Aceng

Gara-gara perilaku Bupati Garut, Aceng Fikri, orang-orang Garut di perantauan terkena imbasnya. Jika mereka ditanya asalnya darimana dan dijawab dari Garut, maka orang-orang langsung tertawa dan mengatakan: Aceng ya? Seolah-olah semua orang Garut kelakuannya seperti Aceng Fikri, padahal tentu saja tidak benar demikian. Orang seperti Aceng Fikri yang memanfaatkan kekuasaan (baca: uang) untuk berbuat semaunya (termasuk urusan seksual, maaf) tentu ada di mana-mana, tidak hanya di Garut. Pejabat yang kawin siri, nikah diam-diam, punya simpanan WIL, sudah tidak terhitung jumlah kasusnya di tanah air kita.

Dalam bahasa Sunda, “Aceng” artinya anak laki-laki. Bukan salah orang Sunda memberi nama Aceng kepada anaknya. Nama Aceng tentu mempunyai makna kebahagiaan, sebab ia mungkin anak laki-laki pertama di dalam keluarga Sunda sehingga diberi nama Aceng. Saya punya mahasiswa asal Garut yang namanya juga Aceng, tetapi sikapnya santun seperti tipikal orang Sunda umumnya, baik, dan sopan. Ketika Aceng Fikri menjadi sorotan nasional dan nama Aceng menjadi tiba-tiba menjadi guyonan orang-orang, saya merasakan mahasiswa saya yang bernama Aceng itu ikut tertunduk malu, seolah-olah dia memikul beban karena menyandang nama Aceng, seolah-olah semua orang Garut mempunyai perilaku seperti Aceng Fikri. Ibarat nila setitik, rusak susu sebelanga, begitu kata peribahasa untuk menggambarkan masyarakat Garut sekarang ini.

DPRD Garut sudah membuat keputusan untuk melengserkan Aceng Fikri. Sekarang semua orang menunggu keputusan MA untuk menelaah keputusan DPRD, sebelum akhirnya Pemerintah (dalam hal ini Mendagri) memberhentikan Aceng Fikri sebagai Bupati Garut.

Namun, Aceng Fikri tidak tinggal diam. Dia melakukan perlawanan dengan mem-PTUN-kan keputusan DPRD itu. Aceng Fikri tetap merasa tidak bersalah karena menikah siri dengan Fani Oktora dan menceraikannya 4 hari kemudian via SMS. Alasan yang selalu dikemukakannya adalah bahwa apa yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan syariat agama Islam, jadi dia merasa tidak ada yang dilangar. Tentu saja yang dikatakannya tidak salah, sebab nikah dan talak yang dia lakukan memang secara hukum agama tidak ada yang dilanggar, meskipun cara dia memperlakukannya istrinya itu (cerai setelah 4 hari menikah, via SMS lagi) secara etika agama tidak dapat dibenarkan, apalagi secara etika umum juga tidak pantas karena dia memperlakukan perempuan sebagai barang, jika tidak puas lalu dicampakkan begitu saja.

Aceng Fikri boleh saja berlindung pada agama untuk membenarkan perbuatannya, namun Aceng Fikri lupa bahwa negara kita bukan negara agama, di negara kita juga berlaku hukum positif seperti UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak. Dalam UU itu perkawinan harus dicatat secara resmi, dan sebagai pejabat publik seharusnya dia memberi contoh teladan dengan mematuhi UU itu. Menurut UU Perlindungan Anak dia juga melanggar karena menikahi Fani yang belum genap berumur 18 tahun (di Indonesia definsi anak di bawah umur adalah berusia di bawah 18 tahun).

Sebenarnya solusi untuk masalah ini sederhana saja agar tidak berlarut-larut. Aceng Fikri sebaiknya mundur saja sebagai Bupati Garut, sebab secara moral dia sudah tercoreng, pun masyarakat Garut sudah tidak mempercayai lagi integritasnya. Bagaimana dia bisa bekerja menjalankan tugasnya jika bawahannya tidak respek kepadanya. Mungkin para bawahannya akan terpaksa belaku hormat supaya tidak dipecat, tetapi di dalam hati mereka sudah tidak respek lagi kepada Bupatinya. Cepat atau lambat dia pasti akan dilengserkan juga. Jika dia terus bertahan sebagai Bupati, maka Garut akan terus dilanda instabilitas sebab masyarakatnya akan selalu berdemo menuntut bupatinya mundur.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Aceng

  1. Salim berkata:

    :D
    insya Allah sy tetap bangga menggelari nama “Aceng” Pak. itu pemberian kakek!
    kata orang yg “berpengalaman” kasih sayang kakek itu bisa lebih besar drpada orang tuanya! di garut biasa dipanggil Aceng di rantau biasa dipanggil Salim! biar lengkap sudah namanya Aceng Salim :)

    Mohon du’anya dr Bapak! kelak bisa memberikan perubahan baik utk garut tercinta

    • lia berkata:

      sip
      buat aceng salim, nama emang boleh sama tapi karakter jelas beda
      setidaknya,waktu baca komen kmu, aq ngeliat suatu konsep diri yang di sebut self ideal, yaitu penghargaan diri sendiri. believe u’r self
      cemunguddh

  2. Arahman berkata:

    Nauzubillah himindzalik,..aceng fikri adalah simbol tanda kiamat’ seperti dikutip dalam hadist bukhari dan muslim: kiamat akan terjadi bila menyerahkan amanat atau tanggung jawab bukan pada ahlinya” . Saya malu sebagai warga provinsi mempunyai pemimpin seperti itu. Pecat segera!!

  3. Ping-balik: PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s