Jadi Gitu Toh Film “Cinta Tapi Beda”? Pesan Moralnya Sangat Buruk!

Sutradara Hanung Brahmantyo sekali lagi membuat film yang menyulut kontroversi. Kali ini orang Minang yang merasa dilecehkan oleh film Cinta Tapi Beda (CTB) yang dibuatnya. Dalam film tersebut digambarkan percintaan sepasang manusia yang berbeda agama. Sayangnya Hanung mengambil setting yang tidak pas. Dalam film itu Diana digambarkan gadis asal Padang tetapi beragama Katolik dan menjalin pacaran dengan seorang pemuda muslim asal Yogya. Bukan kisah cinta beda agamanya yang menjadi masalah sebab realitanya hubungan berbeda keyakinan itu memang ada dan cukup banyak, tetapi kalau berujung ke pernikahan akan terbentur aturan. UU Perkawinan di negara kita tidak membolehkan pernikahan pasangan yang berbeda agama. Dalam agama Islam KUA tidak akan mau menikahkan, setahu saya dalam agama lain juga sama kecuali jika pasangan yang berbeda agama berpindah keyakinan terlebih dahulu.

Yang menjadi masalah dalam film CTB itu adalah penggambaran Diana gadis asal Padang yang beragama Katolik. Hanung boleh saja berkelit bahwa yang dia maksudkan adalah Diana dari kota Padang, bukan Diana gadis Minang. Di kota Padang kan tidak hanya orang Islam saja yang tinggal di sana, tetapi orang bermacam-macam suku dan agama, bahkan ateis, hidup di sana. Dalam hal ini Hanung benar, Padang adalah kota besar, di Padang banyak orang Cina, Nias, Batak, dan lain-lain yang hidup damai. Orang Padang tidak seluruhnya orang Minang itu betul, dan orang Padang tidak seluruhnya bergama Islam, itu juga betul.

Tetapi, sukar membantah kalau Diana itu bukan gadis Minang. Setting film yang menggmbarkan musik saluang, Jam Gadang, masjid tua, apakah itu bukan menggambarkan Diana adalah seorang Minang? Saya menduga Hanung ini menyangka Minang itu sama dengan Padang, orang Minang = orang Padang seperti simplifikasi orang luar selama ini terhadao suku Minangkabau. Bahwa Diana gadis Minang makin dipertegas secara tidak langsung oleh pernyataan Hanung di media ketika meluncurkan film CTB: “Yang menarik dari film ini adalah bukan tentang agama, tetapi tentang profesi chef dan penari, yang satu Jawa dan yang satu Padang, yang satu patrilineal dan satu lagi matrilineal. Beda dalam arti yang luas bukan hanya tentang agama.” tukas Hanung. Nah, suku apa di Indonesia yang menganut asas matrilineal? Hanya suku Minang, tidak ada yang lain.

Hmm… lalu apa yang salah kalau Diana gadis Padang (baca: Minang) beragama bukan Islam? Tidak ada yang salah kalau ada orang Minang yang tidak beragama Islam. Lalu, apakah tidak boleh orang Minang beragama bukan Islam? Itu boleh-boleh saja sebab negara kita menjamin kebebasan rakyatnya untuk memeluk suatu agama atau berpindah agama sesukanya. Kasus-kasus orang Minang berpindah keyakinan memang ada, dan kebanyakan kasus karena hubungan perkawinan. Teman saya waktu kuliah, seorang perempuan berjilbab, sekarang sudah tidak muslim lagi karena menikah dengan lelaki beragama lain. Bahkan adik Buya Hamka (yang berbeda ayah) adalah seorang pendeta dan adik K.H Agus Salim pun pindah keyakinan menjadi seorang non-muslim.

Namun, setelah seorang Minang keluar dari agama Islam, maka secara adat dan budaya dia tidak disebut orang Minang lagi. Begitulah falsafah Minangkabau yang berbunyi adat basandikan syarak dan syarak basandikan Kitabullah (ABS-SBK), yang artinya adat bersendikan pada syariat agama (Islam) dan syariat agama bersendikan pada Al-Quran. Semua orang Minang paham dengan falsafah ini. Adat dan agama sudah menyatu dalam kehidupan seorang Minang, sama halnya seperti adat dan agama Hindu yang menyatu pada orang Bali. Jadi, kalau orang Minang itu identik dengan orang Islam memang sudah ada dasarnya dan itu dipahami oleh orang Minang sejak dulu, dan jika orang Minang keluar dari Islam maka otomatis ABS-SBK itu terlepas dari dirinya dan ia tidak dianggap lagi orang Minang.

