), yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS Al-Baqarah [2]: 35).

Namun, setan (Iblis) selalu membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi itu, sebab menurut Iblis memakan buah khuldi itu dapat membuat Adam dan Hawa kekal di syurga:

“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS Thaha [20]: 120)

Akhirnya Adam dan Hawa pun tergoda, mereka memakan buah khuldi itu, dan sebagai hukumannya Allah SWT mengusir mereka dari syurga:

“Maka keduanya memakan buah tersebut, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia.” (QS Thaha [20]: 121)

Jadi, buah khuldi itu adalah simbol kepatuhan Nabi Adam dan Siti Hawa kepada Allah SWT. Dia menjadikan buah khuldi itu sebagai ujian bagi keduanya, apakah mereka mematuhinjya atau tergoda mencicipinya.

Seperti buah khuldi, daging babi itu juga simbol kepatuhan kita terhadap Allah SWT. Maksudnya, dengan menyebutkan daging babi itu haram, Allah ingin menguji kepatuhan kita, apakah kita mau menaati larangan-Nya itu? Allah ingin tahu siapa dari para hamba-Nya yang mematuhi larangannya memakan daging babi.

Wallahu alam bissawab, hanya Allah yang Maha Tahu, sedangkan saya adalah makhluk yang dhaif.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Dari Bakso Tikus Hingga Bakso Babi

  1. dhwan berkata:

    sebenarnya urusan mengharamkan atau menghalalkan sesuatu untuk dimakan itu hak ALLAH SWT saja. perkara disana ada mudharat atau manfaat itu urusan lain. dan bila ada itulah hikmah rahasia ALLAH. Jadi pertanyaan mengapa babi itu haram, karena ditentukan ALLAH. bukan karena ada cacing pita dsb, baru ALLAH mengharamkan

  2. nate berkata:

    baru pertama kali membaca tulisan mengenai keharaman babi yang lebih ‘terbuka’. saya sangat menghormati/menghargai pendapat bapak menganalogikan babi sebagai buah kuldi. *demikian dengan komentar sebelumnya.
    salut!🙂

  3. rizal berkata:

    Ayat tadi tidak mengharamkan daging anjing ya mas?

    • rinaldimunir berkata:

      Benar, tetapi jangan lupa bahwa pedoman hukum Islam tidak hanya Al-Quran, tetapi juga hadis Nabi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw bersabda : “Setiap binatang buas yang mempunyai gigi taring adalah haram dimakan.” (HR Muslim) . Nah, karena anjing termasuk binatang buas yang mempunyai gigi taring, maka anjing hukumnya haram dimakan, termasuk di dalamnya semua bangsa kucing (kucing, harimau, singa, serigala, dll), beruang, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s