Fenomena “Silverman” di Perempatan Jalan Kota Bandung

Beberapa bulan belakangan ini warga kota Bandung sering melihat orang-orang berwarna perak (silverman) mencari sumbangan di perempatan jalan. Seluruh tubuh mereka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, dicat dengan cat semprot warna perak (silver), hanya mata saja yang tersisa berwarna hitam. Mereka hanya menggunakan celana pendek saja, sehingga tubuh mereka yang kurus tampak terlihat dengan jelas tulang dadanya yang menonjol.

Manusa perak di perempatan jalan.

Manusa perak di perempatan jalan.

Manusia perak itu membawa sebuah kotak sumbangan dari kardus bekas yang bertuliskan “Peduli Yatim Piatu”. Kotak kardus itu juga ikut dicat perak. Mereka bergerilya di perempatan jalan untuk “mengemis” kepada para pengguna jalan –yang katanya– uang itu untuk disumbangkan kepada anak yatim piatu. Mungkin dengan tampil berwarna perak itu mereka berharap menarik perhatian orang-orang.

Manusia perak sedang menunggu lampu berwarna merah.

Manusia perak sedang menunggu lampu berwarna merah.

(Kedua foto di atas diambil dari akun fesbuk Abdul Wahid Abdullah)

Pada mulanya jumlah manusia perak ini sedikit. Pertama kali saya menemukan mereka di Jalan Dago, tetapi sekarang jumlahnya semakin banyak saja. Sepertinya ada pihak yang mengkoordinir mereka, sebab saya pernah melihat mereka dibawa oleh sebuah mobil bak terbuka, mungkin diturunkan di beberapa perempatan jalan strategis di kota Bandung.

Kalau saya amati, sangat jarang pengguna jalan (pengemudi mobil atau motor) melemparkan uang ke dalam kardus itu. Mungkin banyak pengguna jalan meragukan kebenarannya. Apa betul uang yang dikumpulkan mereka itu untuk disumbangkan kepada panti asuhan atau anak yatim piatu? Kalau iya, panti asuhan mana? Di kardus bekas itu tidak ada (atau ada tetapi tidak terbaca dengan jelas?) tulisan nama lembaga atau panti asuhan yang meminta sumbangan. Saya juga tidak tahu siapa atau lembaga apa yang mengkoordinir para silverman ini.

Saya tidak habis pikir dengan manusia perak itu. Mereka rela dicat seluruh tubuhnya dengan cat semprot lalu berpanas-panas ria di tengah jalan dari pagi sampai sore. Saya pikir “pengorbanan” mereka itu tidak gratis, mungkin mereka mendapat bayaran atu komisi dari uang yang berhasil dikumpulkan sehingga mau “mengemis” dengan cara begitu.

Saya tidak tahu apakah ini cara mengemis model baru. Kalau untuk mengumpulkan sumbangan buat yatim piatu tentu ada cara yang lebih pantas, bukan dengan meminta-minta seperti itu. Di toko-toko swalayan sering kita temui kotak amal dari lembaga yatim, masjid, atau panti asuhan. Jelas lagi dari lembaga mana yang mengedarkan kotak amal itu. Nah, kalau yang model begini saya kira lebih pantas daripada mdoel silverman yang berkeliaran di jalan-jalan. Kalau memang ebnar para silverman itu disuruh oleh lembaga yatim piatu tertentu, saya sangat menyayangkan cara mencari sumbangan yang tidak simpatik seperti ini.

Namun, Satpol PP di kota Bandung menganggap para silverman ini merusak keindahan dan kenyamanan kota. Dua minggu lalu dalam suatu operasi razia, para pengemis, pengamen, dan silverman ini terjaring operasi razia dan diangkut oleh Satpol PP dengan mobil bak terbuka, entah kemana.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

6 Balasan ke Fenomena “Silverman” di Perempatan Jalan Kota Bandung

  1. Dian Jauhari berkata:

    Kang, boleh saya share tulisan akang di FB saya? Saya juga heran sama Silverman ini..

  2. aditmawar berkata:

    Silverman? Denger cerita sih mereka sudah terorganisir.
    Mereka setor upah harian $50.000 ke preman.
    Biaya tersebut untuk biaya cat, tempat meminta, dan lain-lain.
    Sisa yang dihasilkan minus biaya setoran buat mereka, kalau belum ada yang nunggak.
    Intinya tidak ada yang masuk ke kotak yatim piatu.

    Sumber: Supir saya yang melihat sendiri saat salah satu Silverman lagi diminta setoran dan diceritakan oleh juru parkir yang sudah bertanya langsung ke Silverman itu sendiri.

    Yang kaya begini seharusnya diperiksa lebih lanjut oleh pihak berwajib untuk kebenaran jalur sumbangan.

    Masyarakat yang ingin menyumbang sebaiknya langsung datang saja ke panti asuhan terdekat, memberi makan/sumabgan ke para pemulung atau tukang sampah yang lebih jelas berjasa.

  3. Yustian Shofiandi berkata:

    dalam link ini dijelaskan mereka berorganisasi dan berbekal akta notaris, tapi kurang tau faktanya
    http://news.detik.com/bandung/read/2013/04/02/140406/2209342/486/pengemis-peduli-berdandan-silverman-kepung-bandung?g991101485

  4. Ping balik: Larangan Memberi Uang kepada Pengemis dan Kesempatan Bersedekah | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s