Jadi, dengan penggambaran Diana sebagai gadis Padang (Minang) yang beragama Katolik, jelas penggambaran itu melukai perasaan orang Minang. Ini yang tidak dipahami oleh Hanung dan produser film CTB. Mengapa Hanung tidak memilih setting Diana seorang gadis Manado atau gadis Batak atau suku lain yang memang tidak identik dengan agama Islam, yang tidak akan menghasilkan benturan nantinya? Atau, mengapa tidak menggambarkan Diana seorang gadis cina asal Padang dengan setting kawasan Pondok (kawasan pecinan di Padang)? Saya menduga pemilihan setting Minang did alam film CTB itu bukan suatu kebetulan, tetapi memang disengaja supaya terjadi benturan sebagaimana film-filmnya terdahulu yang terkesan melecehkan agama Islam (film Perempuan Berkalung Sorban dan film “?“). Kalau tidak ada benturan maka filmnya tidak heboh dan kalau tidak heboh maka tidak laku, dan nyatanya skenario itu berhasil untuk film CTB.

Masalah melukai perasaan orang Minang itu adalah satu hal, ada lagi masalah lain yang sangat buruk dalam film ini. Film tersebut sama sekali tidak mendidik generasi muda. Saya memang tidak menonton film ini (dan tidak akan mau menontonnya), tetapi membaca dari pengalaman orang yang sudah menontonnya, saya menyimpulkan pesan moral film ini sangat buruk. Di bawah ini adalah tweet Fahira Idris, putri pengusaha Minang dan mantan menteri Fahmi Idris, yang mengomentari film ini dari sudut edukasinya. Saya setuju dengan paparannya itu. Anda bisa membaca pada tautan ini: http://t.co/eDQetBwT


Baru saja nonton #ctb bersama Uda @iwanpiliang Uda @iwel_mc @irfan_zj @AngeliaQuw @vannypn @n0erhidayati @ZarIslam @gustisantana

#ctb 1. Tadinya saya kira Film CTB hanya menghina #Minangkabau tapi ternyata lebih dari itu..

#ctb 2. Film ini adlh Film Percintaan, salah satu message nya adlh : Menuhankan Cinta, tapi tidak Mencintai Tuhan…

#ctb 3. Banyak sekali Logika2 Dasar yg ditabrak.. Dan sy yakin bukan krn tidak disengaja.. Tapi krn DISENGAJA.. Pesanan !

#ctb 4. Bukan hanya #Minangkabau yg dihina di film ini, tapi juga etnis #Jawa – dan yg paling saya benci adlh Menghina #Islam

#ctb 5. Tidak ada urgensinya memakai #Minangkabau sbg latar belakang cerita yg sudah jelas2 ingin mengusung Pluralisme Yg Kebablasan!!

#ctb 6. Sy tau persis anda bukan orang bodoh! Film ini sangat menghina #Minangkabau dan #Islam !! Porsi hina etnis #Jawa hanya sedikit

#ctb 7. Sy bukan orang yg menolak pluralisme.. Sahabat sy banyak yg non muslim, tapi kami saling menghormati dan menghagai.. Saling SOPAN !

#ctb 8. Setiap hari kita sll mendengar keluhan ibu yg kerepotan menjaga anak2nya agar bisa tumbuh baik, beragama & juga mampu bertoleransi

#ctb 9. Tapi kalau kita semua lengah, anak2 kita bs di doktrin ke ajaran2 yg menyesatkan agama, dijejalkan dg Toleransi2 Pesanan!

#ctb 10. Dg Segala Hormat saya mau minta tolong sahabatku, Uda @iwanpiliang u/ membongkar, siapa yg mendanai film ini.

#ctb 11. Yg tinggal di Padang mmg bukan hanya yg beragama Islam saja, semua agama sampai yg atheis pun ada disana..

#ctb 12. Ngajarin orang/ anak2 bangsa u/ toleran boleh2 saja.. saya pun sll mengajarkan anak saya u/ toleransi.. Toleransi YANG BAIK & BENAR

#ctb 13. Diana Gadis Katolik Padang ini berpacaran dg Cahyo Muslim Jawa..

#ctb 14. Kalau Toleransi yg BAIK dan BENAR, ya harusnya benar2 dicontohkan yg baik dong.. Film ini ngajarin Toleransi yg memaksakan..

