“Ngangkang Style” yang Membuat Heboh Dunia

Dua minggu ini berita di media diisi dengan pro kontra tentang seruan larangan duduk ngangkang (diplesetkan di jagad maya sebagai “ngangkang style”, meminjam istilah Gangnam Style yang populer) yang dikeluarkan oleh Pemkot Lhokseumawe, Aceh. Larangan duduk ngangkang itu diberlakukan bagi para perempuan yang duduk membonceng di atas sadel sepeda motor, baik dengan mahram, bukan mahram, atau sesama perempuan, kecuali dalam keadaan darurat (baca ini).

Bagi para perempuan di Lhokseumawe, aturan duduk di atas motor yang dibolehkan adalah duduk menyamping, seperti yang lazim kita lihat pada perempuan yang memakai rok atau kain.

Sontak seruan larangan duduk ngangkang itu menjadi pembicaraan di mana-mana, bahkan media di luar negeri pun ikut membahasnya. Pro dan kontra berseliweran di jagad maya maupun dalam dunia nyata. Kelompok yang kontra menilai larangan ini mendiskriminasikan perempuan. Sebagian orang menilai duduk menyamping di atas motor justru tidak aman karena membuat motor menjadi tidak seimbang. Sedangkan kelompok yang mendukung menilai larangan duduk ngangkang itu dari sudut kesopanan, bahwa duduk menyamping di atas motor bertujuan untuk mengembalikan marwah orang Aceh. Pihak yang kontra menilai Pemkot Lhokseumawe kurang kerjaan saja karena mengurusi hal-hal yang tidak urgen, masih banyak masalah penting yang harus diselesaikan daripada mengurusi urusan cara duduk perempuan, begitu kata mereka.

Hmmm… apakah dudduk menyamping di atas motor itu berbahaya? Kalau menurut hipotesis jelas berbahaya karena, seperti yang disebutkan di atas, duduk ngangkang membuat kedudukan motor tidak seimbang, apalagi jika sang perempuan adalah seorang ibu yang menggendong bayi. Tapi, itu semua kan baru hipotesis, belum ada data statistik yang memperlihatkan berapa banyak penumpang yang duduk menyamping menjadi korban kecelakaan. Malah justru lebih banyak penumpang yang duduk ngangkang menjadi korban kecelakaan.

Lagian, duduk menyamping sudah dilakukan para perempuan sejak zaman dulu karena terkait kesopanan, tidak hanya di Aceh saja. Ibu-ibu di Jawa yang memakai kain tentu duduk menyamping, begitu juga perempuan yang memakai rok juga duduk menyamping. Bahkan, dengan perubahan zaman, masih banyak perempuan yang tetap duduk menyamping meskipun memakai celana panjang. Masalahnya ya itu tadi, budaya dan kesopanan. Sebagian perempuan tetap merasa risih duduk di atas motor dengan cara mengangkang.

Jadi, duduk menyamping di atas motor sudah menjadi kebiasaan sebagian perempuan Indonesia sejak dulu, tetapi sekarang dipermasalahkan karena berupa seruan larangan dari sebuah Pemda. Saya berpikir positif saja, saya pikir tentu Pemkot Lhokseumawe mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka mengeluarkan duduk ngangkang style tersebut. Mungkin modernisasi telah banyak menggerogoti budaya orang Aceh, misalnya pergaulan muda-mudinya yang kelewat bebas, cara berpakaian yang memperlihatkan aurat atau lekuk tubuh. Masih ingat kan beberapa waktu lalu Pemda Aceh Barat mengeluarkan larangan memakai celana jeans bagi perempuan. Oleh karena itu, larangan duduk ngangkang itu mungkin mewakili kegelisahan banyak orang Aceh melihat kondisi msayarakatnya yang jauh dari budaya Islami.

