Fajar

fajar and meDua hari ini saya menunggui anak saya yang bungsu, Fajar, sakit. Badannya panas dan sering muntah-muntah. Tiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam perutnya selalu dimuntahkan kembali, termasuk obat yang baru diminum. Sudah tidak terhitung muntahnya sejak kemarin sehingga isi perutnya sudah habis dimuntahkan, bahkan sampai muntahnya bercampur darah karena sudah tidak ada lagi isi lambungnya yang dikuras. Obat yang diberikan oleh dokter anak langganan saya, Dokter Nurrachim, sudah hampir habis, tetapi kemarin panasnya belum juga turun. Dengan perasaan khawatir saya mendatangi kembali dokter karena Fajar muntahnya tidak pernah berhenti. Karena khawatir deman berdarah, dokter menyarankan saya periksa darah di lab sore itu juga. Sore-sore hujan gerimis saya langsung membawa Fajar ke klinik Medika Antapani dengan becak untuk diambil sampel darahnya. Setelah sSetengah jam menunggu hasil tes lab keluar, dan alhamdulillah semuanya normal. Saya sedikit bernapas lega. Sekarang panasnya sudah turun dan sudah mau makan meskipun sedikit. Untunglah Fajar tidak muntah lagi dan mulai tampak ceria.

***********

Sambil duduk terkantuk-kantuk saya mengisi blog ini setelah seminggu lebih kosong. Saya merenungkan Fajar sambil mengingat masa-masa yang lalu. Anak saya yang terakhir ini lahir menjelang waktu subuh sehingga saya beri nama “Fajar”. Baru seminggu dia lahir dia harus masuk rumah sakit untuk disinar (karena kekurangan zat bilirubin). Kulitnya kuning karena kurang mendapat sinar matahari. Bulan Desember yang sering hujan sangat kurang cahaya matahari sehingga setiap dijemur ibunya pada pagi hari kurang mendapat sinar yang optimal.

Fajar masuk rumah sakit menjelang tahun baru. Bayangkan bayi yang baru seminggu umurnya harus berpisah dengan ASI ibunya. Ibunya tidak diizinkan Rumah Sakit untuk menunggui bayi sebab para perawat di rumah sakit sudah bertugas menjaga bayi yang lahir prematur maupun bayi yang sedang mengalami proses penyinaran. Fajar ditempatkan di dalam boks yang disinari dengan lampu berwarna biru. Matanya ditutup kain supaya sinar lampu tidak merusak matanya. Selama tiga hari tiga malam dia harus disinar secara terus menerus. Selama tiga hari tiga malam itu pula saya bolak-balik ke rumah sakit untuk mengantarkan ASI yang dipompa dari payudara ibunya. Jadwal mengantar ASI adalah tiga kali sehari, yaitu pagi, siang dan malam hari. Kadang-kadang ketika produksi ASI berlimpah saya mengantarkan ASI pada jam 01.00 dinihari sebab ibunya menahan sakit pada payudara bila ASI tidak dikeluarkan. Ketika orang-orang meniup terompet pada malam tahun baru saya malah menembus malam yang dingin mengantarkan ASI ke rumah sakit.

Kenangan mengantarkan ASI ke rumah sakit itu sangat membekas sehingga anak ini agak istimewa dalam pandangan saya. Namun, ada satu peristiwa yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup dan peristiwa itu menjadi titik balik perhatian saya yang sedikit lebih kepada Fajar. Peristiwa itu sangat dramatis dan hampir-hampir saya tidak akan pernah bertemu anak ini lagi selama-lamanya.

Begini ceritanya. Ketika itu Fajar masih berumur hampir empat tahun. Hari minggu pagi saya membawa anak-anak pergi bermain di Taman Lalu Lintas di Jalan Belitung. Tiga orang anak, termasuk Fajar, saya bawa naik angkot ke taman itu. Ibunya tidak ikut sebab sedang ada tamu yang datang. Puas bermain di sana kami bersiap untuk pulang, namun hujan turun dengan derasnya. Terpaksalah saya dan anak-anak menunggu hujan berhenti dulu.

Setelah hujan berhenti, banjir cileuncang menggenangi jalan-jalan di kota Bandung. Saya dan anak-anak berjalan di atas trotoar yang juga tertutup banjir. Saya harus mengawasi ketiga anak itu berjalan supaya tidak jatuh. Seorang di depan dan dua orang di belakang. Fajar berjalan di belakang saya. Disinilah letak kelalaian saya, saya tidak membimbing Fajar karena perhatian saya juga terpecah kepada kakaknya yang berjalan di depan.

Banjir cileuncang yang cukup deras itu membuat trotoar tidak lagi kelihatan. Saya tidak tahu kalau di atas trotoar itu ada lubang gorong-gorong yang tidak ditutup. Tiba-tiba anak saya yang nomor dua berteriak: “Yah! Adek jatuh”. Saya lihat ke belakang Fajar menjerit menggapai-gapai: “Ayaaahhh…!”. Kakiknya terperosok ke dalam lubang gorong-gorong, tangannya menggapai-gapai. Ya Allah, saya sangat kaget. Saya segera berlari mengejarnya dan meraih tangannya. Telat beberapa detik saja dia mungkin sudah hanyut dilarikan oleh air deras di dalam gorong-gorong, dan mungkin saja saya tidak akan bertemu lagi Fajar selama-lamanya. Saya peluk dia dan saya sesali kelalaian saya menjaganya. Ampuni Hamba, Ya Allah.

Saya mengucap pji syukur Fajar selamat dari kejadian yang mendebarkan itu. Tuhan masih sayang kepada saya sehingga anak saya masih berada di samping saya. Hingga sekarang kejadian itu selalu terbayang-bayang dalam benak saya. Sejak peristiwa hampir hanyut itu saya sudah berjanji kepada Tuhan untuk selalu menjaga dan mengawasi Fajar. Pun seperti saat sakit seperti sekarang saya membatalkan acara saya karena ingin selalu berada di dekatnya. Tuhan mengamanahkan anak kepada kami dan kami tidak boleh lalai menjaganya.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Fajar

  1. noor berkata:

    Semoga sehat selalu pak,

  2. ikhwanalim berkata:

    semoga sang Fajar selalu sehat, aamiin🙂

  3. Ping balik: Cacar Air | Catatanku

  4. todi berkata:

    semoga selalu dalam lindungan ALLAH SWT Bapak dan keluarga, aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s