#ctb 15. Sangat jomplang perimbangan Toleransi di Film ini.. #Islam banyak di hina.. #Islam dipaksa hrs mengalah.. Diana Katolik yg dominan

#ctb 16. Kalau Diana mmg Gadis Katolik yg Toleran, dia tidak akan menyuruh Cayho memasakkan Babi Rica Rica, masakan keluarga mereka

#ctb 17. Kalau Diana Toleran, pd saat mengundang Cahyo secara Resmi ke rumah, kenapa harus dihidang kan 2 Masakan Babi.. ?????????????????

#ctb 18. Kalau saja saya Katolik, dan saya mau mengundang pacar saya ke rumah secara resmi, saya akan masakkan khusus makanan HALAL !!

#ctb 19. Walaupun tante nya masak juga yg non BABI, dg bilang bhw dimasak secara terpisah, tapi gambaran masak terpisahnya GAK ADA !!

#ctb 20. Pada saat Cahyo mengajak Diana ke Jogja u/ diperkenakan ke Ortu Cahyo, tadinya Diana sdh mau menanggalkan kalung salib nya, tetapi

#ctb 21. Tetapi Cahyo bilang : Gak usah dilepas Kalung Salib nya.. Islam itu Toleran kok.. <<=== Kalau Toleran, Copot dong SALIB nya!!

#ctb 22. Nabi #MuhammadSAW sll mengajarkan umatnya agar hormat kepada Orang Tua, terlebih lagi terhadap Ibu..

#ctb 23. Tapi di Film ini Cahyo seorang anak yg baik tetapi sangat berani terhadap Ibu dan Bapak nya.. Bentak, Marah.. Semua di balik2..

#ctb 24. Jadi mrk mau bilang bhw, kalau kamu punya kemauan, Maki tuh Ibu kamu.. Maki bapak kamu.. gak papa kok.. Islam boleh.. BEGITU ????

#ctb 25. Sorry to say.. tapi Film ini benar2 asli dibuat u/ Merusak Moral Anak Bangsa.. & Merendahkan #Islam !! Film ini sangat BURUK !!

#ctb 26. Saya bukan pmerhati film, bukan pbenci agama lain, tapi saya gak suka bila ada fihak yg lengah meloloskan pembenaran2 yg GAK BENAR

#ctb 27. Saya bukan pembenci pernikahan beda agama.. Bukan Urusan saya, & bukan area pembahasan saya sehari hari pula..

#ctb 28. Semua Agama setau saya melarang pernikahan agama, semua orang tua pasti akan berusaha mencoba u/ meminimalisir terjadinya hal tsb

#ctb 29. Tapi di flim ini message nya jelas, & msupport anak2 bangsa bahwa, sudahlah dobrak saja larangan agamamu. kamu pasti bisa.. GILA

#ctb 30. Tante Diana adlh Muslim menikah dg Om yg Katolik. Om blg : Semoga mereka mau mencontoh kita (nikah beda agama) <– APEUUU..??

#ctb 31. Cukup lah saya ceritakan film ini, bagi yg lain gak perlu lah nonton film ini di bioskop.. Menonton = Menguntungkan Mereka

#ctb 32. Cahyo membentak bapaknya, yg dia nilai menyindir Diana.. Cahyo blg ke Ibu, Harusnya Bapak bisa jadi contoh Toleransi bg kelg..

#ctb 33. Dlm film ini Diana sll mengajak makan Cahyo di rest non muslim, tidak pernah ada gambar Diana makan di rest yg biasa..

#ctb 34. Yg parahnya, pd saat Cahyo menolak makan di rest itu, Diana marah & bentak2, memaksa Cahyo u/ makan menu lain yg non Babi..

#ctb 35. Toleransi seperti itu kah yg kalian maksud?? Tolernsi macam apa itu??

#ctb 36. Pd saat petugas KUA menolak mengawinkan mereka krn beda agama, Diana memaksa Cahyo mengaku beragama Katolik.. Ampun deh..

#ctb 37. Ibu Cahyo nasehatin Bapak Cahyo yg agak keras menolak, bahasa nya sih halus, tapi kalimat nya baru pernah saya dengar.. yaitu :

#ctb 38. RESTU adlh hak nya ANAK.. Orang Tua WAJIB untuk memberikan nya.. <<=== ASLI BARU DENGER MALAM INI.. Ajaran Sesat !!

#ctb 39. Pd saat ada pasangan beda agama mau menikah, petugas KUA menolak, kalau mau kamu nikah ke GEREJA aja.. knp gak ke MESJID opsi nya?

#ctb 40. Kesimpulan nya adlh, film ini sangat2 tidak bagus, mengajarkan Toleransi yg Kebablasan.. Semoga semua pd sadar dan TOBAT

#ctb sekian..