Aceh memang menerapkan satu-satunya hukum Syariat Islam di daerahnya, dan sebagian pihak yang kontra mereduksi larangan duduk ngangkang itu sebagai syariat agama. Menurut pendapat saya, dan juga pendapat para ulama yang saya baca di media, larangan duduk ngangkang itu bukanlah bagian dari syariat Islam. Tidak ada hadis ataupun ayat Al-quran yang menyebut soal boleh tidaknya duduk ngangkang. Menurut pendapat saya masalah duduk ngangkang adalah masalah adat, budaya, dan kebiasaan penduduk setempat. Di Bandung para siswi SMA yang memakai rok sering saya lihat duduk ngangkang dibonceng teman cowoknya. Kalau saya pribadi risih melihatnya, tetapi bagi orang Bandung duduk ngangkang itu tidak dipermasalahkan. Jadi, duduk ngangkang tidak sopan bagi penduduk suatu wilayah namun biasa-biasa saja bagi wilayah lain.

Saya tidak mendukung dan juga tidak menolak larangan ngangkang style itu. Saya berpandangan seruan larangan duduk ngangkang itu terkait dengan kearifan lokal suatu wilayah, termasuk di Lhokseumawe itu. Jadi, saya kira sah-sah saja mereka mengeluarkan aturan untuk warganya sendiri, dan kita sebagai bukan orang yang tinggal di sana tidak perlu sewot segala. Orang Aceh sendiri tidak ribut (kalau pun ada, jumlahnya saya kira tidak seberapa), eh kenapa orang luar Aceh yang blingsatan? Apa hak mereka mengatur orang Aceh sementara mereka tidak tinggal di Aceh? Marilah kita hargai apa pendapat orang Aceh, mereka yang lebih tahu apa yang baik buat masyarakatnya.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan larangan ngangkang style, menurut hemat saya yang harus diperhatikan justru busana orang yang duduk di atas motor daripada cara duduknya. Duduk ngangkang tetap lebih aman daripada duduk menyamping namun sebaiknya memperhatikan pakaian yang dikenakan. Jangan duduk di atas motor dengan memakai rok namun tetap memaksakan duduk mengangkang. Dalam pandangan saya perempuan yang memakai rok, apalagi rok pendek selutut, tapi duduk mengangkang tetap saja kurang sopan, seperti “menantang” lelaki di depannya, gitu.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke “Ngangkang Style” yang Membuat Heboh Dunia

  1. Zainum bin Hamad berkata:

    aslkum, kalau di Malaysia duduk menyamping di atas Motorsikal ini memang di amalkan masa dulu dulu..tetapi sekarang ini tidak ada lagi lah…kalau ada pun menunggang motor dalam keadaan santai itu pun di kampung kampung…kalau di bawa motor dalam kelajuan tinggi bagaimana mungkin duduk menyamping…

  2. ikhwanalim berkata:

    saya lebih khawatir soal keamanan, pak. pengalaman saya sebagai yg membonceng perempuan yang duduk menyamping, rasanya lebih tidak aman ketimbang memboncengnya dengan dia menghadap ke depan.
    wallahu a’lam, mudah-mudahan Pemda Lhokseumawe sudah mempertimbangkan sisi keamanan tersebut

  3. REZA ARIZA berkata:

    saya lebih memandang dari 2 sisi,yg pertama keamanan,kedua UU.kepada pak walikota pikir dulu deh masalah keamanannya,,bapak enak naik mobil,nah yang nggak punya mobil gmna dong….trus yg kedua masalah UU secara langsung pak walkot sudah mengenyampingkan UU no.22 tahun 2009 tentang lalu lintas,,duduk samping bagi perempuan diatas sepeda motor hanya kebijakan konyol,,knpa pak walkot tidak menutup tempat karoekean yang sudah menjadi rahasia umum dengan perbuatan maksiatnya pak walkot dan kaca reben mobil kenapa gak bapak larang,,,coba deh pa dilihat dari segala penjuru,apakah kaum wanita diatas sepeda motor dengan posisi duduk ngangkang itu sangat di haramkan sehingga keluar kebijakan dari bapak (NGANGKANG STYLE) ????????????????

  4. Andrian berkata:

    “yang harus diperhatikan justru busana orang yang duduk di atas motor daripada cara duduknya.” karena menurut saya dalam menentukan aturan ini faktor keamanan yang harusnya jadi pertimbangan, setuju sama pendapat teman2 diatas.. dan soal susila.. ya masing2lah yang punya tanggung jawab sama di atas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s