Kadang kalau melihat TL nya orang2 yg berani mengungkapkan fakta, saya suka terkagum2 melihat keberanian mereka.. Kok bisa ya?

Profesi saya bukan pen-tweet fakta fakta selama ini.. Kadang saya punya perasaan gak enak, takut, dll sbg nya kalau mau ungkap fakta..

Tapi u/ #ctb saya harus berani menceritakan yg sebenarnya, mengungkapkan kesedihan saya yg sedalam2nya.. Bukan bermaksud fitnah..

Sy mengajak u/ slg mhormati & menjaga lah.. Mari kita bertoleransi kpd saudara2 kita yg beda agama/ nikah beda agama.. Tapi yg BAIK & BENAR

Membuat Film atas nama kebebasan ekspresi boleh boleh saja.. tapi jangan terlalu kasarlah dlm menDobrak Norma2 yg sudah ada..

Mohon maaf sebesarnya bila dlm tweet #ctb ini ada yg tlalu kasar.. Smg besok saya bisa Move On.. No More #ctb di TL saya..

Plural Tapi Beda…

Toleran Tapi Maksa…

Jadi, saya menduga film ini memang “pesanan” atau ada yang mensponsori. Saya menduga Hanung yang dekat dengan kelompok Islam liberal lebih memilih film yang menghasilkan benturan ketimbang edukasi. Dia berani mengambil jalan yang berbeda dengan membuat film-film yang underestimate terhadap Islam (baca tulisan Mustofa B. Nahrawardaya ini). Sekali lagi atas nama kebebasan berekspresi maka orang berdalih boleh membuat film apa saja dengan embel-embel tambahan: kalau tidak suka ya tidak usah nonton, gitu aja kok repot.

Ulasan lain tentang film CTB dari sudut pandang budayawan Minang dapat dibaca di sini: http://www.lenteratimur.com/ketika-minangkabau-merasa-terhina/

Pos ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

48 Balasan ke Jadi Gitu Toh Film “Cinta Tapi Beda”? Pesan Moralnya Sangat Buruk!

  1. kebawa emosi pak bacanya, astaghfirullah..

  2. Gil berkata:

    what is this..
    why did i even open this site in the first place?
    you’re in anger, dude. calm down.
    don’t let the evils take over you.

  3. aespe berkata:

    #IndonesiaTanpaJIL

  4. dhwan berkata:

    Kok Film Hanung acapkali mengundang kontroversi ya?

  5. Jessica ANGELA berkata:

    Orang-orang Indonesia perlu dilatih cara berfikirnya, jangan apa2 kok yang disalahin sutradaranya. open your mind..katanya toleransi, baru liat film gitu aja udah berkobar. kaum katolik sering dilecehkan lebih saja selalu DIAM kok

    • saladin berkata:

      dilecehkan dunia nyata buk?, lapor Polisi, aja, kalau tidak terima, ada undang2-nya kok,; tapi kalian melecehkan hal ini secara diam2, licik seperti ular, pengecut , menggunting dalam lipatan seperti film CTB itu,, di Padang itu selama ini aman dalam kerukunan beragama selama ini sebelum maupun sesudah kerusahan 1998, ini bukan agama yang kami persoalkan, toleran yang kalian minta sudah kebablasan, kalian sudah bermain api dengan suku Minang, adat dan budaya kami turun temurun, kalau Agama kami dilecehkan sudah dunia Internasional,didunia maya, coba deh sering googling indonesia faithfreedom dll banyak lagi, sekarang kamu bilang kamu dizalimi, tapi tidak memikirkan kenapa dan apa sebabnya?….

  6. paimin berkata:

    saya agak heran aja…klo mentri agama ngurusi semua agama…seharusnya KUA sbg kntor Urusan Agama seharusnya juga bisa menerima pernikahan smw agama…lha ini kantor urusan agama kok cm ngurusi satu agama…mending ganti aja jgn KUA sekalian ganti KUAI…trus ganti sekalian Indonesia jadi NII…klo udah pada diganti kan mlh santai gak usah ada film2 sindiran ky gini…

  7. brahmasta berkata:

    Bagus banget pak Rin ulasannya. Saya jadi bisa ngelihat dari sudut pandang orang Minang. Dan saya setuju sekali dengan tweet yang dikutip. Film harus mendidik. Sungguh isi film itu – seperti diungkapkan di semua tweet tersebut – nggak mendidik.

  8. saladin berkata:

    Dari semua scenario yang kita baca diatas sudah menyinggung banyak masalah seperti masalah kepercayaan, agama, tatanan adat dan , hubungan anak dengan orang tua , pada kultur setempat yang tidak mendidik untuk generasi muda yang dijalankan di daerah tsb.
    Apakah Hanung sebagai Sutradara CTB sudah mendalami dan memahami kode etik dan fungsi karya seni Film yang dibuatnya dalam menyampaikan pesan pada masyarakat sebagai hasil seni dan budaya, yang mempunyai fungsi dan manfaat yang luas dan besar baik dibidang sosial,ekonomi,maupun budaya dalam rangka menjaga dan mempertahankan keanekaragaman nilai-nilai dalam penyelanggaraan berbangsa dan bernegara..
    Apakah Hanung sebagai Sutradara CTB sudah mendalami dan memahami kode etik dan fungsi karya seni Film yang dibuatnya dalam menyampaikan pesan pada masyarakat sebagai hasil seni Film yang merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat dimana film itu sendiri ditayangkan. ……..
    Mereka harus sadar, Sutradara dan Aktor adalah anggota masyarakat jangan pula memberikan sesuatu yang menyinggung dan melukai hati masyarakat setempat,
    dengan karya seni-nya yang melukai hati orang banyak….

  9. hispano berkata:

    Saya Tdk akan menonton Film Ini , Benar-benar kerdil dan dangkal sekali pemahaman hanum ..terhadap adat istidat minang … yang mengaku orang minang sebaiknya tidak menonton film ini.

  10. shafira berkata:

    Bukannya tidak suka buatan INDONESIA, produksi FILMnya benar2 banyak yang kurang BERMUTU, (maaf bagi yang merasa tersinggung, I LOVE INDONESIA loh🙂 ) coba liat film Korea Dramanya dengan cerita ringan dan padat….sangat menyentuh…Film INDONESIA yang masuk kategori hanya THE RAID itupun disutradarai oleh orang asing

  11. paimin berkata:

    bagus bgt ni filmnya….sangat real kehidupan “toleransi” di indonesia

    • minang berkata:

      film yang mendeskreditkan,menghina dan menyinggung adat istiadat dan nilai2 agama Islam yang luhur, dibilang sangat bagus??hahha..asal anda tau saja..jauh sebelum reformasi, jauh sebelum islam liberal ada, masyarakat minang hidup sangat2 tentram dengan pemeluk agama lain, tapi tidak sekarang sejak hanung dan antek2 JIL merusak tatanan agama islam dan adat istiadat minang semuanya bergejolak, kami tidak akan membiarkan manusai2 sesat spt kalian menghancurkan islam dari dalam…BRAVO MINANG!!

  12. Whateverlah berkata:

    Islam selalu begitu ya. Selalu ingin dihormati, tapi gak merasa perlu menghormati. Selalu ingin ditoleransi, tetapi tidak merasa wajib untuk mentoleransi. Coba dibalik, kalo si cowok muslimnya yang maksa si cewek, pasti kalian2 pada suka ya…

    • Sureallist berkata:

      Kasih jempol buat komen di atas…

    • minang berkata:

      film yang mendeskreditkan,menghina dan menyinggung adat istiadat dan nilai2 agama Islam yang luhur, dibilang sangat bagus??hahha..asal anda tau saja..jauh sebelum reformasi, jauh sebelum islam liberal ada, masyarakat minang hidup sangat2 tentram dengan pemeluk agama lain, tapi tidak sekarang sejak hanung dan antek2 JIL merusak tatanan agama islam dan adat istiadat minang semuanya bergejolak, kami tidak akan membiarkan manusai2 sesat spt kalian menghancurkan islam dari dalam…BRAVO MINANG!!

    • anonymous berkata:

      jempol buat komen diatas. very like this comment *jempol banyak*

  13. Doraemon berkata:

    cuma bisa ngelus dada !! yg Katolik merasa dilecehkan, yg Muslim merasa dilecehkan. kapan selesainya kalo ky gini? melecehkan dan dilecehkan. Umat Muslim dan Kristiani selalu PERANG DINGIN !!! buat apa agama dibuat kalo hanya untuk jadi masalah? bukankah pada dasarnya semua agama itu baik? gak ada yg salah dengan agama yg ada, kalo salah ga mungkin diakui di negara kita kan??? hanya bisa berharap semua nantinya akan AKUR DUNIA AKHIRAT !!! AMIN

    • anonymous berkata:

      Setuju, karena TUHAN itu 1, seharusnya gak usah bawa2 agama. gak makna dan cuma orang bodoh yang selalu bawa2 agama. agama gak salah apa2, cuma umatnya aja yang terkadang memaknainya secara berlebihan atau salah.

    • Ulil Amri Elmaliki berkata:

      semua agama itu baik…(ada sambungannya loh) menurut pemeluknya masing2x..bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Minang=Islam, Nonmuslim bukan Minang.

  14. Rizki PM berkata:

    sebagai pemuda MINANG saya sedih melihat komentar orang2 yang tidak punya adat istiadat yang masih murni..
    mereka dibesarkan tanpa budaya, arahan dan tuntunan,,,
    semoga Allah SWT memberikan hidayah dan tuntunan kepada anda yang mencela
    hidup MINANG, Hidup ISLAM
    ALLAAHUAKBAR…

  15. aby berkata:

    saya seorang pemuda minang asli….. menururt saya terlalu bodh kalo ada yang berdebat di koment ini… bagi anda yang islam maupun tidak, ngapain berdebat di koment ini.. itu hanya akan membuat puas orang yang mensponsor film itu. tujuan mereka itu adalah embuat kekacauan antara kita umat beragama. kenapa sasarannya minangkabau?, karena disana masyakat hidup damai dengan perbedaan agama dan suku yang ada. orang minang sebelumnya sangat rukun sekali hidup dengan etnis dan suku apapun, bahkan atheis pun tidak merasa di usik hidup di tanah minang. olaeh karena itu mereka ingin merusak hubungan yang sangat akur tersebut dengan emcipyakan skenario seperti CTB tersebut yang menyinggung kedua belah pihak. harusnya kita ga usah berdebat bagi anda yang berbeda agama. kalau mau protes langsung ke yang membuatnya saja..

    • WILL.I.AM berkata:

      MAS ABY MEMBERIKAN KOMENTAR YANG BAIK,
      TAPI SADAR GAK ANDA GA ADA BEDANYA SAMA YG DIATAS SMUA??
      ANDA UDAH BERPRASANGKA SAMA SEPERTI MREKA
      JD APA BEDANYA?

  16. WILL.I.AM berkata:

    ahahah
    WOW HEBAT SEKALI KECINTAAN ORANG KEPADA AGAMA DAN ADAT ISTIADAT NYA,
    INILAH INDONESIA
    HEBAT SEKALI!!
    SMOGA KELAK INDONESIA SEMAKIN TERDEPAN MEMBERIKAN KOMENTAR!! (Y)

  17. LUAN OLIVEIRA berkata:

    ini hanya sebuah film ! kemana alur cerita,karakter,plot,setting,dll semua terserah oleh si pembuatnya..kita cuma sit and enjoy the movie. kalau mau film yang mengangkat tema yang semau ente,mending ente bikin film sendiri,suka suka ente mau dibikin gimana,ya kan??

  18. Taufik Lone berkata:

    Hanung memang cerdas, bahkan saat nge-les pun cerdasnya makin keliatan,🙂, yang di hebohkan bukan masalah nikah beda agama atau cinta beda agama,,,, Habib Salim Assegaff itu bukan orang Minangkabau lho, jadi beliau gak merasakan apa yang dirasakan orang Minangkabau, lagian kenapa Hanung milih daerah Minangkabau, kenapa gak Aceh, atau Madura atau daerah lainnya?,,,,🙂 , Film adalah karya seni, seni adalah bagian dari budaya, dan budaya adalah bagian dari RAS/Ethnic,,,,🙂 rumus ini masih berlaku gak seeh,,,,,🙂

  19. peace!!! berkata:

    semua terserah pribadi masing2, kembali ke diri kita sendiri,
    perbaikin diri sendiri,, 🙂

  20. kasihan berkata:

    orang kok bisanya komentar aja…bwt film sendiri aja kalian…pikiran cetek

  21. Pluralis lakum dinukum waliadin berkata:

    Meskipun saya belum bisa bikin film kaya hanung dan belum bisa produksi film kaya panjobi, tapi saya yakin tuh 2 orang emang cari kontroversi (kesian mas/mbak, mereka cari duit dengan cara bikin kontroversi, kita harusnya iba terhadap mereka). saya sebagai orang muslim etnis jawa kadang tersinggung kadang kudu ngakak soalnya bahasan agama/ adat yang dibawa di film itu sangat dangkal<—–sesuai dengan tingkat pengetahuan produser dan sutradara film kali ya:D . walaupun saya ini itungannya moderat semi liberal, tapi perkara keyakinan semua punya pegangan sendiri2. Bener itu orang minang emang ASBAK=Maksud saya ASB-SBK<——–sedikit guyonan biar ngga kaku2:D…….. Asmirandah mana Asmirandah…………………

  22. Tutu Edogawa berkata:

    Apa cuma gw yg bilang kalo padang (minang) sama manado itu beda ?

    Diana itu orang keturunan manado bray,.. Nonton filmnya dengan saksama,..

    • Edi berkata:

      iya bro.. saya juga bingung.. kok sampai ada komunitas orang Minang yg mempermasalahkan ini?

      padahal Diana itu asli orang tuany Manado dua2nya cuman sudah tinggal di Padang dari kecil

  23. denisa berkata:

    apresiasi yg cantik buat penulis dan para komentatornya🙂
    dari berbagai segi, penilaian seseorang tentang karya orang lain itu tidak ada yg salah karena karya seni film yg bagian kecil dari sastra itu sifatnya sangat luas.🙂
    salah atau benar pemikiran sutradara dlm karyanya ini, tergantung seberapa luas kemampuan kita masing2 dalam menilai. ada yg menilai dr segi agama saja, ada yg dri budaya sja, ada yg dari segi mnghiburnya saja, ada pula yg lbh luas menilai, beda2 kan?🙂
    sastra itu bebas berekspresi dan bebas pula kita mengapresiasi.🙂

  24. kuncoro berkata:

    please deh gue islam dan lahir di padang,tapi masalah gini bikin kita keliatan egois dan malu – maluin.
    kita cuma mikirin perasaan kita,bikin felem2x macem orang kristen mualaf di felem2x ramadan,orng konghucu mualaf mantap dengan budaya cina,ato orang hindu pindah ke islam dsb.tapi ga pernah tuh mereka protes,demo,sampe mencekal film.lah sekarang sekali aja dibikin film gini ( yang mana buat saya sih biasa biasa aja baik agama maupun adat istiadatnya )

    kita idup di mana sih?negara islam?bukan kita di pancasila.
    menganggu akidah umat muslim?akidah yang mana?umat muslim yang mana?
    pertanyaannya dibalik itu felem2x mualaf menganggu akidah umat mereka ga?
    ato prinsip “sebodo sama umat lain,tapi kalo kita ga boleh,tapi kita boleh bikin film kayak gini tentang umat lain?”

    pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

  25. amar berkata:

    Masa si ga ada yg sadar kalo di balik kisah cinta yg menonjol di film ini ada sebuah kritik satir yang justru ditujukan untuk “orang2 yg melakukan kritik baik dari segi keagamaan maupun budaya”. Itu sebabnya hanung mengangkat latar dari 2 daerah yang sebenarnya ingin hanung kritik dengan tidak secara langsung mengenai “pluralisme”nya. Ini cerdas loh. Semua cuma bisa ngeliat tampilan menonjol dari film ini. Padahal isi sesungguhnya lebih kritis, dan cuma sebagian yg mengerti. Ini saya katakan bahwa “Semakin banyak yg memprotes atau mengkritik film ini dari segi agama ataupun budaya, maka semakin terbukti juga bahwa hal yg coba dikritik hanung lewat filmnya memang benar adanya”. Bahwa etnis, agama, maupun semua hal yg berkaitan dengannya masih ditanyakan pluralitas dan toleransinya. Ngomong2 soal pluralitas, semua yg ngomong pluralitas di sini bullshit. Jangan ngomong soal pluralitas atau toleransi, jika perbedaan seperti ini saja bisa bikin saling hujat.

  26. susan berkata:

    Bener banget..saya dulu jg ngalamin pacaran beda agama..dan saya sadar klo itu emang salah..klo dr awal qita udah tau itu salah,ga pantes qta jalanin nyaa..
    Pernikahan beda agama tetap j haram dimata islam..zinah masuk nya..dan saya menyesali saat baapak nya cahyo. Beradu argumen tdk bs menjawab..
    Pembuat film ini meragama islam..tp tdk tau norma2 agama islam

  27. tini berkata:

    Sebenrnya tulisan diatas yg berisi kutipan2 pendapat org ada yg salah..cth nya..om diana blg : smoga mrk mw mencontoh kita”, seinagt sy bukan it..tapi ” kita adalah contoh yg buruk, tp klo mrk memilih bsama, mrk bisa mjdikan kita sbgai contoh..dan cth lain diana memaksa cahyo utk makan masakan lain di restoran smtara dia mmesan ba*i..mnrt sy bukn dia memaksa cahyo dgn sengaja, tapi kondisi dia pada saat it sedng ttekan n takut krn mrasa di tolak oleh keluarga cahyo dan mencoba mcari tw apa mgkin mrk mmg bisahidup bersama dlam perbedaan dgn contoh khidupan yg simpel aja , yaitu makan bsama. ya mmg film ini sedikit berlebihan, tll memaksa..mentang2 diana katolik trus makan favorit harus ba*i..di kehidupan nyata ya ga mungkin la kalo ada seorg muslim datng kerumah di suguhi ba*i..ya klo mmg ada pd saat it dirumah pasti di simpan jauh2..trus klo cahyo smpt bpikir utk pindah agama knp harus memilih mcoba makan makanan yg tidak halal..hihi tll memaksa mmg. cahyo jg sempat melempar ayat2 alkitab ke ibu diana..mnurut saya ayat it tidah pas disebutkan krn mrk blum menikah.
    tp sebagai penonton yg pintar pasti lah kita bisa ambil yg positif n negative dr film ini..nikmati aja crita dan acting artisnya nya..tp jgn ambil makna negativ nya..

  28. Hikari berkata:

    Indonesia bukan negara dgn agama tertentu, semua orang berhak mengeluarkan pendapatnya dan g ada yg berhak melarang dan menghina orang lain hanya karena mereka punya pendapat masing-masing.
    Film ini dr awal kan ada sinopsisnya yg jelas banget bahasannya, kalo nggak suka jgn nonton.
    Kalo msh nonton, ya g usah sinis dan ngatain agama siapa2.
    itu sih pelajaran yg bisa diambil.

  29. leonardfresly berkata:

    Hanung emang sutradara yang berani mengambil resiko dan keluar dari pasar

  30. yan berkata:

    Ni yg bilang Diana org minang apa sdh nonton filmnya???? Diana berasal dari Minang tapi aslinya dia orang Manado dan kedua org tuanya asli Manado. Karna kerjaan dia Pindah ke Padang dan diana d besarkan di Padang….parah amat blm nonton kok komennya sampai segitu

    • Natasia Sur'abi berkata:

      Nahhhhh ini baru bener! Nonton dulu lah sebelum komen, belom tau filmnya tapi udah main ngejudge asal aja

  31. Mine berkata:

    ada yang tau cara bikin mod di gta sa xtreme indonesia?

  32. oyin berkata:

    kenapa banyak komentar yang aneh-aneh ya? hehe kalau semua mengakui toleransi dan sudah khatam dengan budayanya, senggol dikit harusnya gak masalah dong? hehe lagipula yang komentar juga belum tentu nonton dan benar-benar mendapatkan makna aslinya kan? santai saja, jangan pakai urat hehehe

  33. nobita berkata:

    Ketuhanan Yang Maha Esa-nya mana mbak mas? :–) selalu kalau agama selain muslim yg ditonjolkan pada rasis. Masih ingat Pancasila pan? atau jgn” ga hafal sila silanya? sekolah lagi gihh :’v

  34. audry berkata:

    Hanung pandangannya kurang cerdas tuh untuk buat pesan moral. Harusnya ditanya tujuannya cerita ini apa, baru deh ketahuan kenapa ceritanya begini. Apakah ceritanya untuk mencari titik temu antara cinta beda agama, rasa aku sih kurang tepat ya. Karena cinta beda agama aja udah salah dari sononya, harusnya kalo buat cerita begini lebih titik tekan ke kesalahan mereka yg gak mau rasional sejak awal, dan kesulitan yg mereka dapet ya sebagai akibatnya. Walaupun pada akhirnya kita tolerir juga keadaan mereka secara manusiawi ya, secara juga kan manusia bisa buat kesalahan, tapi sepantasnya lah dibuat kisah yang lebih menonjolkan pembelajaran, bukan mendobrak sana sini seakan mereka yang terzolimi gitu lho..

  35. pangestu berkata:

    Kesalahan kalian yg udah kalian akui adlh kalian blm liat filmnya secara keseluruhan tapi udah judge duluan..terbawa “provokasi” yg terlebih dulu tersebar…sebenernya smua yg di permslhkan bisa terjawab smua dengan jelas jika liat filmnya,saya pun bisa juga berikan rinciannya…tapi percuma,ini kasus lama..males juga kalo diperpanjang lagi…saya skrg komen juga karna kebetulan tak sengaja liat artikel ini,dan geli liatnya…makanya “tergelitik” pengen sedikit komen….isu agama memang gampang bgt mancing polemik…tinggal “lempar” sedikit provokasi udah jadi….dan parahnya byk “sumbu pendek” yg dengan mudah tersulut “api provokasi” dari oknum2x yg berpikiran sempit…☺
    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s